Loading...
DUNIA
Penulis: Yan Chrisna Dwi Atmaja 14:24 WIB | Selasa, 14 Januari 2014

Moskow Larang Wartawan AS

David Satter. (Foto: dari guardian.co.uk)

WASHINGTON, SATUHARAPAN.COM - Seorang wartawan Amerika Serikat Senin (13/1) mengatakan ia telah dilarang oleh Rusia setelah ia melaporkan mengenai protes-protes massa terhadap penolakan pemerintah Ukraina pada pakta Uni Eropa.

Kedutaan Besar AS di Moskow telah diberitahu tentang tindakan terhadap David Satter dan telah mengajukan protes diplomatik resmi, kata Pemimpin dan CEO Radio Free Europe/Radio Liberty Kevin Klose. 

Pihaknya telah mengupayakan dan tidak memperoleh penjelasan dari pihak berwenang Rusia.

Tindakan ini, yang terjadi pada menjelang Olimpiade Musim Dingin Sochi bulan depan, diduga akan lebih menegangkan hubungan antara Washington dan Moskow yang sudah tegang.

Ini adalah salah satu kasus pertama bahwa seorang wartawan AS dilarang oleh Rusia sejak Perang Dingin.

"Saya diberitahu bahwa kehadiran saya di Rusia dalam pandangan organ-organ keamanan itu tidak diinginkan. Selain itu, tidak ada alasan yang diberikan," kata Satter kepada AFP melalui email dari London.

"Barang-barang saya berada di Moskow di mana saya memiliki sebuah apartemen. Tetapi tanpa izin untuk memasuki negara itu, saya tidak bisa mengambilnya. Saya ingin kembali ke Moskow untuk bekerja tetapi tidak dapat melakukannya tanpa visa."

Satter telah tinggal dan bekerja di Rusia sebagai penasihat RFE/RL sejak September 2013. Dia juga telah melaporkan dan memberikan komentar mengenai layanan outlet Rusia, selain memberikan wawancara dan analisis untuk berita dan pendapat situs-situs lain.

"Ketika ia mencoba untuk meninggalkan Ukraina dari meliput protes-protes untuk kembali ke Rusia, saat itulah masalah dimulai," kata juru bicara RFE/RL Karisue Wyson melalui telepon.

Pada Desember, Satter menerima pemberitahuan bahwa permintaan visa nya disetujui, termasuk nomor pemberitahuan resmi dari Kementerian Luar Negeri Rusia, kata Wyson.

Tetapi Satter kemudian diberitahu oleh seorang pejabat Kedutaan Besar Rusia di Kiev bahwa kehadirannya di Rusia dianggap "tidak diinginkan" dan permintaan visanya ditolak, menurut Wyson.

Pada Website RFE/RL, Klose mengatakan ia menganggap penggunaan istilah "tidak diinginkan" adalah setara dengan menyatakan bahwa Satter "dipersona non grata" di Rusia.

"Kami (RFE/RL) ingin tidak lebih dari Satter segera dapat kembali ke Moskow, di mana ia telah tinggal dan bekerja sejak September 2013, dan kembali bekerja untuk menasihati, memberikan pelaporan dan komentar-komentar untuk Layanan Rusia kami serta memberikan wawancara yang tajam, menulis kolom dan analisis untuk berbagai berita dan pendapat," kata Klose dalam sebuah pernyataan. (AFP)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home