Loading...
LAYANAN PUBLIK
Penulis: Endang Saputra 22:33 WIB | Jumat, 14 November 2014

Ketua Umum PBNU Sarankan Basuki Jaga Etika

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siraj. (Foto: dok.satuharapan.com/ Endang Saputra)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM -  Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siraj menyarankan Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menjaga etika, terlebih setelah nanti dilantik sebagai gubernur.

"Saya sarankan Ahok (Basuki) mengubah sikap dan cara bicara. Bagaimanapun di Jakarta itu banyak ulama, habib, pesantren, tolong dihormati," kata Said Aqil di sela-sela peluncuran jambore nasional Perkemahan Penggalang Maarif NU Nasional (Pergamanas) di Jakarta, Jumat (14/11).

Said Aqil menegaskan, mendukung Basuki sebagai gubernur DKI dan mengharapkan masyarakat DKI pun bersikap sama, karena Basuki merupakan pemimpin yang sah.

"Ahok itu sah dipilih rakyat DKI, jadi harus didukung dan dihormati," kata Said Aqil.

Namun, menurut Said Aqil, bukan berarti Basuki boleh bersikap semaunya, apalagi menyinggung perasaan warga yang dipimpinnya.

Secara terpisah, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PP PSNU) Pagar Nusa Aizuddin Abdurrahman mendesak Basuki berbenah. 

Gus Aiz, demikian cucu pendiri NU KH Hasyim Asyari ini akrab disapa, menilai sikap Basuki tidak mencerminkan diri seorang pemimpin.

"Pemimpin itu tindakan, ucapan dan hatinya harus meneduhkan dan mengayomi. Jangan sampai yang dijalankan dan diucapkan membuat resah, apalagi menimbulkan perpecahan rakyatnya," katanya.

Gus Aiz juga mengingatkan Front Pembela Islam (FPI), yang saat ini berseteru dengan Basuki, agar juga berbenah diri jika tidak mau dibubarkan. 

FPI, kata dia, harus mengubah metode dakwahnya dan menjauhi tindakan kekerasan yang justru merusak citra Islam.

"FPI harus mencontohkan dakwah Islamiyah yang benar. Jika tidak, akan merusak generasi mendatang," katanya.

Selain itu, menurut Gus Aiz, FPI juga harus mengakui realitas keberagaman di DKI khususnya dan Indonesia pada umumnya.

"Ketika mereka menolak Basuki karena alasan non-Muslim, itu rasialis. Ungkapan itu merusak tatanan keberagaman di Indonesia.

NKRI dibangun atas dasar rahmatan lil alamin (kebaikan bagi seluruh alam)," tegas Gus Aiz. (Ant)

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home