Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 06:31 WIB | Sabtu, 15 Juli 2017

Siapa Bertelinga, Hendaklah Ia Mendengar!

Kita jenis tanah yang mana?
Mari mendengar! (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – ”Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:9). Demikianlah kalimat yang meluncur dari mulut Yesus. Keras kedengarannya. Tanpa tedeng aling-aling. Mengapa?

Kenyataannya, tak sedikit orang lupa bahwa bertelinga. Telinga—kata anak muda era 80-an—menjadi sekadar cantelan. Sebab mereka punya telinga, namun tak mau mendengar.

Atau, yang sering terjadi juga ada orang yang hanya mau mendengar apa yang ingin mereka dengar. Sikap begini aneh. Sebab telinga bukan mata. Tak ada kelopak telinga, yang ada daun telinga. Jika mata dapat memilih apa yang mau dia lihat, telinga tidak mempunyai perangkat yang dapat menyeleksi apa yang ingin didengarnya.

Yang lebih sering terjadi ialah suara masuk telinga kiri ke luar telinga kanan. Cuma numpang lewat. Nggak ada pengaruhnya sama sekali. Cuek. Kalaupun berkomentar: ”Emangnya gue pikirin!”

 

Jenis Tanah

Kalimat ”Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” berkait erat dengan perumpamaan Yesus perihal seorang penabur (Mat 13:1-8). Awal kisah penabur ini menarik untuk dikaji: ”Adalah seorang penabur yang keluar untuk menabur.” (Mat 13:3).  

Seorang penabur pastilah menabur. Jika tidak menabur, maka tak layak dia menyebut diri penabur. Kalau hanya berpangku tangan setiap hari, dia lebih cocok disebut penganggur ketimbang penabur.

Ya, ada penabur sedang menabur. Penabur berpengalaman pasti menaburkan benih bermutu. Awal dari usaha tani adalah mutu benih. Jika mutunya baik, kita dapat mengharapkan hasil baik. Dan kisah ini memang tidak hendak menyoroti Sang Penabur, atau soal benih yang ditabur, namun lebih pada jenis tanah di mana benih tersebut tumbuh.

Benih itu adalah firman tentang Kerajaan Allah. Dan jenis tanah yang beragam itulah kondisi manusia yang mendengarkan Firman Allah itu.

Ada empat jenis tanah: pinggir jalan, tanah berbatu, tanah yang penuh semak duri, tanah yang baik. Dan semua jenis tanah itu menggambarkan hal yang sama, yaitu orang-orang yang mendengarkan firman tentang Kerajaan Sorga.

Sekali lagi, semua jenis tanah itu menggambarkan orang-orang yang mendengarkan firman tentang Kerajaan Sorga. Semuanya sama-sama mendengar. Namun, persoalannya: (1) ada yang menganggap sepi; (2) ada yang antusias, namun tidak terlalu berakar dalam hatinya; (3) ada yang mengerti, tapi meragukannya, dan (4) orang yang mengerti dan menerimanya dalam hatinya.

Tampak di sini, meski sama-sama mendengarkan berita tentang Kerajaan Sorga, namun tanggapannya berbeda-beda. Dari yang cuek bebek hingga yang sungguh ingin memahaminya karena sungguh penting.

Tak heran, Sang Guru dari Nazaret menegaskan: ”Siapa bertelinga hendaklah ia mendengar!”

 

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home