Loading...
EKONOMI
Penulis: Bayu Probo 11:47 WIB | Kamis, 19 Desember 2013

IHSG Kamis Dibuka Naik ke 4.228 Poin

Rupiah diperdagangkan stagnan. (Foto: Antara)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis (19/12) dibuka naik 13,76 poin atau 0,76 persen menjadi 4.228,04 setelah mengalami fluktuasi cukup tinggi, sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 8,17 poin (1,17 persen) ke level 705,19.

"Bursa Asia, termasuk IHSG BEI pagi ini turut dibuka menguat mengikuti penguatan bursa AS pasca-pengumuman pengurangan stimulus keuangan Bank Sentral Amerika Serikat," kata analis Samuel Sekuritas, Benedictus Agung di Jakarta, Kamis.

Ia mengemukakan, The Fed memutuskan untuk mengurangi besaran stimulus moneternya sebesar 10 miliar dolar AS menjadi 75 miliar dolar AS per bulan yang akan dimulai pada Januari 2014.

Namun demikian, lanjut dia, sentimen negatif dari depresiasi mata uang rupiah diperkirakan masih membatasi penguatan IHSG pada Kamis ini.

Sementara itu, Tim Analis Teknikal Mandiri Sekuritas dalam kajiannya mengemukakan bahwa pengurangan stimulus AS oleh The Fed pada tahun depan akan menjadi sentimen positif bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan BEI.

"Kondisi itu memperbesar peluang adanya aksi perbaikan portofolio saham bagi investor," katanya. Melihat kondisi itu, mereka memperkirakan kisaran IHSG BEI Kamis ini akan berada di level 4.175-4.278 poin.

Rupiah Stagnan

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis (19/12) belum bergerak nilainya atau stagnan di posisi Rp 12.168 per dolar AS.

"Keputusan The Fed untuk mulai mengurangi pemberian stimulus sepertinya telah mengurangi ketidakpastian, untuk sementara waktu, kemungkinan pelaku pasar sedang melakukan strategi investasinya," kata analis Monex Investindo Futures, Zulfirman Basir di Jakarta, Kamis.

Ia menambahkan, pelaku pasar uang juga sepertinya menyambut baik komitmen Bank Sentral AS untuk tetap menjalankan kebijakan suku bunga rendah meskipun The Fed telah mulai mengurangi stimulus.

"Meski demikian, tren rupiah masih bersifat koreksi," katanya.

Menurut dia, pergerakan mata uang rupiah masih terbatas menyusul sebagian investor yang masih cemas terhadap inflasi, defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan, serta perlambatan ekonomi Indonesia.

Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada menambahkan dengan adanya pemangkasan stimulus keuangan The Fed, diharapkan dapat membuka ruang pelaku pasar uang menghitung arah investasinya.

Ia menambahkan Bank Indonesia dan Pemerintah diharapkan tetap fokus untuk memperbaiki defisit neraca perdagangan Indonesia dan neraca transaksi berjalan.

"Pengurangan stimulus The Fed itu bisa terus menguatkan dolar AS, dengan perbaikan defisit di neraca Indonesia diharapkan membuat stabil nilai tukar domestik," katanya. (Ant)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home