Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 10:56 WIB | Sabtu, 10 Februari 2018

Wadyabala Gelar Pameran "Semangat Seni Grafis"

Wadyabala Gelar Pameran "Semangat Seni Grafis"
Karya grafis Agus Sriwidodo dengan teknik hardboard cut berjudul Mimpi Terbang pada pameran " Semangat Seni Grafis" di Jogja Gallery Jalan Pekapalan No. 7, Kraton-Yogyakarta, 7-18 Februari 2018 (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Wadyabala Gelar Pameran "Semangat Seni Grafis"
Karya panel grafis Edi Sunarya berjudul "Mandala" (kiri) dan "Garuda" (kanan).

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Alumni Akademi Seni Rupa Indonesia angkatan tahun 1983 yang tergabung dalam Wadyabala 83 menggelar pameran seni rupa bertajuk "Semangat Seni Grafis" di Jogja Gallery. Beragam karya grafis dalam berbagai teknik, medium, dan dimensi dipamerkan oleh 19 anggota Wadyabala.

Pameran dibuka oleh kolektor barang seni Oei Hong Djien, Rabu (7/2) malam. Seniman grafis yang terlibat di antaranya Andang Suprihadi, Bedjo Muljono, Bing Bedjo, Dwi Maryanto, Yamyuli Dwi Iman, serta pegrafis perempuan Nunung Murdjanti, memamerkan karya lama hingga karya terbarunya.

Seni grafis Indonesia memiliki sejarah yang panjang. Kehidupan seni grafis, lebih kurang hampir seumur dengan kehadiran institusi pendidikan tinggi seni rupa di Indonesia. Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta, diresmikan pada 15 Januari 1950. ASRI kemudian menjadi Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) “ASRI” Yogyakarta (1968), dan sejak 1984 menjadi Fakultas Seni Rupa, salah satu fakultas di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. 

Pada tahun 1940-an, sejumlah perupa seperti Baharudin Marasutan, Mochtar Apin, sudah aktif berkarya grafis. Tak banyak lulusan seni grafis ISI Yogyakarta, juga dari institusi pendidikan tinggi lain (IKJ, FSRD ITB, atau ISI Denpasar) yang menekuni dan mengembangkan seni grafis sebagai medium utama dalam kapasitasnya sebagai perupa.

Pada HUT RI tahun 1946, negara membuat cetakan seni grafis dari beberapa seniman untuk hadiah kepada negara-negara sahabat yang telah memberikan pengakuan kedaulatan Indonesia dengan karya seni grafis Indonesia.

Dalam seni grafis dikenal beberapa teknik di antaranya cetak saring/halang, cetak tinggi, cetak, datar, serta cetak dalam. Dengan bermacam teknik, bermacam alat, bahan, akan menghasilkan efek karya grafis yang beragam pula. Ini menjadi eksplorasi kreativitas seniman grafis

Eksplorasi teknik grafis terus berkembang salah satunya dengan teknik reduksi (woodcut/hardboard reduction print). Di balik keterbatasan jumlah karya yang dicetak teknik reduksi justru memungkinkan adanya tekstur yang dihasilkan dari tumpukan tinta sebelumnya. Tumpukan tersebut oleh seniman sering diolah menjadi suatu yang lain meskipun dalam hal presisi tidak bisa sesempurna yang dihasilkan mesin ataupun teknik multi-klise.

Dengan karakteristik tersebut, teknik reduksi bisa dikatakan mendekati karya lukisan yang memiliki keunikan secara visual. Agus Sriwidodo memanfaatkan teknik tersebut dalam karya "Mimpi Terbang" di atas medium kertas. Hal yang sama dilakukan Yamyuli Dwi Iman pada karya "Last Canda", "Menari di atas Sendal Jepit", maupun Johan Suwondo pada karya grafis "Ikatan Karma". Baik Yamyuli maupun Johan Suwondo keduanya menggunakan medium kanvas.

Pegrafis Edi Sunarya yang juga pengajar seni rupa ISI Yogyakarta memamerkan dua karya ukuran besar berjudul "Garuda" dan "Mandala". Karya grafis dengan teknik woodcut di atas kanvas berukuran 2,8 m x 5,0 m terdiri atas sepuluh panel karya dengan desain yang bersambungan. Sementara pegrafis Sugeng Restu Adi selain memamerkan karya grafis dua dimensi juga memamerkan karya grafis tiga dimensi salah satunya berjudul "Pocong ha... ha... ha...". Y Eka Suprihadi memamerkan dua karya lama tahun 1996 dalam teknik lukgraf  salah satunya berjudul "Ojo Dumeh".

Tidak seperti seni lukis maupun seni patung dan seni kriya, perkembangan seni grafis sejak tahun 1980-an ibaratnya hampir-hampir seperti kepulan asap yang apinya tidak kelihatan dan sesekali sirna tertiup angin. Pameran "Semangat Seni Grafis" yang digelar Wadyabala 83 menjadi kritik halus bagi pegrafis Indonesia khususnya Yogyakarta melalui pameran karya grafis agar apinya kembali menyala, mengepulkan asap untuk bisa dilihat, beruntung jika mampu membakar api semangat di tengah kelesuan dunia seni grafis Indonesia dan dunia.

Pameran karya Wadyabala 83 bertajuk "Semangat Seni Grafis" berlangsung hingga tanggal 18 Februari 2018 di Jogja Gallery Jalan Pekapalan No. 7, Kraton-Yogyakarta.

Editor : Sotyati

Back to Home