Loading...
RELIGI
Penulis: Sotyati 14:44 WIB | Rabu, 11 Februari 2015

Pluralitas Tidak Bisa Dilepaskan dari Dasar Berbangsa

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (tengah) mengikuti rapat dengan komisi VIII DPR RI di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (11/2). Rapat tersebut membahas alokasi APBN-P Tahun 2015 untuk Kementerian Agama hasil dari Badan Anggaran DPR RI. (Foto: Antara)

DEPOK, SATUHARAPAN.COM - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menegaskan pluralitas tidak bisa dilupakan dari dasar pijakan masyarakat sebagai bangsa. Menurutnya, bangsa Indonesia merupakan bangsa yang sangat beragam, baik budaya, bahasa, adat, dan keragaman lainnya. Pendiri bangsa dengan arif telah membangun konsensus yang menyepakati, tidak hanya menjaga keragaman namun merajut keragaman sebagai bangsa yang besar.

“Konsensus tersebut dikenal dengan Pancasila dan UUD 1945,” demikian ditegaskan Menag saat menjadi keynote speaker  pada Seminar Nasional “Jaringan dan Kolaborasi untuk Mewujudkan Keadilan Gender: Memastikan Peran Maksimal Lembaga Akademik Masyarakat Sipil, dan Institusi Negara”, di Auditorium Program Pascasarjana Universitas Indonesia, Jakarta, Selasa (10/2).

Menyampaikan makalah dengan judul “Menghormati Pluralitas, Menjamin Rasa Aman Masyarakat”, Menag mengatakan keragaman merupakan sunnatullah. Bahkan dalam ajaran Islam, Menag melanjutkan, dijelaskan bahwa Allah menciptakan keragaman agar manusia saling kenal, untuk bisa mencapai derajat tingkat kearifan tertentu. Keragaman diciptakan agar kita bisa saling melengkapi, saling mengisi.

“Manusia pada hakikatnya makhluk yang terbatas. Maka diciptakan beragam, agar bisa berinteraksi dengan baik, sehingga saling melengkapi, mengisi, dan menyempurnakan satu dengan lainnya,” katanya.

Sesungguhnya, lajut Menag, bukan perbedaan yang dilihat dalam setiap individu, tapi keragaman. Keragaman yang variatif, bukan keragaman yang kontradiktif. Dengan pemahaman seperti itu, Menag berharap keragaman justru bisa memberikan opsi yang beragam untuk mencapai kebajikan.

“Dalam konteks agama, perbedaan dipersepsikan sebagai keragaman. Nilai inilah yang harus terus ditumbuhkembangkan,” tuturnya, “Penerapan sistem nilai-nilai keragaman harus terimplementasi dalam keseharian.”

Hadir dalam acara itu, Rektor UI  M Anis, Wakil Ketua Program Pascasarjana UI  E Kristi Purwandari, Ketua Program Studi Kajian Gender Mia Sisca, dan peserta dari berbagai kampus di Indonesia. (kemenag.go.id)

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home