Loading...
EKONOMI
Penulis: Prasasta Widiadi 08:36 WIB | Kamis, 11 Desember 2014

BI: Industri Perbankan Masih Teruji Terhadap Krisis

BI: Industri Perbankan Masih Teruji Terhadap Krisis
Darsono, direktur eksekutif untuk kebijakan makro prudensial Bank Indonesia. (kiri) dan Agustinus Prasetyantoko (kanan) pada diskusi Kajian Stabilitas Keuangan bertema Menjaga Stabilitas Keuangan di Tengah Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi, di Gedung Bank Indonesia, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (10/12). (Foto-foto: Prasasta).
BI: Industri Perbankan Masih Teruji Terhadap Krisis
Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM Toni Prasetiantono (kiri) yang juga menjadi pembicara di diskusi Kajian Stabilitas Keuangan bertema Menjaga Stabilitas Keuangan di Tengah Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi.

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM  - Direktur Eksekutif untuk Kebijakan Makro Prudensial Bank Indonesia (BI), Darsono, mengemukakan industri perbankan di Indonesia masih teruji dengan baik terhadap krisis.

“Industri perbankan kita saat ini masih memiliki daya tahan yang sangat panjang dan cukup memadai karena beberapa (dari bank swasta dan pemerintah) telah melalui stress test yang menguji daya tahan perbankan kita,” kata Darsono pada  acara Diskusi Kajian Stabilitas Keuangan bertema Menjaga Stabilitas Keuangan di Tengah Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi, di Gedung Bank Indonesia, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (10/12).

"Setelah stress test dilakukan, bank-bank kita masih sehat. Hanya ada 1 bank yang NPL-nya melonjak sampai 5,75%," kata Darsono, yang enggan menyebutkan nama bank itu.

Saat ini BI melakukan uji ketahanan korporasi, karena industri besar membutuhkan kepastian pada nilai tukar mata uang.

“Dan kami memiliki data beberapa korporasi yang akan mengalami uncertain (ketidakpastian) apabila nilai tukar rupiah terus melemah,” Darsono menambahkan.

Bank Indonesia memperkirakan kredit macet akan meningkat pada akhir tahun ini menjadi 2,4 persen dari sisa pinjaman yang ada, naik dari 1,8 persen pada akhir 2013.

Bank sentral tersebut memperkirakan pertumbuhan pinjaman tahunan akan berada pada kecepatan terendah sejak 2010, pada 11 persen sampai 12 persen, atau lebih sedikit dari setengah angka tahun lalu yang mencapai 21,4 persen.

BI, kata Darsono menginginkan bank nasional harus memperlihatkan tingkat efisiensi. “Efisiensi perbankan Indonesia belum sebaik negara-negara tetangga,” Darsono mengakhiri penjelasannya.

Editor : Eben Ezer Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home