Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 07:16 WIB | Kamis, 30 Juli 2020

Politisi Senior Lebanon: Pertimbangkan untuk Ganti Perdana Menteri

Politisi dari kelompok Druze Lebanon, Walid Jumblatt. (Foto: dok. Reuters)

BEIRUT, SATUHARAPAN.COM-Lebanon membutuhkan seorang perdana menteri baru untuk membantunya keluar dari krisis ekonomi dan keuangan yang parah, kata salah seorang politisi terkemuka negara itu dalam sebuah wawancara yang diterbitkan pada hari Rabu (29/7).

Senior kelompok Druze Lebanon, Walid Jumblatt, mengatakan mengganti Hassan Diab (Perdana Menteri Lebanon sekarang-Red.) "harus dipertimbangkan secara serius, karena dia menderita amnesia," menurut komentarnya kepada harian lokal L'Orient-Le Jour yang dikonfirmasi oleh kantornya dikutip Reuters.

Surat kabar itu mengatakan Jumblatt merujuk pada pernyataan Diab pada hari Selasa (28/7) di mana ia tampaknya mengkritik Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Yves Le Drian, karena mengaitkan bantuan ke Lebanon dengan memberlakukan reformasi dan kesepakatan IMF. Le Drian mengunjungi Beirut pekan lalu.

"Sudah saatnya para sponsor pemerintah menyadari betapa gentingnya situasi yang dialami oleh anak didik mereka (Diab)," kata Jumblatt.

Lebanon sangat membutuhkan bantuan karena bergulat dengan krisis keuangan yang berakar pada dekade korupsi dan pemborosan negara, dalam krisis terburuknya sejak perang saudara 1975-90. Krisis sekarang ini memasuki negosiasi dengan Dana Moneter Internasional (IMF) pada Mei setelah gagal bayar atas utang mata uang asingnya.

Partai Jumblatt tidak terwakili dalam kabinet Diab, yang dibentuk pada Januari dengan dukungan dari kelompok gerakan Syiah yang didukung Iran, Hizbullah dan sekutunya.

Tetapi Druze, kelompok cabang Islam, adalah minoritas penting dalam sistem pemerintahan sektarian Lebanon, dan Jumblatt sering memainkan peran sebagai “king maker.”

Kantor berita negara, NNA, mengutip Diab mengatakan pada pertemuan kabinet bahwa peringatan Prancis Le Drian dan "kurangnya informasi" tentang reformasi pemerintah menunjukkan "keputusan internasional untuk tidak membantu Lebanon." Diab telah menghapus tweet yang menyatakan hal yang sama.

Pembicaraan dengan IMF terhenti, karena tidak adanya reformasi dan di tengah perbedaan antara pemerintah dan bank mengenai skala kerugian finansial Lebanon.

Kementerian keuangan mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu (29/7) bahwa dialog IMF "berlangsung dan konstruktif," dan pemerintah tetap berkomitmen untuk keterlibatan konstruktif atas restrukturisasi utangnya.

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home