Loading...
INDONESIA
Penulis: Endang Saputra 11:18 WIB | Jumat, 28 Agustus 2015

Ini Saran SBY untuk Pemerintah Soal Ekonomi

Presiden keenam Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat memberikan keterangan pers ke diaman pribadinya di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Kamis (27/8) malam. (Foto: Endang Saputra)

BOGOR, SATUHARAPAN.COM – Mantan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan enam saran kepada pemerintahan Presiden Joko Widodo atau Jokowi terkait gejolak pertembuhan ekonomi saat ini.

"Apa sih yang dirasakan oleh rakyat ini. Apa sih kemunduran atau tekanan ekonomi yang dirasakan saat ini baik faktor karena internal maupun faktor dari eksternal. Maka, menurut saya ada sejumlah sasaran yang harus ditetapkan yang  semua sebagai penjuru pembantu pemerintah yang didukung oleh dunia usaha didukung oleh semua daerah dan kita semua," kata kata SBY rumahnya di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Kamis (27/8) malam.

Pertama, kata SBY pertumbuhan itu harus dijaga jangan terus meluncur lagi ke bawah. Syukur-syukur  naik kembali. Kalau semula enam persen menjadi lima persen, menjadi empat persen apa lagi lebih rendah, maka akan berpengaruh pada semua kehidupan. Misalnya, pengangguran akan meningkat, PHK akan terjadi dimana-mana serta kemiskinan akan meningkat dan sebagainya. Pertumbuhan sekali lagi harus dijaga. Orentasikan semua aksi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi saat ini.

"Dalam keadaan krisis seperti ini yang penting demand dijaga dan ditingkatkan. Banyak sekali caranya, ya kalau sumber pentumbuhan itu ada yang namanya konsumsi rumah tangga pastikan rakyat kita masih bisa membeli barang dan jasa. Kalau rakyat kita sulit untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari tolong dibantu oleh pemerintah oleh negara. Tidak salah keluarkan APBN membantu rakyat mengalami kesulitan untuk mencukupi sehari-harinya," kata dia.

Lantas, kata SBY kalau investasi sedang berhenti bikin sesuatu kebijakan apa pun yang bisa menggerakkan investasi kembali. Kalau ekspor sedang tertekan, sejumlah komoditas jatuh harganya, bantu perusahan-perusahan kasih insentif fiskal agar mereka bisa bergerak.

"Kemudian kalau faktor pembelanjaan pemerintah APBN. Govt spending meskipun kecil dalam konteks adalah komponen pertumbuhan tetapi pastikan ada stimulasi. Ada stimulus ada ekspansi dengan defisit tepat. Nah kalau itu semua dijalankan bulan-demi bulan APBNP 2015 APBN 2016 Insya Allah pertumbuhan kita bisa kita jaga tidak terus meluncur dan syukur-syur pada saatnya akan meningkat dan tumbuh lebih kuat lagi," kata dia.

Kedua lanjut SBY pada saat pemerintah pencabutan subsidi, ia mengatakan dampaknya ternyata membuat harga-harga sebagian meroket dan meningkat di luar kemampuan rakyat untuk membelinya. Maka, sejumlah komoditas SBY minta tolong dilakukan stabilisasi harga yang kelewat tinggi dan tidak wajar seperti daging sapi.

"Demikian juga dengan harga-harga lain ini penting semua. Tidak ada artinya ekonomi tumbuh tapi rakyat kita tidak bisa membeli kelewat mahal," kata dia.

"Kelola inflasi, tahan laju inflasi itu sasaran kedua setelah pertumbuhan.Yang harga naik kalau suplai kurang persediaannya kurang barangnya tidak ada maka pastikan ada cukup jadi hilangkan retorika dan ideologi yang penting rakyat bisa membeli barang dan jasa yang mahal itu bisa terjangkau karena barangnya cukup," kata dia.

Ketiga, lanjut SBY sudah ada global PHK di banyak tempat di sektor tekstil, di real estate. Di sektor lain pastikan rakyat bisa beli karena barangnya cukup. Sebab, sudah ada banyak gelombang PHK di sektor riil. Tolong diwaspadai dan berunding dengan perusahaan.

"Bisa beri insentif sehingga perusahaan tidak PHK. Yang di PHK enggak ada penghasilan, makin susah lagi. Agar tidak mudah melakukan PHK dan tidak menambah pengangguran baru," kata dia.

Keempat, kata SBY masalah moneter, penjurunya adalah Bank Indonesia (BI). Tapi rakyat juga  bisa ikut berkontribusi. Gejolak nilai tukar rupiah karena dolar kembali ke AS. Ini membuat nilai dolar meningkat dibandingkan mata uang di negara-negara berkembang atau emerging countries. Itu terjadi. Terutama tahun-tahun terakhir ini  Tapi, kalau sudah tembus misalkan Rp 13.000- Rp 14.000 ribu apa lagi lebih, artinya ini melebihi perkiraan. Harus dilakukan sesuatu.

"BI sebagai penjuru tapi yang lain juga. Pastikan ada upaya supaya tidak panik kemudian memborong dolar  besar-besaran. Ingat kalau terlalu mahal dolar makin tinggi banyak yang pinjam dolar dan jual dalam rupiah, bisa bangkrut bisa kolaps. Ini harus dicegah karena tidak bisa dikontrol dengan Inpres atau Keppres untuk mencegah rupiah kita harganya makin rendah," kata dia.

Kelima soal fiskal. Itu di tangan pemerintah APBN harus pas berapa penerima berapa pengeluaraan jangan sampai defisit berapa menghitung penerimaan pajak harus pas. Kalau tidak pas Nanti uang dari mana. Padahal sudah ada rencana pengeluarkan  tanpa janji mulai di rem supaya tidak menimbulkan kepanikan di tingkat pasar uangnya tidak ada penerimaan kurang jadi kontrol betul. Ditangan pemerintah harus duduk bersama dengan DPR dengan pemerintah untuk menyusuaikan perubahan.

"Saya kira pemerintah sudah mengerti. Dan, saya pernah bicara dengan Pak Jusuf Kalla, mengerti perlu ada adjusment. Jadi pastikan fiskal ada di tangan pemerintah  satu-satunya di tangan kalau moneternya itu tidak sepenuhnya tapi fiskal APBN di tangan pemerintah. Jangan tidak pas antara penerimaan dan pembelanjaan," kata dia.

Kemudian keenam, kata SBY yang tak kalah penting soal trust. Bikinlah kita semua nyaman, tenang, percaya meskipun berat tapi ada solusi.

"Kita semua  tahu ini global. Yang kena bukan hanya Indonesia, Tiongkok, Singapura, Malaysia juga kena.  Saya tidak pernah salahkan pemerintah, tidak salahkan presiden karena setiap saat bisa terjadi. Tenangkan rakyat, yang penting pemerintah punya solusi, kebijakan dan dijalankan. Terbuka saja, jelaskan secara gamblang dan apa langkah yang ‎ditempuh. Ada solusi dan bisa kembali normal.Saya tahu pemerintah sudah pertimbangkan banyak hal, tapi pengalaman yang saya miliki bisa berguna untuk tindakan akan datang," katanya.

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home