Loading...
INSPIRASI
Penulis: Priskila Prima Hevina 01:00 WIB | Selasa, 06 September 2016

Level Memaafkan

Memaafkan memang butuh waktu, tetapi tak bergantung pada waktu.
Siap memaafkan? (foto: pixabay.com)

SATUHARAPAN.COM – Ada seorang murid bertanya kepada Gurunya. ”Guru, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”

”Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali,” jawab Sang Guru.

Intinya, kita sebagai manusia, bersaudara antara satu dan yang lainnya. Dan kita diberi kewajiban untuk bisa memaafkan secara tulus, tanpa syarat, tanpa batas. Tujuh puluh kali tujuh kali bukan berarti memaafkan sejumlah 490 kali lho ya. Mana ada orang yang sempat amat mencatat dan mengkalkulasi maaf.

Perihal memaafkan rupanya multidimensi. Kadang simpel. Sering ruwet. Maaf-memaafkan selalu terbungkus dalam situasi kondisi yang bervariasi. Terlepas dari kompleksitas relasi dan konflik antarmanusia, memaafkan adalah PR mutlak. Ya mutlak, sebab kita sendiri pun diberi maaf dan ampunan tiada batas oleh Sang Khalik. Masak iya kita tidak memaafkan, kok sombong amat?

Anyway, memaafkan itu bagaimana sih?

Ada yang berpendapat, memaafkan itu proses bersama putaran waktu. Seiring waktu yang berlalu, kesalahan kemarin terlupakan dan itu artinya sudah memaafkan. Kita memercayakan proses memaafkan pada waktu. Asal tak diungkit-ungkit, asal kita fokus pada hal-hal lain, kasus kemarin clear. ”Biar waktu menghapus jejakmu,”begitu kata Peter Pan. Betulkah?

Ada pula yang bilang kalau memaafkan itu merelakan setiap kerugian (baik moril mau pun materi) yang dialami gara-gara perbuatan seseorang pada masa lalu. Kemudian diikuti dengan memasang stategi dan antisipasi terhadap orang yang sama agar kita tak lagi dibuat rugi. Secara gamblang, kita pasang kecurigaan dan prasangka jahat kepada orang tersebut. Begitukah?

Lain lagi berargumen, memaafkan itu menganggap apa yang terjadi pada masa lalu tidak pernah ada dan menatap masa depan dengan pikiran positif terhadap orang yang sama. ”Mulai dari nol,” seperti yang diucapkan petugas di SPBU. Tidak ada prasangka, tidak ada kepahitan. Iyakah?

Ketika kita disakiti, ibaratnya kulit kita disayat pisau. Dan pekerjaan memaafkan adalah untuk merawat dan menyembuhkan luka itu. Kalau hanya dibiarkan, luka bisa saja infeksi. Kalau dirawat seadanya, bisa sembuh, tetapi berbekas. Kalau dirawat serius, lukanya sembuh, bekasnya juga hilang.

Memaafkan memang butuh waktu, tetapi tak bergantung pada waktu. Memaafkan itu keputusan aktif. Terkadang bukan hal yg mudah. Butuh banyak syarat dan perjuangan ekstra. Kelapangan hati. Kerendahan hati. Ketelatenan diri. And so many more. Untuk bisa menyentuh level termurni dari memaafkan, semua hal baik dalam diri kita mesti di-upgrade.

Bagaimana? Mari belajar memaafkan, memaafkan itu memulihkan kehidupan.

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home