Loading...
INSPIRASI
Penulis: Suyito Basuki 01:00 WIB | Rabu, 07 Mei 2014

Belajar dari Kematian Jam Dinding

Foto: ymindrasmoro

SATUHARAPAN.COM – Jam dinding di kamar tidur saya mati. Saya ganti baterainya dengan baterai baru. Jam itu hidup beberapa hari, kemudian mati lagi.  Sekarang ini, saya biarkan saja dalam kondisi mati.  Untuk keperluan melihat waktu, saya mengandalkan jam dinding yang ada di ruang keluarga, selain jam tangan yang setia nempel di pergelangan tangan kiri saya.

Ternyata, jam dinding mati tidak hanya persoalan dalam keluarga saya. Setiap kali saya bertandang ke rumah tetangga, hampir setiap keluarga memiliki jam dinding yang mati. Jam itu dibiarkan mati dengan berbagai alasan.

Manusia dalam menjalani kehidupannya kadang mirip jam dinding.  Ada kalanya segala sesuatunya berjalan dengan lancar. Dalam keadaan yang sehat, penuh rezeki, damai sejahtera menaungi, manusia bergembira. Namun, dalam keadaan kesedihan karena berbagai hal yang menimpa, sebagaimana jam yang rusak tadi, manusia sering kehilangan akal.

Contohnya: saat menghadapi penyakit yang tak kunjung sembuh; atau usaha pengembangan ekonomi yang tak kunjung ada hasilnya misalnya, manusia akan merasakan kesedihan. Jika akumulasi kesedihan itu menggunung dan tidak ada solusinya, sering kenekadan tindakan dengan ujud mencelakakan diri sendiri menjadi pilihan.

Ada persamaan dan perbedaan antara manusia dan jam dinding.  Baik jam dinding maupun manusia sama-sama diciptakan.  Perbedaannya: jika jam dinding rusak, penciptanya belum tentu tahu, sehingga tidak serta merta memberikan pertolongan.  Namun, pencipta manusia, Tuhan yang mahakuasa, dengan kemahatahuan-Nya senantiasa mengamat-amati manusia. Sehingga Dia dapat menolong memberikan solusi tepat pada waktunya.

Karena itu, manusia—yang memang tidak lepas dari berbagai masalah dalam hidupnya—mestinya tidak gampang putus asa.  Ikhtiar, tawakal, dan sabar adalah pilihan yang harusnya dilakukannya.

 

Editor: ymindrasmoro

Email: inspirasi@satuharapan.com


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home