Loading...
SAINS
Penulis: Kartika Virgianti 08:23 WIB | Senin, 30 Juni 2014

Ingin Anak Cerdas? Sehatkan Dulu Saluran Cernanya

(Dari kiri ke kanan) Lendi Yuarian, salah satu figur yang terlibat dalam pembentukkan Happy Tummy Council, Rini Hildayani M.Si, Psychologist, Dr. Ahmad Suryawan Sp.A(K), Dr. Saptawati Bardosono, M.Sc, dan Dr. Rei Basro, selaku moderator acara. (Foto: Kartika Virgianti)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Dokter Saptawati Bardosono, pakar gizi medik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) menjelaskan di dalam dinding usus terdapat banyak sekali saraf-saraf yang mengirimkan sinyal ke otak. Jika pencernaan seorang anak sehat, otaknya akan menerima rangsangan dengan baik, sehingga terjadilah energi yang seimbang (misalnya tidak terlalu lapar atau kekenyangan) yang berguna untuk aktivitas belajarnya.

“Anak yang mengalami konstipasi ataupun diare, tidak mungkin dapat belajar dengan baik, pasti anak itu akan rewel dan prestasi sekolahnya akan buruk,” ungkap dokter yang akrab disapa Tati itu.

Sebagai informasi, Nestle bersama-sama kelima pakar (expert) yang tergabung dalam Happy Tummy Council memberikan penekanan empat faktor penting bagi sistem pencernaan anak dalam acara bertema “Gut-Brain Axis: Pencernaan Sehat Awal si Kecil Cerdas” di Gran Melia Hotel, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (3/4). 

Dari keempat penekanan tersebut, hal yang pertama, sistem pencernaan merupakan tempat di mana semua zat gizi yang dibutuhkan seluruh organ tubuh diolah dan diabsorbsi, terutama untuk otak. Kedua, kenyamanan saluran cerna sangat penting bagi anak. Ketiga, ternyata di sepanjang sistem pencernaan ada 80 persen lebih sel-sel daya tahan tubuh, yaitu mikrobiota yang menghuni sistem pencernaan. Keempat, konsep gut-brain axis di mana sistem pencernaan dan otak berhubungan secara langsung.

Lima pakar dalam Happy Tummy Council antara lain, Prof. Dr, M. Juffrie, Sp.A(K), Ph.D, Prof. Dr. Soebijanto Marto Sudarmo, Sp.A(K), Dr. Ahmad Suryawan Sp.A(K), Dr. Saptawati Bardosono, M.Sc, dan Rini Hildayani M.Si, Psychologist.

Kemudian Tati menjelaskan, bakteri baik di dalam usus hanya ada dua, yaitu lactobacillus dan bifidobacteria. Bakteri baik yang paling banyak terdapat di usus besar, di situ ada probiotik yang fungsinya melancarkan pencernaan. Sedangkan di usus kecil, probiotik berfungsi menyerap zat-zat makanan dan menjaga kesehatan saluran cerna.

Semua orang tahu kalau air susu ibu (ASI) penting untuk bayi, terutama kandungan bakteri baik yang disebut probiotik, serta prebiotik. Lactobacillus reuteri merupakan jenis probiotik yang ditemukan di usus, juga terdapat di dalam kandungan ASI.

Prebiotik adalah makanan yang tidak dapat dicerna secara sempurna, sehingga harus dikeluarkan dari tubuh. Tetapi prebiotik juga mempunyai fungsi lain yaitu menjadi makanan probiotik.

Peran Mikrobiota terhadap Janin

Mikrobiota atau bakteri baik yang ada di usus ibu hamil dapat menjaga fungsi kekebalan tubuh janin. Tetapi jika jumlah mikrobiota di usus berkurang jumlahnya, janin akan mudah terserang infeksi kuman dari luar.  

Pada bayi sendiri, jika jumlah bakteri baik di ususnya sedang kekurangan bakteri Lactobacillus reuteri, maka dia akan mudah terserang diare, akibatnya semua zat gizinya akan hilang sehingga bisa mengalami malnutrisi.

Setelah usia enam bulan, tumbuh kembang bayi sangat pesat, sehingga tidak dapat lagi didukung oleh kandungan gizi yang terdapat dalam ASI. Sementara produksi ASI ibunya itu sudah mulai menurun.

“Untuk itu, mulai dari usia enam bulan, bayi tidak cukup diberi ASI saja, harus diberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI). Dengan demikian dalam perkembangannya, anak bisa bertambah berat maupun bertambah tinggi secara normal, misalnya mulai belajar berjalan sampai berlari. Selain itu juga kecerdasan otaknya bisa terus berkembang,” urai Tati.

Beda halnya kalau bayinya tidak beruntung mendapatkan ASI, karena faktor ASInya tidak bisa keluar atau dari ibunya yang tidak mau menyusui. Oleh sebab itu bayi akan diberikan susu formula.

“Supaya bisa menyamai kandungan ASI yang ada probiotiknya, maka susu formula itu harus diperkaya dengan probiotik. Karena diperkaya, tentunya yang beli juga orang-orang kaya, karena mahal harganya,” ujar Tati sedikit bercanda.

Asupan Gizi untuk Otak Janin

Bicara mengenai perkembangan otak, sejak usia janin lima bulan sudah terjadi perkembangan otak pada janin. Maka, harus diperhatikan asupan gizi pada ibu hamil. Vitamin B-kompleks, B-12 dan asam folat sangat penting untuk memberi makan sel-sel otak pada janin, vitamin C dan vitamin E berfungsi sebagai antioksidan.

Ibu hamil juga sebaiknya konsumsi gandum utuh dan kacang-kacangan yang mengandung zat resitin untuk memproduksi asetilkolin. Fungsi resitin untuk proses transmisi sel-sel otak supaya anak dapat belajar dengan cepat (tidak tulalit). Selain itu, tentunya zat besi dan protein juga dibutuhkan, misalnya dari makanan seperti daging rendah lemak.

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home