Loading...
ANALISIS
Penulis: Sabar Subekti 09:23 WIB | Kamis, 28 Oktober 2021

Perubahan di Arab Saudi, Pengaruhnya bagi Indonesia?

Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, menghadiri Future Investment Initiative (FII) di Riyadh pada hari Selasa. (Foto: SPA)

RIYADH, SATUHARAPAN.COM-Arab Saudi terus menggulirkan reformasi di negara itu, terutama di bidang ekonomi dan budaya dengan meninggalkan ketergantungan pada pendapatan minyak bumi. Future Investment Initiative (FII/Inisiatif Investasi Masa Depan), sebuah forum yang digelar kembali di Riyadh pada hari Selasa (26/19), dua tahun setelah terakhir diselenggarakan karena pandemi, menghadirkan orang-orang kuat dan kaya dari seluruh dunia untuk mencari peluang kontrak besar.

Namun tahun ini, penyelenggaraan forum yang kelima, terlihat berbeda dan menunjukkan Arab Saudi makin bergerak dalam mewujudkan Visi 2030.  Kali ini tidak ada pembicaraan tentang kontrak besar memang, tetapi para peserta yang berpengaruh sedang mendiskusikan bagaimana dapat memberikan kembali kepada umat manusia dan memecahkan masalah besar di tingkat global. Ini semua tentang keberlanjutan dan investasi dalam kemanusiaan.

Kembalinya FII setelah tertunda selama dua tahun akibat pandemi, merupakan pertanda bahwa yang terburuk telah dilewati bagi Arab Saudi di tengah transformasi besar yang sedang dilakukan.

Riyadh tidak lagi berbicara dengan bahasanya sendiri yang kental dengan urusan minyak dan agama. Sekarang berbicara bahasa global yang mencakup istilah-istilah seperti “menyelamatkan planet ini,” “keberlanjutan,” “pengurangan emisi karbon” dan “perencanaan untuk dunia yang lebih baik.”

Arab Saudi tampaknya ingin memastikan bahwa forum FII tahun ini akan mengirimkan pesan yang kuat ke dunia dan mereka tidak menemukan cara yang lebih baik untuk mencapainya dengan menjadi negara yang lebih terbuka.

Bicara Pemberdayaan dan Kesetaraan

Arab Saudi di forum itu bahkan menunjukkan hal yang baru dalam perhelatan besar, yaitu dengan menampilkan penyanyi terkenal, Gloria Gaynor, dan dia membawakan lagunya yang terkenal, "I Will Survive," pada acara pembukaan.

Bisnis besar yang hadir seperti BlackRock dan Blackstone dan bos masing-masing, Larry Fink dan Stephen Schwarzman, disebutkan berbicara tentang topik seperti jender, ketidaksetaraan dan generasi mendatang di forum itu.

Pemberdayaan perempuan adalah topik hangat lainnya, dan Schwarzman, salah satu pendiri Blackstone, berbicara terus terang tentang bagaimana perusahaannya mengalami kesulitan merekrut perempuan.

“Seperti banyak orang di bidang keuangan, kami mengalami banyak kesulitan dalam mempekerjakan perempuan,” katanya saat diskusi panel pembukaan, hari Selasa, dikutip Arab News. “Itu adalah bisnis yang didominasi laki-laki dan kami membuat keputusan untuk mengubahnya pada tahun 2015.

Ana Botin, ketua Banco Santander, adalah satu-satunya perempuan di panel delapan orang. Sedangkan pada hari pertama acara berakhir, Saudi Aramco mengumumkan kesepakatan yang akan membantunya menjadi lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Perubahan di Arab Saudi

Arab Saudi telah berusaha untuk membuka diri dengan proses yang beberapa analis menyebutnya sebagai liberalisasi. Arab Saudi telah berubah di mana musik tidak lagi dilarang, dan pihak kerajaan beberapa kali menggelar panggung music.

Bahkan sekarang ada bioskop, orang diizinkan berenang dengan bikini, pemandangan yang tidak pernah ada sebelumnya, serta negara ini berusaha keras untuk menyenggarakan berbagai kegiatan olah raga dan membuka situs pariwisata.

Berita-berita dari Arab Saudi juga muncul tentang perempuan yang diizinkan menjadi pemimpin, boleh bekerja, dan boleh mengendarai mobil. Bahkan juga perempuan berhak untuk memegang sendiri akta nikahnya, serta boleh bepergian tanpa harus didamping wilai.

Perubahan-perubahan yang terjadi mengarah pada Arab Saudi yang makin terbuka, dan aturan-aturan ketat yang disebutkan berdasarkan agama mulai ditinjau ulang.

Pengaruhnya pada Indonesia

Kerajaan ini merupakan pusat agama Islam di mana salah satu kewajiban agama, naik haji, dilaksanakan di kota Mekah, kota asal nabi umat Islam, Nabi Muhammad. Dan apakah ini akan ada pengaruhnya terhadap situasi di Indonesia, di mana mayoritas warganya dalah pemeluk Islam?

Sejauh ini perubahan di Arab Saudi dicermati di Indonesia, termasuk yang kemudian mengecam sepak terjang Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman dalam mereformasi Arab Saudi melalui Visi 2030. Kelompok ini terutama mengritik bahwa Arab Saudi meninggalkan berbagai aturan dalam hukum Islam.

Namun tampaknya komentar dari kelompok Islam moderat lebih terbuka atas perubahan yang terjadi di Arab Saudi, ini terutama dalam perdebatan kelompok-kelompok Islam tentang syariat Islam, di mana sebagian kelompok masih gencar menyuarakan hal itu.

Sangat mungkin bahwa Arab Saudi yang makin terbuka, akan berpengaruh terhadap negara-negara lain, termasuk Indonesia. Nqamun apakah pengaruh itu menjangkau kelompok penganut Islam yang kemudian juga ikut menjadi lebih terbuka dalam relasi dengan kelompok agama lain, dan mungkin ini akan mengendorkan situasi yang agak mengeras terkait masalah sektarian di beberapa negara, termasuk di Indonesia.

Namun demikian, tidak bisa diabaikan adanya kelompok di Arab Saudi sendiri, dan juga negara-negara Arab lain, yang tidak nyaman dengan reformasi di sana. Bisa jadi kelompok garis keras di Arab Saudi yang tidak nyaman dengan reformasi itu, lalu mencari pijakan lain di luar Arab Saudi.

Jika itu yang terjadi, Indonesia mungkin menjadi salah satu pilihan mereka, dari banyak pilihyan, untuk mendapatkan pijakan baru. Namun itu sepenuhnya bergantung pada rakyat Indonesia dalam memandang dan menyikapi perubahan di Arab Saudi, terutama warga Muslim dan pemerintah.

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home