Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 18:08 WIB | Jumat, 05 Januari 2018

Daun Kari, Peneliti India Menyebutnya “Tanaman Ajaib”

Daun kari (Murraya kornigii). (Foto: gardensonline.com.au)

SATUHARAPAN.COM – Orang menyebutnya daun kari atau daun salam koja. Walaupun kurang populer di sebagian besar wilayah Indonesia, daun kari banyak digunakan sebagai bumbu masakan di wilayah Sumatera.

Daun kari, mengutip Wikipedia, dalam bahasa Inggris dikenal sebagai curry leaves. Daun ini biasanya dipakai sebagai bumbu di Aceh, dan sebagian wilayah Sumatera.

Pohon daun kari biasanya tumbuh di pekarangan rumah. Bentuk daunnya hampir sama dengan daun salam, namun berukuran lebih kecil dan baunya lebih tajam daripada daun salam. Bunga dari tumbuhan ini berbau harum dengan buah berbentuk bulir berwarna ungu.

Peneliti dari Universitas Pantnagar India, dikutip dari academia.edu, menyebutkan daun tumbuhan ini memiliki rasa asam yang sedikit tajam dan pahit. Daun kari digunakan dalam banyak resep ayurveda India dan unani.

Beberapa jenis masakan memang wajib menggunakan daun ini, seperti kari, laksa, masakan ayam tangkap aceh, hingga gulai. Ayam tangkap atau ayam sampah merupakan makanan berupa ayam goreng yang ditaburi dengan aneka daun rempah yang digoreng kering. Salah satu daun rempah yang digunakan adalah daun kari atau salam koja.

Daun-daun rempah yang digoreng garing ini bisa langsung dimakan beserta ayam goreng. Tidak mengherankan jika banyak pencinta kuliner yang tertarik untuk menggunakan daun kari ini dalam berbagai masakan. Daun ini mudah sekali layu dan aromanya akan berkurang bila mengering, dan sebaiknya digunakan saat daun ini masih segar usai dipetik. Meskipun banyak yang mengatakan aromanya langu, tapi begitu masuk dalam masakan aromanya akan sangat menggoda.

Daun kari mengandung banyak vitamin dan mineral alami seperti vitamin A, B, C, E, asam amino, magnesium, serta asam folat, yang menjadikan rempah-rempah ini tinggi akan manfaat kesehatan.

Menurut tim peneliti dari Departemen Ilmu Biomedis, Fakultas Biomedik dan Kesehatan, Universitas Metropolitan Asia Malaysia, sudah sejak zaman dahulu daun kari digunakan masyarakat di India, sebagai obat selain sebagai rempah bumbu.  Daun kari dapat menyembuhkan gangguan disentri, nyeri ginjal, gangguan perut, dan morning sickness.

Bahkan tim peneliti  dari Dept of Home Science, Bhilai Mahila Mahavidyalaya, Bhilai, dan Dept Teknologi Pangan Universitas Pantnagar, Uttarakhand, India, menyebut daun kari sebagai “tanaman ajaib”. Daun kari disebutkan banyak mengandung obat-obatan, dan bersifat nutraseutikal, atau bersifat fungsional (pangan yang memiliki gizi baik dan menunjang kesehatan, meliputi produk segar utuh sampai produk olahan fortifikasi zat gizi dalam makanan dan suplemen makanan).

Secara spesifik nutraseutikal adalah pemberian nutrisi untuk mengatur fungsi biologis tubuh. Dengan baiknya fungsi biologi, diharapkan tubuh akan mengobati sendiri segala bentuk penyimpangan.

Pemerian Botani Tumbuhan Daun Kari

Daun kari atau salam koja dikutip dari usu.ac.id, merupakan daun majemuk dan bentuk daunnya menyirip, dan termasuk dalam golongan famili Rutaceae. Tumbuhan daun kari memiliki tinggi 0,9 hingga 6 meter dan berdiameter 15-40 cm.

Daun kari memiliki aroma yang sangat khas dan rasa sedikit pahit. Bentuknya oval dengan ujung runcing.

Tumbuhan ini dapat tumbuh subur dalam iklim tropis, memiliki bunga kecil berwarna putih kekuningan. Buahnya kecil berwarna hijau ketika masih muda, dan berubah ungu setelah matang.

Tumbuhan ini berkembang biak melalui biji benih dan turunannya tumbuh melalui akarnya. Tumbuhan daun kari memiliki tangkai panjang, dan setiap tangkai berjumlah ganjil yaitu terdiri atas 11-21 helai daun. Bunganya kecil dan berwarna putih, serta memiliki buah yang berwarna cokelat kehitaman.

Batang daun kari berwarna hijau gelap kecokelatan. Daun yang masih muda berwarna hijau muda dan daun yang sudah tua berwarna hijau tua.

Di Indonesia, tumbuhan daun kari biasanya dibudidayakan di Aceh sebagai daun aromatik dan digunakan untuk penyedap alami dalam kari.

Tumbuhan ini berasal dari Tarai, wilayah Uttar Pradesh, India. Saat ini daun kari banyak ditemukan di seluruh bagian India. Daun ini juga dibudidayakan di India Selatan, Sri Lanka, China, Australia, pulau-pulau pasifik, hingga Asia Tenggara. Tumbuhan ini menyebar ke Indonesia dan Afrika Selatan oleh imigran Asia Selatan.

Daun kari memiliki nama ilmiah Murraya koenigii (L.) Spreng. Dalam bahasa China disebut ma jiao ye, dan dalam bahasa Inggris disebut curry leaves. Di Malaysia, dikenal dengan nama garupillai. Di Indonesia, tumbuhan ini memiliki berbagai macam nama daerah, seperti temurui (Aceh), sicerek (Maningkabau), ki becetah (Sunda).

Selain berperan penting dikuliner, daun kari juga memiliki manfaat didunia pengobatan.

Manfaat Herbal Tanaman Daun Kari

Tanaman daun kari, dikutip dari perkebunan.litbang.pertanian.go.id, secara tradisional telah lama digunakan masyarakat sebagai bahan baku untuk formulasi obat tradisional. Kandungan kimia yang terdapat di dalam daun kari banyak mengandung senyawa kimia yang berkhasiat sebagai obat.

Daun kari mengandung senyawa alkaloid, glikosida, saponin, flavonoid, juga berbagai mineral dan mengandung minyak atsiri.  Daun kari digunakan untuk pengobatan berbagai penyakit, antara lain diabetes, anemia, kolesterol, darah tinggi, ginjal, diare, antioksidan, antimikroba, dan kaya zat besi serta tonik.

Menurut Fachraniah dkk, dari Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Lhokseumawe , yang meneliti ekstraksi antioksidan dari daun kari, daun itu mengandung banyak komponen yang bermanfaat untuk kesehatan. Salah satu komponennya adalah antioksidan yang termasuk dalam golongan senyawa protein polifenol.

Antioksidan bermanfaat untuk menghambat aktivitas radikal bebas dan membantu proses pertumbuhan dalam tubuh, serta mengganti sel-sel yang rusak. Dari hasil penelitian tersebut ekstrak air daun kari memiliki manfaat untuk mengatasi anemia, menurunkan kolesterol, mengobati diare dan mengatasi diabetes, karena mempunyai efek sebagai antioksidan, antidiabetes, antimikroba, anti-inflamasi dan antihiperkolesterolemia .

Daun kari, dikutip dari usu.ac.id, adalah sumber vitamin A, vitamin B, vitamin C, vitamin B2, kalsium, dan besi dalam jumlah banyak. Daun kari segar berwarna hijau jika dimakan mentah dapat menyembuhkan disentri.

Daun kari juga bermanfaat bagi wanita yang menderita kekurangan kalsium seperti osteoporosis serta dapat mengatasi mual dan muntah akibat gangguan pencernaan. Daun kari sangat efektif untuk mengobati tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol, luka bakar, erupsi kulit dan katarak.

Selain daunnya, akar tanaman kari dapat digunakan untuk mengobati penyakit ginjal. Kegunaan daun kari yang cukup penting adalah dapat melarutkan penumpukan kalsium dalam tubuh yang menyebabkan jaringan sendi dan arteri menjadi keras dan tidak dapat diserap oleh tubuh sehingga terbentuknya batu ginjal.

Tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, meneliti aktivitas antibakteri etanol daun kari terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Pseudomonas sp. Hasil penelitian menunjukkan penghambatan yang terjadi pada bakteri Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Pseudomonas sp. Hal ini membuktikan daun kari mengandung senyawa aktif yang bersifat antibakteri, seperti flavonoid, fenol, alkaloid, dan saponin.

Sedangkan tim peneliti dari Sekolah Ilmu Farmasi, Universitas Nasional Jaipur, Jaipur India, dan Institut Farmasi, Universitas Nirma, Ahmedabad India, meneliti ekstrak daun kari memiliki aktivitas anti-inflamasi (anti radang), dan analgesik pada tikus albino. Hasilnya menunjukkan manfaat potensial dari daun kari (Murraya koenigii) dalam mengobati kondisi yang berhubungan dengan nyeri inflamasi.

Tumbuhan ini juga memiliki potensi hipoglikemik. Hal ini terbukti dalam penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti Departemen Biokimia dan Biologi Molekuler, Universitas Madras, Chennai, Tamil Nadu, India. Mereka meneliti efek anti-diabetes daun Murraya koenigii pada tikus diabetes yang diinduksi streptozotocin.

Hasil penelitian menunjukkan Murraya koenigii memiliki potensi hipoglikemik yang signifikan secara statistik pada tikus diabetes yang diinduksi STZ. Ekstrak Murraya koenigii tampaknya lebih efektif daripada glibenklamid, obat antidiabetes yang dikenal.

Editor : Sotyati

Back to Home