Loading...
INDONESIA
Penulis: Prasasta Widiadi 19:18 WIB | Senin, 19 Mei 2014

Icuk Sugiarto Menilai Banyak Potensi Atlet Kurang Terpantau

Icuk Sugiarto Menilai Banyak Potensi Atlet Kurang Terpantau
Icuk Sugiarto (berdiri, ketiga dari kiri) saat pembukaan Djarum Sirnas 2014 seri Jakarta. (Foto-foto: Prasasta WIdiadi)
Icuk Sugiarto Menilai Banyak Potensi Atlet Kurang Terpantau
Gregoria Mariska Tunjung (kiri), dan Fitriani (Kanan) merupakan dua pebulu tangkis yang berpartisipasi di Junior Master sebagai program regenerasi PBSI.

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM -  Pemerintah dan media dirasa kurang dalam menggali potensi atlet di Indonesia, karena banyak pemuda dan pemudi usia potensial  yang berpeluang menjadi atlet unggulan dari berbagai cabang olahraga akan tetapi kurang dilirik atau diperhatikan. Icuk Sugiarto menyatakan hal ini kepada satuharapan.com pada Sabtu (17/5) malam WIB, di Hall Badminton Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta seusai menutup Djarum Sirkuit Nasional (Sirnas) 2014 seri Jakarta.

“Inilah sedihnya Indonesia, selama ini kita tidak berhasil menggali potensi, yang ada malah lebih banyak penguasa (pemerintah – red) hanya memendam dan mengelola masalah dalam bidang olahraga, seharusnya kan mencari potensi atlet-atlet mana saja yang belum terpetakan dalam road map keolahragaan kita,” kata Icuk Sugiarto.

Icuk Sugiarto merupakan salah satu pebulu tangkis pada nomor tunggal putra  bersama Liem Swie King, Lius Pongoh, Hastomo Arbi, Kartono, di era 1980-an. Icuk kini melatih di klub PB Pelita Bakrie.

Putra ke tiga dari tujuh bersaudara ini menikah dengan  Nina Yaroh, mantan pebulu tangkis putri asal Medan, dan dikaruniai dua putri, Natassia Octaviani Sugiarto, dan Jauza Fadhilla Sugiarto,  serta  satu putra  Tommy Sugiarto, yang kini menjadi salah satu pebulu tangkis andalan Indonesia di ajang  Piala Thomas 2014 .

“Media juga harus netral, jangan memperkeruh masalah, tetapi paling tidak bantu kami (para atlet dan pengurus – red) agar membantu perkembangan olahraga,” lanjut Icuk.

Icuk menyayangkan pemerintah dan wakil rakyat malah lebih banyak berkutat dan fokus pada masalah dalam keolahragaan, hingga seolah masalah di berbagai cabang olahraga tidak pernah selesai. “Apalagi menyangkut masalah penting seperti infrastruktur, dan kesejahteraan atlet,” kata Icuk.

“Sekarang masalahnya adalah tidak ada orang yang berkeinginan membangunkan sebuah sistem dalam manajemen olahraga yang baik dan tertata rapih, sehingga yang terlihat di masyarakat adalah banyak atlet potensial, tetapi belum bertaraf internasional, dan atletnya yang itu-itu saja,” tambah Icuk.

Regenerasi Atlet

Mengenai regenerasi pada bulu tangkis, Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) pada Desember 2013 menggelar Junior Master dengan tujuan pendataan pebulu tangkis muda yang akan membela  Indonesia.

Pendataan tersebut dilakukan PBSI khusus untuk pemain-pemain kelompok umur remaja (di bawah 17 tahun) dan taruna (usia 19 tahun), pada Selasa (17/12/2013) hingga Kamis (19/12/2013).

Icuk menyayangkan kurangnya regenerasi dalam berbagai cabang olahraga dewasa ini, hal tersebut menurutnya bukan disebabkan minimnya jumlah atlet, akan  tetapi lebih dikarenakan kerja sama dari pemerintah dan masyarakat penggemar olah raga yang masih kurang dalam membuka saluran atau menggelar seleksi bagi atlet.   

“Sekarang ada ribuan orang menunggu kesempatan untuk menjadi pemain terbaik dunia ini tetapi kesempatan yang ada terlalu sedikit di Indonesia ini, nah manajemen olahraga semacam ini  harus diubah,” tambah Icuk.

“Apabila ada kesulitan semacam ini, negara harus hadir dan berinisiatif membuat terobosan baru, apabila tidak ada yang baru maka prestasi dikhawatirkan melorot,” tutup Ketua Umum PBSI DKI Jakarta 2014-2018 tersebut.

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home