Loading...
EDITORIAL
Penulis: Redaksi Editorial 20:55 WIB | Sabtu, 22 Mei 2021

Hamas dan Israel, Apa Setelah Gencatan Senjata?

Warga Palestina, Rahaf Nuseir, 10 tahun, berdiri di depan rumah keluarganya yang hancur, tempat mereka kembali setelah gencatan senjata yang dicapai setelah perang 11 hari antara penguasa Hamas di Gaza dan Israel, di kota Beit Hanoun, Gaza utara, hari Jumat (21/5). (Foto: AP/Khalil Hamra)

SATUHARAPAN.COM-Gencatan senjata telah disepakati antara Hamas Palestina dan Israel dan mulai berlaku hari Jumat (21/5) dini hari. Ini menghentikan 11 hari pertempuran antara Israel dan Hamas yang berkuasa di Gaza. Tatepi kesepakatan tampaknya tanpa menyelesaikan masalah mendasar apa pun dalam konflik Timur Tengah yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Sejauh ini hampir tidak ada pihak yang memperkirakan bahwa perang ini, yang dipicu oleh protes dan bentrokan di Yerusalem, akan menjadi yang terakhir antara Hamas dan Israel.

Israel melakukan ratusan serangan udara terhadap sasaran militan di seluruh Gaza, menghancurkan rumah dan merusak infrastruktur penting milik Hamas. Sementara Hamas menembakkan lebih dari 4.000 roket ke Israel, dengan beberapa mencapai Tel Aviv.

Pertempuran selama sebvelas hari telah menewaskan 243 warga Palestina tewas, termasuk 66 anak-anak dan 39 perempuan, dan 1.910 orang terluka, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Dua belas orang di Israel, termasuk seorang anak laki-laki berusia lima tahun dan seorang gadis berusia 16 tahun, tewas.

Klaim Memenangi Pertempuran

Orang-orang Palestina di seluruh Gaza, Yerusalem timur, dan Tepi Barat merayakan gencatan senjata itu, dan orang-orang melihatnya sebagai kemenangan bagi Hamas dalam melawan Israel yang militernya jauh lebih kuat. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi kritik dari basis dukungannya, dengan banyak pihak yang menuduh dia mengakhiri perang secara prematur tanpa menaklukkan Hamas.

Netanyahu sendiri mengatakan Israel telah membuat kerusakan besar pada kemampuan militer Hamas, menewaskan 200 militan, termasuk 25 komandan senior. Dia mengatakan serangan itu menghantam lebih dari 100 kilometer terowongan militan serta peluncur roket dan infrastruktur militer lainnya.

Namun Israel disebutkan tidak pernah berhasil menghentikan serangan roket yang ditembakkan Hamas. Militan di gaza itu melancarkan serangan roket besar-besaran yang terkadang tampaknya mengalahkan pertahanan udara Israel yang tangguh. Militer Israel mengatakan mereka memiliki tingkat intersepsi 90% dan ratusan roket Hamas jatuh di Gaza, dengan satu roket menewaskan delapan keluarga Palestina.

Selalu Gencatan Senjata

Isrtael dan Hamas sebelumnya telah tiga kali berperang sejak militan yang dianggap kelompok teroris oleh Barat itu menguasai Gaza pada 2007. Sebagaimana yang terakhir, pertempuran diakhiri dengan gencatan senjata, tetapi point-point kesepakatannya hampir tidak pernah dinyatakan ke publik.

Hamas mengklaim bahwa kesepakan gencatan senjata hari Kamis (20/5) itu dengan Israel setuju untuk menghentikan tindakan polisi di kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, dan menghentikan ancaman penggusuran keluarga Palestina dari lingkungan terdekat Sheikh Jarrah. Kedua isu itu yang memicu protes Palestina. Namun sejauh ini tidak ada konfirmasi apapun tentang hal itu dari Israel maupun mediator dari Mesir.

Ini membuat bahwa gencatan senjata ini, sama seperti sebelumnya, meskipun menghentikan pertempuran, namun sangat rapuh, karena tidak mengatasi masalah yang mendasarinya, termasuk pendudukan Israel atas tanah yang diinginkan Palestina untuk negara masa depannya.

Di sisi lain tidak ada pembicaraan tentang penolakan Hamas untuk mengakui hak hidup Israel. Jadi, memang belum ada pembicaraan yang menyinggung masalh substansial, bahkan tampaknya juga demikian pada gencatan senjata terakhir.

Selain itu, Hamas sendiri, yang didukung Iran dan Suriah serta jaringanya seperti Hizbullah di Lebanon, dan Houthi di Yaman, serta Qatar, menjadi bantu sandungan bagi Palestina, sehingga negara-negara Arab berhati-hati dalam dukungan pada Palestina.

 Ini juga terasa dari sikap negara-negara anggota OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) dalam konflik kali ini. Dan tentu saja dari pihak Barat, seperti dikatakan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, yang akan membantu Palestina, tetapi dengan penegasan, “bukan untuk Hamas.”

Di pihak Israel, pertempuran dengan Hamas ini semula diperkirakan akan memperkuat posisi Benyamin Netanyahu. Dia yang bertekad untuk menyerah sampai target tercapai. Ini bisa menjadi point untuk mengatasi krisis di dalam negeri, diamanya dia menghadapi tuduhan korupsi.

Namun dalam kenyataannya, Netanyahu dikritik karena terlalu cepat menghentikan serangan dan tidak mencapai target melumpuhkan Hamas. Kritik ini bisa menjadi tantangan pemerintahannya di hari-hari mendatang, termasuk dalam pemilihan umum pada akhir tahun ini.

Pemilihan Umum Palestina

Pertempuran 11 hari menimbulkan kerusakan besar bagi Hamas, namun situasi menunjukkan bahwa Hamas telah menjadi cukup dominan bagi Palestina. Selama pertempuran, bahkan Mahmoud Abbas, sebagai Presiden Otoritas Palestina (PA), kuran tampak berperan.

Namun situasi ini bisa menjadi masalah serius bagi Palestina secara keseluruhan, karena dunia luar lebih mengakui Palestina yang direpresentasikan oleh PA, dan ada penolakan yang kuat terhadap Hamas. Jika Hamas makin dominan, maka ada kemungkinan makin banyak negara meninggalkan Palestina, termasuk negara-negara Arab.

Setelah pertempuran ini, masa depan pemilihan umum Palestina juga makin suram, setelah 15 tahun tanpa pemilihan. Ini akan menyinggung pertanyaan tentang legitimasi para pemimpin Palestina untuk bisa bicara dengan negara dan lembaga internasional. Abbas memang telah menyatakan pemilihan ditunda dan entah sampai kapan. Namun situasi terakhir bisa menjadi kekuatan bagi Hamas untuk menaikkan dukungan jika pemilihan umum diselenggarakan.

Situasi ini yang membuat tidak ada satupun pihak yang memprediksi bahwa pertempuran 11 hari itu akan menjadi yang terakhir, karena Hamas yang makin mewarnai Palestina dan sikapnya terhadap Israel dalam bingkai zero-sum game, karena tidak pernah mengakui hak hidup Israel. Dan Israel akan terus menyiapkan serangan balasan, siapapun perdana menterinya.

Jika begitu, gencatan senjata hanya seperti jeda untuk kembali menimbun amunisi, dan tidak pernah akan menyentuh substansi konflik. Korbannya adalah warga Palestina dan Israel.

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home