Loading...
RELIGI
Penulis: Equivalent Pangasi 14:19 WIB | Senin, 12 Mei 2014

PGI Tidak Serahkan Emas, Pak Larso Tidak Bersalah

Pdt Dr Yohanes Setiawan (kiri), Pdt Prof Jan S Aritonang PhD (tengah), dan Pdt Em Prof Dr Sularso Sopater (kanan) dalam bedah buku "Setia di Jalan Ketulusan" dalam rangka perayaan ulang tahun ke-80 Pdt Em Prof Dr Sularso Sopater. (Foto: Equivalent Pangasi)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Pada perayaan ulang tahun ke-80 Pdt Em Prof Dr Sularso Sopater, Sabtu (10/5) di aula Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta, Pdt Weinata Sairin, MTh mengirimkan sebuah pesan singkat, “PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, Red) tidak pernah menyerahkan emas. PGI tidak terkooptasi oleh pemerintah.”

Weinata merupakan salah satu penulis dalam buku Setia di Jalan Ketulusan, sebuah kumpulan tulisan untuk memperingati ultah ke-80 Pdt Sularso Sopater. Berhalangan mengikuti acara hingga akhir, Weinata menyampaikan pesannya melalui Pdt Prof Jan Sihar Aritonang, PhD yang menjadi pembahas buku. Weinata merasa perlu memberikan klarifikasi atas peristiwa pemberian emas kepada mantan Presiden Soeharto pada tahun 1998.

“Yang penting dari tulisan saya dalam buku Pak Larso adalah bahwa PGI melalui Pak Larso mendampingi umat mengantarkan emas sebagai wujud solidaritas umat Kristen terhadap krisis yang dialami bangsa. Pak Larso tidak bersalah dalam konteks itu,” kata Weinata.

Pak Larso – demikian ia biasa disapa – menceritakan kronologi pemberian emas pada masa krisis moneter tahun 1998 itu.

“Waktu itu saya bersama ketua PGI, dirjen Bimas Kristen, dan pimpinan lainnya berkunjung ke Jl Cendana, ke rumah Pak Harto. Gereja-gereja memang tugasnya berdoa bagi pemerintah. Dan saat itu saya bersama rekan-rekan berdoa,” Pak Larso mengisahkan.

Ia meneruskan, “di samping itu ada Drs Titus Kurniadi yang mewakili umat pada saat itu merespons tanggapan PGI, apakah umat ingin berkontribusi sumbangan. Tetapi, tugas pimpinan gereja adalah berdoa. Itulah gambaran mengenai bagaimana gereja-gereja berada di tengah-tengah pergolakan hidup.”

Selanjutnya Pak Larso mengisahkan bagaimana pemberitaan media membuat kesan yang berbeda sehingga PGI dianggap telah memberikan emas.

“Beritanya menjadi berbeda karena angle pengambilan gambarnya. Saat itu kami bersama-sama menyaksikan Drs Titus Kurniadi menyerahkan emas dua kilogram. Namun, ketika disiarkan, foto saya di-blow up terus-menerus. Berikutnya gambar tangan yang menyerahkan emas kepada Pak Harto dibuat kabur dan gambar orang yang menyerahkannya tidak diperlihatkan. Jadi kesannya Ketua Umum PGI di situ sedang menyerahkan emas,” kata Pak Larso.

Maka dalam pesan singkatnya, Weinata menegaskan, “jika hingga kini masih ada umat Kristen yang mengatakan PGI serahkan emas dan terkooptasi oleh pemerintah, pandangan tersebut salah! Harus diklarifikasi!”

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home