Loading...
DUNIA
Penulis: Diah Anggraeni Retnaningrum 16:48 WIB | Selasa, 08 September 2015

Gelombang (Masalah) Pengungsi Suriah

Petugas kepolisian sedang berjaga di area stasiun Bicske. (Foto: theguardian.com/Björn Kietzmann/Demotix/Corbis)

HONGARIA, SATUHARAPAN.COM – Gelombang pengungsi yang datang dari Suriah masih terus membanjiri kawasan Eropa dan Inggris hingga saat ini. Sebagian dari mereka berimigrasi karena ingin mencari penghidupan yang layak dan tempat yang aman karena konflik yang berkepanjangan.

Beberapa dari mereka berbondong-bondong pergi ke perbatasan Makedonia untuk dapat memasuki wilayah Hongaria, yang merupakan negara Uni Eropa. Begitu mereka mencapai Hongaria, mereka dapat melakukan perjalanan di seluruh Uni Eropa tanpa harus memperlihatkan dokumen resmi kepada petugas yang ada di perbatasan.

Pengungsi yang terdiri dari batita hingga manula ini menempuh perjalanan laut dan darat untuk mencapai daerah tujuan yang mereka inginkan. Sebagian besar pengungsi memilih untuk melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kereta atau bus. Namun, tidak sedikit juga dari mereka yang memilih untuk berjalan kaki.

Ketika mereka sampai di Hongaria, para pengungsi ini sebenarnya akan diarahkan ke kamp khusus pengungsi Suriah. Namun, mereka tidak mau. Bahkan, ratusan pengungsi bersikeras tidak mau turun dari kereta karena tidak ingin direlokasi pada hari Kamis (3/9) lalu.

Awalnya mereka sempat kebingungan karena kereta yang mereka tumpangi akan membawa mereka ke  Austria atau Jerman batal berangkat dan akhirnya terjadi penumpukan penumpang di stasiun kereta Keleti Budapest, Hongaria.

Namun, kereta itu berhenti di kota Bicske, di luar ibu kota, di mana polisi anti huru-hara sedang menunggu untuk membawa mereka ke kamp pengungsian yang sudah penuh sesak.

Salah satu pengungsi bahkan menarik istri dan anaknya yang masih bayi ke rel kereta api dan memohon polisi untuk tidak memaksa mereka ikut ke kamp. “Kami tidak akan pindah dari sini,” kata dia dengan berteriak berulang-ulang. Polisi kemudian memborgol pria itu dan mengamankannya.

Aksi Mogok Makan dan Buang Bantuan

Para pengungsi rupanya kesal karena keinginan mereka tidak terpenuhi untuk dapat mengungsi ke Jerman atau Austria. Mereka merasa ditipu dan akhirnya melakukan aksi mogok makan di wilayah stasiun dalam keadaan panas terik sambil meneriakkan: “Kami tidak akan ke kamp!” berulang-ulang kepada petugas kepolisian. Pengungsi lainnya bahkan terlibat bentrok dengan petugas.

Mereka juga menolak dan membuang minuman yang ditawarkan oleh petugas dan bersumpah untuk terus melakukan aksi mogok makan. Kemudian, relawan mencoba menawarkan mereka makanan tetapi tetap saja ditolak.

“Kami tidak membutuhkan makanan dan air. Kami hanya ingin pergi ke Jerman!” kata seorang pria sambil menutup jendela kereta di depan relawan.

Dari video yang dirilis di youtube, hanya sedikit dari anak-anak yang mau mengambil makanan dan minuman yang ditawarkan oleh relawan. Namun, sebagian besar menolak.

 

Lain halnya seperti yang terjadi di perbatasan Makedonia. Para pengungsi menolak bantuan dari petugas dan terus meneriakkan: “Kami tidak mau!”. Diduga, karena ada lambang palang merah tergambar di kardus bantuan tersebut yang bertentangan dengan keyakinan yang mereka anut. Pengungsi bersorak ketika para petugas akhirnya menjauh dan membawa kembali kotak-kotak bantuan kemanusiaan tersebut.

Kamp Pengungsi Tidak Layak

Di sisi lain, beberapa keluhan datang dari pengungsi yang telah merasakan tinggal di tempat-tempat pengungsian. Seorang ibu muda dengan tiga anak dari Tatabanya Hongaria mengatakan dia telah mengalihkan perjalanannya ketika mendengar siaran dari radio. Tadinya, dia berencana pergi ke stasiun Keleti untuk menaruh beberapa pakaian.

Namun, akhirnya memutuskan untuk memutar arah karena mendengar dalam siaran tersebut pengungsi yang ada di kereta akan direlokasi ke kamp pengungsian. Kondisi di kamp menurutnya adalah hal yang paling terburuk di Hongaria.

"Mengapa Hongaria menampung kita di sini ketika mereka tidak memiliki uang untuk merawat kita," tanya seorang pria asal Iran yang berumur 30 tahun. "Di sini kami mendapatkan 6.000 forints atau sekitar Rp 305.133 seminggu untuk hidup, kami tidak pernah mendapatkan makan malam, dan sering  air tidak mengalir. Saya telah di sini selama lima bulan, dan saya tidak pernah memiliki bantuan medis untuk ini, " kata dia sambil mengetuk kaki palsunya.

Sedangkan kondisi di terminal Budapest juga memburuk meskipun relawan banyak yang datang dengan mendistribusikan air, makanan, obat dan desinfektan.

The Associated Press melaporkan melihat balita di samping orang tuanya yang sedang tidur merangkak ke trotoar untuk makan remah roti. Di dekatnya, seorang anak tanpa pengawasan mengaduk-aduk tumpukan sampah. Ratusan orang bergantian mencuci rambut mereka, pakaian dan kaki dan menyikat gigi mereka dengan menggunakan pasokan air lima-lapis (five-tap) (tanpa sistem pembuangan kotoran) yang seharusnya disediakan untuk kebutuhan air minum bagi seluruh kamp.

Perdana Menteri Hongaria, Viktor Orbán, di Brussels dalam pembicaraan krisis pengungsi ini, membela taktik dingin pemerintah dan menambahkan bahwa politisi lain tidak harus mengkritik Hongaria untuk melakukan "kewajiban" di bawah peraturan Uni Eropa.

Tapi warga Hongaria menunjukkan ketidaksetujuan mereka terhadap cara para pengungsi diperlakukan. Di Budapest, beberapa orang pergi ke stasiun untuk membantu. "Saya hanya benar-benar malu terhadap pemerintah, bahwa mereka tidak membantu orang-orang ini sama sekali," kata Barbara Baranyai (31), yang telah mengumpulkan pakaian bayi, sepatu, buah, biskuit dan selimut di lingkungannya dan melakukan perjalanan sekitar 20 mil ke stasiun.

"Karena pidato kebencian yang diucapkan dari pemerintah Hongaria, mereka menjadikan orang-orang Hongaria menolak kehadiran para pengungsi, " kata Baranyai, yang mendistribusikan barangnya dengan anaknya yang berusia 15 bulan yang dia gendong di punggungnya.

 "Saya melihat negara-negara lain menanganinya jauh lebih baik. Saya tidak dapat membayangkan jika harus pergi dengan anak saya, menyeberangi lautan dan berjalan, kemudian tinggal seperti ini, hidup di stasiun begitu lama. Saya tidak dapat membayangkannya, " kata dia mulai menangis. (theguardian.com)

 

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home