Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 11:56 WIB | Senin, 19 Maret 2018

Pakis Sayur, Tumbuhan Liar Kaya Antioksidan

Pakis sayur (Diplazium esculentum). (Foto: tropicalplantbook.com)

SATUHARAPAN.COM – Pernah merasakan masakan pakis sayur? Pakis atau paku sayur, menurut Wikipedia, merupakan sejenis tumbuhan paku atau pakis, yang biasa dimakan ental mudanya sebagai sayuran oleh penduduk Asia Tenggara dan kepulauan di Samudera Pasifik.

Dalam tradisi kuliner Nusantara, pakis sayur cukup menonjol pemanfaatannya di beberapa daerah. Masyarakat Minangkabau, misalnya, mengenal gulai pakis yang gurih dan rendang yang sangat lezat. Bahkan di daerah Pasaman, rendang pakis menjadi menu wajib dalam setiap perhelatan.

Di dalam tadisi kuliner Pontianak, pakis dimanfaatkan dalam bentuk tumisan, biasa dicampur dengan ebi atau udang. Di Kalimantan Tengah, dikenal dengan nama kelakai, dibuat aneka sayur atau bahkan keripik kelakai. Di Bali, sayur pakis kerap diolah sebagai urap yang dinamakan jukut urab.  

Pakis sayur inipun, banyak dikenal di beberapa negara sebagai sayuran, misalnya India, Nepal, sampai di beberapa daerah di Amerika dan Kanada.

Paku sayur, seperti dikutip dari Makalah Etnobotani “Tumbuhan Liar sebagai Sayuran”, dari Jurusan Biologi FMIPA Universitas Halu Oleo Kendari, Sulawesi Tenggara, 2015, adalah sayuran lokal yang saat ini banyak ditemukan dan dikonsumsi masyarakat. Jenis sayuran ini tidak dibudidayakan secara khusus, dan beberapa di antaranya merupakan tumbuhan sayuran hutan yang bersifat endemik, yang tumbuh liar tanpa campur tangan manusia.  

Selain dimanfaatkan dalam beberapa tradisi kuliner, pakis sayur ini juga dikenal sebagai tanaman obat, dan sudah dipercaya mampu menyembuhkan beberapa jenis penyakit. Di China, tumbuhan pakis sudah seperti kebutuhan sehari-hari bagi sebagian besar masyarakat. Daun pakis dipercaya berkhasiat untuk menyembuhkan luka, karena kandungan vitamin C-nya cukup tinggi.

Nur Andarwulan dan RH Fitri Fradilla dari South East Asia Food and Agricultural Science and Technology Center, Institut Pertanian Bogor (IPB) Bogor, dalam buku Senyawa Fenolik pada Beberapa Sayuran Indigenous dari Indonesia (Penerbit Seafast Center IPB, 2012), dikutip dari seafast.ipb.ac.id, meneliti kandungan asam fenolat  pada 24 jenis sayuran indigenous Indonesia yang berasal dari Jawa. Salah satu di antaranya pakis sayur.

Senyawa polifenol yang ada di sayuran, buah-buahan, dan teh, menurut dua peneliti itu, dapat mencegah penyakit degeneratif. Salah satu senyawa polifenol yang banyak terdapat pada sayuran, yaitu flavonoid dan asam fenolat. Asam fenolat merupakan antioksidan yang sangat kuat dan memiliki aktivitas  antibakteri, antivirus, antikarsinogenik, antiinflamasi, dan aktivitas vasodilatory. Selain itu asam fenolat juga mempunyai peranan untuk melindungi dari kanker dan penyakit jantung.   

Berdasarkan penelitian, pakis sayur terbukti memiliki senyawa fenol tinggi yakni 61,56mg/100 gr, dan merupakan sumber antioksidan yang tinggi.  

Pemerian Botani Tanaman Pakis Sayur

Pakis sayur, dikutip dari pllbfmipaunlam.wordpress.com, tumbuh di tanah, dengan tinggi mencapai 2,5 m. Rimpang tegak, dapat mencapai 1 m. Bagian bawah ditutupi akar berwarna gelap, bagian atas pakis sayur ditutupi sisik, sisik bergerigi, berwarna cokelat gelap, ujung agak memanjang bertepi kehitaman.

Daun bergerombol di bagian ujung rimpang tegak. Panjang tangkai 50-70 cm, kehitaman pada bagian pangkal, memucat ke bagian ujung, tidak berambut tetapi bersisik di bagian pangkal. Helai daun keseluruhan berbentuk lanset, dengan sirip daun utama (pinnae) duduk menyirip pada tulang daun utama (costa).

Sirip daun utama berbentuk tumpul di bagian dasar, lancip di bagian ujung, terdiri atas sirip daun sekunder (pinnule) berbentuk lanset, mudah lepas, melengkung ke arah ujung tulang daun utama, mempunyai 8-10 tulang daun lateral. Sori memanjang, menempati hampir seluruh panjang tulang daun, dengan indusiun sempit di bagian tepi. Spora berbentuk ginjal.

Tumbuhan pakis juga bermacam-macam, ada yang tumbuh di daerah pengunungan dan ada juga yang didaerah rawa.

Pakis yaitu tanaman berbentuk rumpun, yang biasanya tumbuh baik didaerah kering dan lembap dan di bawah lingkungan yang teduh. Saat musim seminya (sekitaran April dan Mei), pakis akan menumbuhkan tunas daun muda yang masih tetap kuncup dengan bentuk ujung daun melengkung yang sama dengan kepala biola. Daun pakis muda yang dapat dipakai sebagai sayur biasanya sebelum daun itu jadi mekar.

Tumbuhan pakis adalah merupakan salah satu kelompok tumbuhan yang tertua yang masih dapat di jumpai di daratan. Diduga tumbuhan paku merupakan tumbuhan berkormus tertua yang menghuni daratan bumi.

Pakis sayur memiliki nama ilmiah Diplazium esculentum. Dikutip dari stuartxchange.org, pakis sayur memiliki nama lokal yakni dhenkir shaak (Bengali), guo gou cai jue (China), fougere a legume (Prancis), ho'i'o (Hawai), pakis sayur (Indonesia), linguda, kothira (India), kuware-shida (Jepang), phak kuut khaao (Thailand). Di Filipina, tumbuhan ini disebut paku-pako-paco, dan Malaysia biasa disebut pucuk paku.

Pakis sayuran (Diplazium esculentum) dikutip dari  gardeningknowhow.com, adalah spesies yang ditemukan dan digunakan di Asia Timur sampai Asia Selatan dan Oseania.

Di China, tumbuhan pakis sayur sudah seperti kebutuhan sehari-hari bagi sebagian besar masyarakat, karena daun pakis dipercaya berkhasiat untuk menyembuhkan luka. Hal itu dikarenakan kandungan vitamin C-nya cukup tinggi, yaitu 30 mg per 100 g. Fungsi vitamin C banyak berkaitan dengan pembentukan kolagen.

Di India itu, pakis sayur menjadi bahan utama dalam masakan kari, dan di Filipina menjadi  makanan pokok. Di Jepang digunakan dalam tumis dan dinamakan umum kuware-shida, dan dibuat acar. Selain dikonsumsi di India, daun muda direbus sebagai sayuran untuk efek pencahar. Daunnya juga digunakan untuk sakit kepala, nyeri, demam, luka, disentri, diare, dan berbagai infeksi kulit.

Manfaat Herbal Tanaman Pakis Sayur

Tumbuhan pakis  sayur dikutip dari avrdc.org, mengandung banyak serat dan nutrisi seperti, antioksidan, antiinflamasi, serat (fiber), kaya akan nutrisi mikronutrien, beta karoten, asam folat, mineral (Ca, Fe, dan P). Sumber kalsium, fosfor, besi dan vitamin B. Mencegah penyakit kardiovaskular, kaya vitamin A sumber macronutrients, bahkan omega 3 yang biasanya terdapat pada ikan.

Tim peneliti dari  Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo Kendari Sulawesi Tenggara, dikutip dari uin-alauddin.ac.id, meneliti uji aktivitas antibakteri secara in vitro ekstrak etanol daun pakis sayur pada mencit jantan galur Balb yang diinjeksi Salmonella typhi.

Sayuran pakis sayur, dipercaya bisa menghambat pertumbuhan Salmonella typhi. Penelitian itu dilakukan untuk mengetahui pengaruh ekstrak etanol daun pakis terhadap tikus jantan yang telah terinfeksi bakteri Salmonella typhi. Sayuran ekstrak etanol daun pakis dengan 500 mg/kgbb dapat menurunkan 6,21 persen Salmonella typhi pada mencit jantan. Ekstrak etanol daun pakis daun dengan variasi dosis tidak signifikan menurunkan jumlah koloni bakteri pada tikus.

Tim peneliti dari Jurusan Farmasi Politeknik Unggulan Kalimantan dan Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin Kalimantan Selatan, meneliti dan menguji efek antiinflamasi ekstrak etanol herba pakis sayur  (Diplazium esculentum, Swartz) terhadap mencit jantan.

Herba pakis sayur secara empiris digunakan oleh masyarakat Kalimantan Tengah sebagai obat antiinflamasi. Penelitian itu dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui efek antiinflamasi ekstrak etanol pakis sayur yang diujikan dan mengetahui dosis yang dapat menunjukkan potensi sebagai antiinflamasi.

Hasilnya menunjukkan ekstrak etanol pakis sayur terbukti memiliki efek antiinflamasi terhadap mencit jantan yang diinduksi karagenin. Dosis potensial sebagai antiinflamasi adalah dosis ekstrak etanol 125 mg/kgBB.

Tim peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Islam Bandung, mengidentifikasi pakis sayur telah mengandung  aktivitas antioksidan yang  tinggi.  

Firda Asmaul Husna dari Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Negeri Malang , meneliti uji aktivitas antibakteri ekstrak methanol ental muda pakis sayur terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Escherichia coli secara in vitro. Pakis sayur telah banyak dikonsumsi dan digunakan oleh orang terdahulu untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Zat aktif pakis sayur berperan sebagai antibakteri sehingga dapat digunakan sebagai terapi alternatif infeksi bakteri.

Hasil observasi di Rumah Sakit Syaiful Anwar Malang Jawa Timur pada bulan November 2015 menunjukkan jumlah pasien yang terinfeksi Staphylococcus aureus dan Escherichia coli meningkat dari tahun 2013 ke tahun 2014. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh pemberian ekstrak metanol ental muda pakis sayur dalam berbagai konsentrasi telah menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Escherichia coli secara in vitro.

Konsentrasi ekstrak metanol ental muda pakis sayur yang menghasilkan zona hambat paling besar dalam menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus adalah konsentrasi 100 persen, sedangkan konsentrasi ekstrak ental muda pakis sayur  yang menghasilkan daya hambat paling besar pada pertumbuhan Escherichia coli adalah konsentrasi 70 persen.

Adanya zona hambat yang terbentuk dikarenakan pakis sayur menghasilkan senyawa metabolit sekunder berupa alkaloid, terpenoid, dan saponin yang dapat merusak dinding sel dan mengganggu permeabilitas membran.

Tim peneliti dari Jurusan Farmasi Universitas Uttaranchal Dehdarun Uttarakhand India, meneliti aktivitas antibakteri dari pakis sayur yang dipublikasikan dalam Jurnal Farmakogonos 3(21):77-79 Tahun 2011. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menyaring berbagai tanaman yang dilakukan pada aspek antimikroba.  Jadi, untuk mengeksplorasi keampuhan tanaman ini, penelitian berikut telah dilakukan.

Ekstrak pakis sayur dan alkohol diuji terhadap pertumbuhan beberapa bakteri patogen manusia dan tumbuhan seperti Eschericia coli, Salmonella arizonae, Salmonella typhi, Staphylococcus aureus. Hampir semua ekstrak terbukti efektif melawan bakteri ini. Hasil positif yang didapat dibandingkan dengan antibiotik standar referensi Tetracycline.

Ditemukan bahwa ekstrak bila dicampur dalam proporsi yang sama dengan antibiotik lebih efektif melawan bakteri daripada antibiotik saja.

Editor : Sotyati

Back to Home