Loading...
LAYANAN PUBLIK
Penulis: Kartika Virgianti 15:32 WIB | Rabu, 09 Oktober 2013

Dialog Publik di Ragunan: Ciptakan Masyarakat Ramah Satwa

Usai acara Dialog Publik, Selasa malam (8/10), berfoto bersama para narasumber dan peserta. (Foto: Kartika Virgianti)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Joko Widodo, menaruh perhatian ekstra bagi pengembangan Taman Margasatwa Ragunan (TMR) menuju kebun binatang yang bertaraf internasional. Melaksanakan tugas yang diberikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Dewan Pengawas Taman Margasatwa Ragunan (TMR) di bawah kepemimpinan Hashim Djojohadikusumo, menyelenggarakan Dialog Publik  (8/10/2013).

“Oleh karena itu, Dewan Pengawas menyelenggarakan Dialog Publik ini, agar seluruh pemangku kepentingan dapat menyampaikan pikiran-pikirannya sebagai wujud tanggung-jawab bersama,” kata Hashim yang sejak 7 Mei 2013 ditugaskan menjadi Ketua Dewan Pengawas TMR, berdasarkan siaran pers Dialog Publik (8/10).

Selain dilakukan untuk memperoleh masukan dan pikiran publik, Dialog Publik ini diharapkan dapat menjaring pikiran para narasumber yang ahli dibidangnya agar TMR dapat dikembangkan menjadi sebuah kebun binatang bertaraf internasional dengan tetap menjadi BLUD (Badan Layanan Umum Daerah) yang mempunyai fungsi utama Lembaga Konservasi, Pendidikan dan Rekreasi.

Namun demikian Gubernur DKI Jakarta tetap mengharapkan bahwa Ragunan harus mengedepankan fungsi konservasi, dengan memperhatikan kesejahteraan satwa yang ada di sana, di samping fungsi pendidikan dan rekreasi yang bersifat pendidikan lingkungan, flora dan fauna. 

Topik-topik dialog dikawal oleh para narasumber ahli, yaitu:

1. Mr. Cameron Kerr, CEO Taronga Conservation Society, Australia

2. Sonny W. Widjanarko, Direktur SeaWorld Indonesia

3. Dr. Novianto Bambang, Direktur Konservasi dan Keragaman Hayati Kementerian Kehutanan Republik Indonesia

4. Endang Widjajanti, SE, MM, MSi, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Provinsi DKI Jakarta

5. Prof. Ir. H. Surna Tjahja Djajadiningrat, MSc., Ph.D., Guru Besar ITB di bidang Manajemen Lingkungan.

6. Dr. Willie Smits

7. Widodo Ramono

8. Jatna Supriatna, Ph.D

9. Eka Budianta, seorang penulis Indonesia cukup terkemuka yang juga pengamat lingkungan hidup, pelestari, pariwisata, pendidikan dan penulis kolom sosial politik, menjadi moderator Dialog Publik ini.

Adapun hasil dialog publik ini antara lain sebagai berikut:

1. TMR milik Negara Republik Indonesia, milik rakyat (tidak diswastakan).

2. TMR diharapkan menjadi yang terbaik di dunia.

3. TMR menajamkan fungsi konservasi, edukasi (pendidikan dan penelitian), dan rekreasi.

4. TMR berkomitmen menjalankan manajemen secara transparan, bisa diakses oleh publik dan tidak korupsi.

5. Menuju masyarakat ramah satwa dimulai dari pendidikan formal, nonformal dan informasi, memberi pemahaman dan menumbuhkan kepedulian kepada anak-anak (program kunjungan anak sekolah, memasukkan kurikulum ramah satwa,  museum satwa, duta satwa untuk anak, dan lainnya).

6. TMR memprioritaskan kesejahteraan satwa (pakan satwa, hari libur bagi satwa, mengendalikan polutan suara agar tidak mengganggu satwa, peningkatan kualitas dan kuantitas dokter hewan dan perawat satwa, strategi manajemen perawatan dan kesehatan satwa, membuat habitat sehat untuk satwa, dan lainnya.

7. Memperketat aturan dan pengawasan bagi pengunjung dan pedagang.

8. TMR membuka diri bagi partisipasi publik (sukarelawan, LSM, media, dan pihak lainnya) sesuai aturan, misalnya dengan adopsi flora dan fauna, pelatihan relawan, dan lainnya.

9. Sebagai lembaga konservasi TMR menargetkan akreditasi A dari Kementerian Kehutanan dan menjadi percontohan bagi taman margasatwa lainnya di Indonesia dalam waktu 2 (dua) tahun.

10. TMR memperhatikan keamanan dan ketertiban di dalam dan di sekitar area TMR, termasuk membuat buffer zone dan memasang CCTV (closed-circuit television).

11. TMR melakukan laporan pendataan satwa (dalam waktu 1 x dam 3 bulan), dan dilakukan pengawasan/verifikasi oleh badan independen (pihak ketiga) sekurang-kurangnya sekali dalam setahun.

12. Dalam menyusun masterplan, TMR akan melibatkan publik (misalnya dengan mengadakan sayembara desain) dan akan memperhatikan kelengkapan fasilitas (diutamakan terdapat 26 toilet, kelengkapan penanda/ papan penunjuk, inkubator, sarana bagi difable, perpustakaan, green building, alat transportasi yang tidak mengganggu satwa, optimalisasi perawatan satwa (kandang yang tepat), taman, alokasi pedagang.

13. TMR menerapkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk pengunjung sebelum memberlakukan kenaikan tiket masuk, dengan harga pertimbangan lebih tinggi untuk warga asing.

14. TMR akan membangun pusat penyelamatan (rescue center) satwa sitaan terutama untuk satwa yang sangat terancam kepunahan.

15. TMR bekerja sama dengan pihak berwenang dan pihak ketiga (independen) untuk pengelolaan satwa yang mati, yaitu dokter hewan yang ahli di bidangnya dalam menetapkan penyebab kematian hewan.

16. TMR memperhatikan kesejahteraan karyawan termasuk petugas keamanan dan perawat satwa.

17. TMR membuat perencanaan strategi komunikasi yang terencana dan berkesinambungan serta branding secara profesional.

18. Dalam rangka pelestarian satwa, TMR bekerja sama dengan pemerhati satwa dan lembaga konservasi lainnya melakukan tukar menukar satwa untuk rehabilitasi dan pelepasliaran satwa berdasarkan pertimbangan LIPI dan atas persetujuan Kementerian Kehutanan.

19. TMR bekerja sama dengan instansi/dinas terkait agar bisa mewujudkan layanan dan prasarana publik yang terpadu.

20. Untuk menyambut HUT ke-150, TMR akan membangun replika kebun binatang Cikini dan memasang patung Raden Saleh sebagai pendirinya.

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home