Loading...
INSPIRASI
Penulis: Katherina Tedja 01:00 WIB | Selasa, 20 Januari 2015

Perhelatan Agung

Sesungguhnya mereka tetap ada... bukan hanya pada hati dan kenangan.
Foto: istimewa

SATUHARAPAN.COM – Dunia terperangah… Indonesia berduka… kehilangan begitu banyak pejuangnya pada penerbangan QZ8501 yang karam di selat Karimata….

Sebagian besar dari mereka hanya ingin berlibur sedikit lebih jauh… sedikit beranjak dari mal-mal dalam negeri untuk mengintip mal dan tempat wisata di luar negeri. Sebagian lain mungkin dalam perjalanan rutin mereka yang tidak terlalu istimewa… hanya dekat saja… namun, ternyata mereka pergi jauh… jauh … dan tidak terjangkau lagi…

Bagi kerabat dari penumpang yang tidak ditemukan… biarlah tersisa asa… semoga mukjizat terjadi… Bagi keluarga dan sahabat dari penumpang yang telah ditemukan… ah… apa yang dapat saya katakan… hati saya turut hancur….

Tanyakan kepada orang-orang yang ditinggalkan kekasih hatinya, betapa menghujam kesakitan karena ditinggal pergi….

Kehilangan awal saya adalah ketika Oma memejamkan mata untuk selamanya. Dengan tak percaya saya menatap wajah cantik yang tampaknya sedang tertidur lelap itu… Oma hanya berusia 65 saja, ayu dengan rambutnya yang masih hitam dan geligi utuh yang rapih. Beliau masih melayani meja makan kami dengan kebanggaan dan keriangan yang sama seperti dahulu ketika beliau melayani resepsi ratusan orang….

Hati saya berharap dan berbisik: Oma bangun… Oma bangun… hingga akhirnya peti jenazah dipatri dan saya tahu oma tidak akan kembali lagi…

Beberapa tahun kemudian Tante Galak menyusul. Hidup yang dijalani Tante Galak selalu penuh perjuangan dan tidak pernah mudah. Mungkin itulah yang membuat Tante Galak menjadi galak. Namun, Tante menghadapi hidup dengan berani dan mengasihi dengan tulus dan utuh. Ketulusan yang terus menghangati hati saya sampai sekarang….

Akhir dari kehidupan Tante pun terasa getir… dia mengalahkan kanker yang menggerogoti rahimnya dengan cara menolak untuk merasakannya lagi. Dan Sang Ilahi menolongnya… Tante melepaskan semua beban dan kesakitannya. Namun, diam-diam saya menyalahkan diri karena tidak dapat berbuat banyak untuk menolongnya… saya terombang-ambing oleh gelombang duka dan tenggelam di dalam kegelapan paling kelam….

Tetapi kisah itu menguatkan saya… inilah kisah yang dituturkan Bapak Pendeta Senior yang masih setia melayani mimbar hingga sekarang… diceritakan pada pemakaman Tante Galak….

Abad ke 18 di Eropa. Seorang gadis yatim piatu dipanggil kepala panti asuhan. Sang gadis diperintahkan untuk berkemas karena tante dari gadis tersebut berhasil menemukannya, dan telah mengirimkan kereta kuda untuk menjemputnya.

Kereta kuda itu berwarna hitam… sais yang mengendarai kereta tampak tidak bersahabat… Dan perjalanan panjang yang memakan waktu berhari-hari itu… melalui jalan bergelombang yang mengguncang tubuh ringkihnya tanpa belas kasihan.

Kemudian suatu pagi kereta kuda itu berhenti. Sang gadis beranjak takut-takut keluar dari kereta dan menatap sebuah kastil indah bermandikan cahaya mentari… Dan Tante dari sang gadis berlari menghampiri dan mendekapnya dengan pelukan menenteramkan….

Begitulah perjalanan hidup Tante Galak, menurut Bapak Pendeta… Perjalanan hidup dapat mengambil banyak bentuk…. Namun, pada akhirnya… tujuannya yang penting… Perjalanan hanya sementara… namun hidup kita abadi… karena Sang Pemberi Hidup adalah abadi.

Karena itu, taburkanlah bunga dan wewangian… ucapkanlah selamat tinggal kepada jasad semua kekasih hati yang mendahului kita…. Sesungguhnya mereka tetap ada… bukan hanya pada hati dan kenangan.

Oma… Tante… Pa… Ma… Opa… Oom… dan beberapa sahabat… Saya dapat melihat mereka dengan mata hati… duduk di sekeliling meja perjamuan… menatap dengan takjub kepada Sang Kekal itu… Tuan dari Perhelatan Agung.

 

Editor: ymindrasmoro

Email: inspirasi@satuharapan.com


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home