Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 14:06 WIB | Selasa, 24 Maret 2015

Hari Tuberkulosis Sedunia 2015: Dunia Bebas Tb

Seorang anak pasien Tb di RS Tb Rajan Babu, New Delhi, India. (Foto: www.ibtimes.co.uk)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM -  Tanggal 24 Maret 2015 ditetapkan sebagai Hari Tuberkulosis Sedunia (World Tb Day). Tuberkulosis (Tb) merupakan masalah penting di dunia, belum ada satu negara pun di dunia yang bebas Tb. Ada lebih dari 9 juta kasus baru Tb di dunia setiap tahunnya. Total jumlah kasus Tb dunia 15 juta, lebih dari 1,7 juta orang meninggal akibat Tb.

Sepertiga penduduk dunia pernah tertular Tb. Ada sekitar 6.800 kasus MRD Tb di Indonesia, dan Indonesia peringkat ke-10 MDR Tb di dunia. MDR Tb (Multidrug Resistance Tuberculosis) adalah Tb yang kebal terhadap obat anti Tb utama. Sedangkan sekitar 10 persen pasien Tb di dunia juga pasien Diabetes Mellitus (DM).

Walaupun kuman Tb sudah ditemukan sejak 24 Maret 1882, tetapi sampai 24 Maret 2015 (133 tahun berlalu) belum ada satu negara pun di dunia yang bebas tuberkulosis, seperti disampaikan Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), Kepala Balitbang Kemenkes RI dalam tulisan yang dikutip dari litbangdepkes.go.id.

Ada lima alasan mengapa tuberkulosis belum juga hilang dari muka bumi.

Pertama, ada sepertiga penduduk dunia, lebih dari dua miliar orang, yang sudah pernah tertular kuman Tb tapi tidak sakit. Kumannya "tidur" di dalam tubuh orang itu. Kalau daya tahan tubuh orang itu turun, kuman yang "tidur" akan bangkit dan menimbulkan sakit Tb aktif.

Kedua, karena ada jutaan orang sakit Tb aktif di dunia, kemungkinan penularan di masyarakat terus saja terjadi.

Ketiga, waktu pengobatan yang memakan waktu enam bulan terasa terlalu lama, sehingga cukup banyak yang berhenti sebelum tuntas, dan penyakitnya belum hilang.

Keempat, timbulnya masalah-masalah baru dalam penanggulangan Tb mempersulit eliminasi Tb, yakni Multidrug Resistant Tuberculosis (MDR-Tb) adalah Tb yang resistan obat terhadap minimal dua obat anti Tb paling poten, Tb HIV (pasien Tb yang juga pasien HIV), Tb DM (pasien Tb yang juga pasien Diabetes Mellitus), Tb rokok (pasien Tb yang merokok), dan Tb pada perempuan.

Kelima, kejadian tuberkulosis berhubungan dengan situasi sosioekonomi. Sementara itu, harus diakui, di dunia memang masih cukup banyak anggota masyarakat yang belum baik kondisi sosial ekonominya.

Pada World Health Assembly, seluruh negara anggota WHO (Badan Kesehatan Dunia) bersepakat untuk melakukan strategi ambisius, yaitu strategi 20 tahun (2016-2035) mendatang untuk menghentikan epidemi global tuberkulosis.

Strategi pungkas WHO bervisi  Dunia Bebas Tb, yang dikenal dengan "zero deaths, disease and suffering". Kegiatannya harus berorientasi ke pasien, harus ada kebijakan dan sistem untuk pencegahan dan perawatan, dan peningkatan riset dan inovasi. Semua harus dilakukan bersama-sama antara pemerintah, profesi kesehatan, media massa, dan masyarakat luas untuk menghentikan epidemi tuberkulosis dan mengeliminasi Tb dari Indonesia dan dari muka bumi. (litbangdepkes.go.id)

 

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home