Loading...
INDONESIA
Penulis: Martahan Lumban Gaol 16:54 WIB | Jumat, 11 Maret 2016

PGI Nilai Globalisasi Tantangan Kebinekaan

Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Henriette Hutabarat Tabita Lebang, saat menjadi pembicara dalam diskusi bertema ‘Pemimpin yang Melayani di Tengah-tengah Kebhinekaan’ yang diselenggarakan dalam Hari Ulang Tahun ke-17 Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) di Aula Gereja Bethel, Jakarta Pusat, hari Jumat (11/3). (Foto: Martahan Lumban Gaol)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Henriette Hutabarat Tabita Lebang, mengingatkan pentingnya kebinekaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Menurutnya, kebinekaan adalah realitas yang menjadi bagian kehidupan masyarakat yang mempersatukan berbagai perbedaan di Tanah Air demi mencapai keadilan dan kemakmuran.

Namun, dia menyayangkan, kondisi perubahan yang sangat cepat terjadi di masyarakat. Semangat persatuan yang dahulu tinggi, lambat laun menurun seiring dengan arus globalisasi.

“Di tengah arus globalisasi ini, kebinekaan makin jadi persoalan. Dunia makin tanpa sekat, tapi pagar makin tinggi,” kata Henriette saat menjadi pembicara dalam diskusi bertema ‘Pemimpin yang Melayani di Tengah-tengah Kebhinekaan’ yang diselenggarakan dalam Hari Ulang Tahun ke-17 Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) di Aula Graha Bethel Indonesia, Jakarta Pusat, hari Jumat (11/3).

Dia mencontohkan, berkembangnya teknologi telekomunikasi, membuat telepon genggam (cellular phone) kian canggih, masyarakat pun lebih mudah berkomunikasi dengan sanak saudaranya yang jauh. Namun, ternyata hal itu melahirkan masalah dalam keluarga, komunikasi antaranggota keluarga yang tinggal serumah menjadi sangat minim.

“Ini membuat yang jauh makin dekat, yang dekat makin jauh,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan kemajemukan di masyarakat juga telah membuat kebutuhan masyarakat kian beragam. Era globalisasi, menurut Henriette, telah membuat masyarakat menjadi individu yang profit oriented socialization. Masing-masing individu menghitung untung atau rugi dalam pergaulan.

“Akibatnya, solidaritas nasional juga makin berkurang,” katanya.

Oleh karena itu, dia mengatakan, kebinekaan yang ada di tengah masyarakat harus menjadi sebuah hal produktif yang dapat saling membangun. Sebab, permasalahan yang ada di tengah masyarakat bukan hanya sebatas persatuan, tapi masih ada kemiskinan, keadilan sosial, radikalisme, hingga kerusakan lingkungan.

“Ini krisis identitas yang membuat orang tidak pada dirinya,” tutur Henriette.

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home