Loading...
RELIGI
Penulis: Martahan Lumban Gaol 13:13 WIB | Senin, 02 November 2015

Pendeta Gomar: Korupsi adalah Kanker Mematikan

Pendeta Gomar Gultom (kanan) saat menjadi pembicara dalam acara Seminar Sehari Gereja Menghadang Korupsi 'Peran Gereja dalam Mencegah Perilaku Korupsi dan Mendukung Pemberantasan Tindak Pidana ‚ÄéKorupsi Pemerintah' di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, Kota Jakarta Pusat, hari Senin (2/11). (Foto: Martahan Lumban Gaol)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Korupsi adalah kanker mematikan yang hampir tidak dapat diobati. Korupsi telah memiskinkan masyarakat dan merusak sistem kehidupan komunitas yang sehat.

Demikian disampaikan Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Pendeta Gomar Gultom, saat menjadi pembicara dalam acara Seminar Sehari Gereja Menghadang Korupsi "Peran Gereja dalam Mencegah Perilaku Korupsi dan Mendukung Pemberantasan Tindak Pidana ‎Korupsi Pemerintah" di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, Kota Jakarta Pusat, hari Senin (2/11).

Dia menilai korupsi adalah kebobrokan moral manusia yang tidak mampu mewujudkan dirinya sebagai 'Gambar Allah'. Alkitab mengajarkan, manusia dicptakan dengan memiliki kemuliaan, hormat, dan kuasa, sesuai de‎ngan rupa Allah, untuk mengusahakan dan memelihara alam semesta ini.

"Perilaku korupsi sesungguhnya sedang menggerogoti keberadaan manusia sebagai gambar Allah. Menggerogoti gambar Allah yang sesungguhnya punya kemuliaan, hormat, dan kuasa, yang harus digunakan dengan penuh tanggung jawab," kata Pendeta Gomar.

‎Oleh karena itu, dia menyampaikan, Alkitab menunjukkan kepada manusia mengenai bahaya dampak korupsi. Cerita tentang Manna dalam Keluaran 16 dapat digunakan sebagai rujukan dalam mengelola harta kekayaan. Beberapa pelajaran yang dapat ditarik dari cerita tersebut, di antaranya setiap manusia berhak atas makanannya setiap hari sebanyak yang dibutuhkan, setiap orang memiliki ukuran cukup sesuai dengan keperluannya, dan bila melebihi cukup maka akan berbau busuk.

“Maka ketika manusia mulai mengambil dan mengusahakan lebih dari yang dibutuhkannya dan tidak ada lagi ada kemampan dan kesediaan untuk mengatakan cukup, di situlah masyarakat akan menemukan bau busuk dalam rupa kemiskinan, ketidakadilan, radikalisme, dan kerusakan lingkungan,” tutur Pendeta Gomar.

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home