Loading...
HAM
Penulis: Sabar Subekti 18:19 WIB | Rabu, 02 Februari 2022

Sejumlah Universitas Negeri di Afghanistan Kembali Dibuka

Sebuah bus yang membawa mahasiswa memasuki gerbang utama Universitas Laghman di provinsi Laghman pada hari Rabu 2 Februari 2022. (Foto: AFP)

KABUL, SATUHARAPAN.COM-Beberapa universitas negeri di Afghanistan mulai dibuka pada hari Rabu (2/2) untuk pertama kalinya sejak Taliban merebut kekuasaan pada bukan Agustus, namun dengan sedikit perempuan menghadiri kelas kuliah yang menurut para pejabat akan dipisahkan berdasarkan jenis kelamin.

Sebagian besar sekolah menengah untuk anak perempuan dan semua universitas negeri ditutup ketika kelompok Islam garis keras itu kembali berkuasa. Itu memicu kekhawatiran perempuan akan kembali dilarang mengenyam pendidikan, seperti yang terjadi selama pemerintahan pertama Taliban pada kurun 1996-2001.

“Ini adalah momen kegembiraan bagi kami karena kelas kami telah dimulai,” kata Zarlashta Haqmal, yang belajar hukum dan ilmu politik di Universitas Nangarhar. "Tapi kami masih khawatir bahwa Taliban mungkin menghentikan mereka," katanya kepada AFP.

Para pejabat mengatakan universitas di Provinsi Laghman, Nangarhar, Kandahar, Nimroz, Farah dan Helmand dibuka hari Rabu. Lebih banyak dijadwalkan untuk melanjutkan operasi di tempat lain di negara itu akhir bulan ini.

Seorang koresponden AFP melihat hanya enam perempuan, mengenakan burqa yang menutupi semua, memasuki Universitas Laghman Rabu pagi.

Pejuang Taliban menjaga pintu masuk, senapan mesin yang dipasang di tripod diletakkan di gerbang boom. Seorang karyawan mengatakan kelas akan dipisahkan, dengan perempuan mengajar di pagi hari dan laki-laki di sore hari.

Taliban mengatakan mereka tidak keberatan dengan pendidikan untuk perempuan, tetapi ingin kelas dipisahkan dan kurikulum berdasarkan prinsip-prinsip Islam.

Pembukaan kembali beberapa universitas pada hari Rabu terjadi sepekan setelah delegasi Taliban mengadakan pembicaraan dengan pejabat Barat di Norwegia, di mana mereka ditekan untuk meningkatkan hak-hak perempuan untuk membuka miliaran dolar aset yang disita dan membekukan bantuan asing.

Penghentian bantuan telah memicu krisis kemanusiaan di Afghanistan, yang telah dihancurkan oleh perang selama beberapa dekade.

Sementara itu, belum ada negara yang mengakui rezim baru Taliban, yang menjanjikan versi lebih lunak dari aturan keras yang menandai pemerintahan pertama mereka.

Rezim telah memberlakukan beberapa pembatasan pada perempuan yang membuat mereka dilarang melakukan pekerjaan pemerintah. Taliban mengatakan semua sekolah perempuan akan dibuka kembali pada akhir Maret. (AFP)

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Edu Fair
Back to Home