Loading...
INDONESIA
Penulis: Reporter Satuharapan 18:17 WIB | Kamis, 27 Februari 2014

Pemilu 2014, Penghayat Sapta Darma: Kerukunan Beragama adalah Karakter Indonesia

Bagjo Indrijanto, penghayat Sapta Darma. (Foto: akun Facebook Bagjo Indrijanto)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Mantan Tuntunan Kerohanian Sapta Darma Provinsi DKI Jakarta Bagjo Indrijanto mengatakan, “penting mengupayakan untuk meningkatkan kesadaran diri masyarakat, bahwa kerukunan umat beragama adalah ciri utama Bangsa Indonesia.”

Dalam wawancara melalui surat elektronik pada Rabu (26/2), Bagjo mengatakan pada satuharapan.com, “masih ada peluang untuk kerukunan umat beragama pascapemilu mendatang, walau belum bisa diharapkan tercipta dalam waktu singkat.”

Bagjo menambahkan, “dan usaha pemenuhan hak masyarakat adat mau pun penghayat kepercayaan adalah  fondasi utama kerukunan umat beragama dan kesatuan bangsa yang berada pada adat istiadat yang telah ada sejak leluhur kita hidup hingga kita bisa bersatu sebagai bangsa Indonesia.”

Legislator Tidak Proporsional

Namun Bagjo menyayangkan kondisi para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)/Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang menurutnya tidak memahami isu-isu atau permasalahan yang terjadi di masyarakat adat serta penghayat kepercayaan.

Lebih lanjut ia menerangkan bahwa para anggota legislator sampai saat ini tidak proporsional dalam melaksanakan perannya.

“Mengerti pun tidak, apalagi ingin membahas. Bahkan,ada kesan bahwa membicarakan masalah yang terjadi dalam masyarakat adat dan penghayat kepercayaan adalah hal yang sia-sia karena tidak bermanfaat bagi kepentingan partainya,” Bagjo menerangkan pendapatnya.

Mencari Legislator Pejuang Pluralisme

Pria berusia 56 tahun ini mengungkapkan pengamatannya, “baru ada satu atau dua orang legislator yang memperjuangkan kepentingan masyarakat adat dan penghayat kepercayaan, misalnya Ibu Eva Sundari dari PDI-P (Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan, Red).”

“Untuk pemilihan mendatang, kita perlu melengkapi atau menambah aggota legislator dengan tokoh-tokoh pejuang pluralisme yang saat ini bergerak melalui LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat, Red) atau organisasi-organisasi senada”

“Selama bergerak berdasarkan agama, maka sudah pasti bila duduk di pemerintahan nanti hanya akan memikirkan kepentingan partainya,” ia menegaskan.

Bagjo berharap, “Pada pemilu mendatang, mereka yang betul-betul mencalonkan diri adalah mereka yang berjiwa kebangsaan ‘Merah Putih’ dan benar-benar menyadari arti Bhinneka Tunggal Ika, yaitu terdiri dari berbagai macam keyakinan namun tetap satu sesembahan yaitu Tuhan Hyang Maha Esa, bukan lagi berjiwa partai.”

Bagjo mengungkapkan kriteria calon legislator dalam pandangannya, “yang utama adalah rasa kebangsaan, persatuan, dan menyadari betul bahwa NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia, Red) ini sangat beragam dalam keyakinan dan adat istiadatnya. Mereka juga perlu memiliki pengetahuan yang luas serta kejujuran, terutama pada diri sendiri.”

Lebih lanjut Bagjo mengatakan bahwa indikator calon legislator yang patut dipilih sebagai wakil rakyat dapat dilihat melalui tata laku kehidupan dalam masyarakat dan lingkungan keluarganya. Ia juga menekankan calon wakil rakyat perlu bersikap toleran dan pluralisme yang benar-benar tercermin dalam tindakan sehari-hari.

Mengenai sikap komunitas penghayat Sapta Darma, Bagjo mengatakan, “kami tidak pernah melarang anggota kami untuk masuk ke partai politik. Namun kami secara jelas melarang mereka untuk mengatasnamakan komunitas karena komunitas kami bukanlah untuk berpolitik.”

“Sedangkan untuk memilih, kami menganjurkan masing-masing anggota komunitas untuk menggunakan perasaannya, mana yang menurutnya layak dipilih dan tidak pernah didasari unsur pemaksaan,” pungkasnya.

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home