Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 10:37 WIB | Senin, 10 Desember 2018

There is Hope “Damai 2019”

There is Hope “Damai 2019”
Pengunjung anak-anak sedang mengamati lukisan berjudul "Damai 2019" karya Wuritual dalam pameran "There is Hope" di Pendhapa art space, Sewon-Bantul. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
There is Hope “Damai 2019”
Subroto Sm (baju kotak-kotak) didampingi Ketua Ikassri mengamati lukisan berjudul “One Ideology” pada saat pembukaan pameran, Sabtu (8/11) malam.
There is Hope “Damai 2019”
Relief Topeng – resin – 120 x 100 cm – Y. Sigit Supradah.
There is Hope “Damai 2019”
Makar – hardboard cut di atas kanvas – 160 x 120 cm – Bonaventura Gunawan -2017.
There is Hope “Damai 2019”
Controller – mix medium, kinetik – 40 x 20 x 20 cm – Alie Gopal,
There is Hope “Damai 2019”
Hijau Coklat (saat fungsi beda rasa) – pollyester, resin, kayu, cat duco – 185,5 x 6 x 132 – Yusuf Dilogo – 2017.
There is Hope “Damai 2019”
Sumber Kehidupan – akrilik di atas kanvas, gelas, kayu – 50 x 50 cm – Nunung Rianto – 2018.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Apa yang ada dalam benak Anda saat melihat gambar Joko Widodo dan Prabowo Subianto, dua sosok yang sedang bersaing dalam pemilihan Presiden RI pada tahun 2019 duduk berbincang menikmati teh dalam suasana senyum-canda yang hangat? Ya..., sebuah suasana keakraban tanpa dipusingkan dengan kompetisi diantara keduanya yang hari-hari ini membuat pendukung kedua belah seolah terbelah demi kepentingan masing-masing dalam perseteruan yang menafikkan ikatan sebuah bangsa.

Lukisan dengan obyek figur Joko Widodo-Prabowo Subianto yang sedang menikmati teh karya Wuritual berjudul “Damai 2019” dipamerkan dalam pameran seni rupa Ikatan Alumni Sekolah Seni Rupa Indonesia (Ikassri) 2018. Pameran bertajuk “There is Hope” digelar di Pendhapa art space dibuka oleh Subroto Sm, pengajar purna tugas Jurusan Seni Rupa ISI Yogyakarta pada Sabtu (8/11) malam.

“Setelah tahun lalu digelar untuk pertama kalinya dengan mengangkat tema kebersamaan (Togetherness), untuk pameran yang kedua kali ini mengangkat tentang harapan (There is Hope). Harapannya bisa menjadi salah satu sarana membangun kebersamaan tanpa mendiskreditkan pihak manapun. Berkarya, peduli sebagai bentuk membangun peradaban karya seni rupa dan budaya (bangsa) melalui proses edukasi di berbagai lini.” jelas ketua panitia pameran Alie Gopal saat ditemui satuharapan.com, Senin (19/11) di Museum dan Tanah Liat.

Tajuk yang diangkat tidak untuk membingkai karya peserta pameran, namun lebih kepada semangat yang dibawa. Peserta diberikan kebebasan menginterpretasikan tema dalam semangat didalam karyanya. Setiap alumni diberikan kesempatan sekali untuk mengirim satu karya, dan tahun berikutnya bergantian dengan alumni lainnya yang belum ikut pameran.

Pada perhelatan yang kedua tahun ini, sebanyak 176 seniman-perupa alumni SMKN 3 Kasihan-Bantul (dulu SSRI/SMSR) dari berbagai angkatan memamerkan karya dua-tiga matra pada tiga ruang pamer dalam berbagai aliran-gaya, medium, konsep. Tercatat Kawit Tristanto dan Liek Suyanto dari angkatan 1965 serta paling muda Raka Heri Permadi dan Don Bosco Laskar dari angkatan 2013.

Alumni SMKN 3 Kasihan-Bantul (dulu SSRI/SMSR) banyak memberikan sumbangsih bagi perkembangan seni rupa maupun cabang seni lain di Indonesia. Sebutlah pelukis Nasirun, Klowor Waldiono, Bayu Wardhana, Supono PR, Jumaldi Alfi. pematung Dunadi, seniman peran Butet Kertaradjasa. Bahkan Sudjadijono yang tercatat berkarier di TNI AU dan masih menyempatkan diri untuk melukis.

Memasuki ruang pamer, pengunjung langsung disuguhi lukisan berjudul “One Ideology” karya Sihono, Wakil Kepala SMKN 3 Kasihan-Bantul. Seekor burung elang yang sedang terbang mencengkeram pita merah-putih dan tulisan “Bhinneka Tunggal Ika” dengan latar belakang lembaran mata uang bergambar pahlawan nasional serta kupu-kupu warna-warni seakan mengingatkan bahwa satu ideologi Pancasila menjadi pemersatu realitas keberagaman suku/agama/ras yang ada di Indonesia.

Di tahun politik menjelang pemilihan umum, berbagai upaya dilakukan oleh peserta kontestasi untuk meraih dukungan dan tidak jarang menggunakan segala cara yang bisa membahayakan pihak lain bahkan negara. Hiruk-pikuk kondisi Indonesia hari-hari ini yang disibukkan dengan konflik yang tidak produktif adalah gambaran bagaimana kekuasaan seolah segalanya yang harus diraih dengan segala cara pula.

Kekuatan karya-karya alumni SSRI/SMSR adalah kebersahajaan, eksplorasi tradisi, mengangkat hal-hal tentang lingkungan sekitar/kehidupan sehari-hari. Dari hal-hal sederhana tersebut justru kerap muncul karya-karya yang kuat. Evrie Irmasari dengan lukisan bergaya dekoratif-naif membuat karya berjudul “Dolanan”, sebuah ruang sosialisasi dan bermain anak-anak yang akhir-akhir ini hampir terlupakan ketika gawai pintar telah menyandera mereka dalam keasikan dan dunianya yang menyendiri. Nur Mutakin pun mengeksplorasi dunia anak-anak dalam karya berjudul “Congklak”, Surono Adi Wijoyo yang melukis aktivitas masyarakat pedesaan dalam karya berjudul “Menanam Padi”, “Potret Kasih Sayang” karya Sumadi, “Tiga Anak Eksyen” karya Is Marsudi sebagai gambaran potret kehidupan adalah realitas yang aktual.

Meski sederhana dan bersahaja tidak lantas kehilangan daya kritis atas permasalahan sekitarnya. Dalam karya berjudul “Who am I”, M Taufik Oblonk memberikan kritik atas perkembangan teknologi informasi dan dunia yang terhubung sehingga seakan-akan menjadi tidak berjarak telah mengasingkan dirinya sendiri dalam sebuah pertanyaan satire-reflektif: siapa saya? Politisasi agama pun tak lepas dari kritik dalam karya Deden Fajar Gutomo berjudul “Azab Penista Seni”.

Dalam karya karikatur berjudul “Melenggang Bebas”, kritik Budiyono menukik pada praktik peradilan di Indonesia yang terkesan masih setengah hati dalam memberantas praktik korupsi dan koruptor: tiga figur hakim yang bergembira membentangkan karpet merah bagi koruptor. Begitupun dengan lukisan karikatur Budi Budex Santoso dengan figur pasangan calon presiden-wakil presiden yang sedang bertarung untuk pilpres 2019 dalam karya berjudul “Bersatu Kita Teguh, Bercerai karena HOAX.”

Penggalian akar tradisi banyak juga dilakukan dengan konteks hari ini. “Bancak Doyok” (Gunawan Pastel Biru), “Spiritual Landscape” (Ampun Sutrisno), “Penari Sigeh Penguten” (Bunga Ilalang), “Bagong Labuh” (Fajar Subeno), “Mintaraga-Arjuna Wiwaha” (Wiyadi), adalah sebagian kecila dari karya-karya yang mengeksplorasi pada tradisi.

Meski tema pameran bukanlah penyikapan terhadap kondisi sosial-politik Indonesia yang akhir-akhir ini semakin memanas, namun ada satu harapan besar dalam tema “There is Hope” bahwa perjumpaan/silaturahmi bukanlah sekedar untuk menurunkan ketegangan-ketegangan namun juga untuk menyemai mimpi hubungan antar manusia yang cair, intim, dan saling memanusiakan. Dalam hubungan yang bermartabat itulah peradaban dan kemanusian sebuah bangsa dibangun. Setidaknya ada satu harapan besar dari Wuritual: (Indonesia yang) Damai 2019.

Pameran "There is Hope" yang digelar di Pendhapa art space Jalan Prof Dr Wirjono Projodikoro, Tegal Krapyak RT 01 Panggungharjo, Sewon-Bantul akan berlangsung hingga 17 Desember 2018.

 


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home