Google+
Loading...
SMASH AYUB
Penulis: Ayub Yahya 10:25 WIB | Senin, 30 Juli 2018

Kesialan

ilustrasi bertanya-tanya. (Foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM - Ketidakberuntungan: ada yang alamiah, ada juga yang non alamiah. Ketidakberuntungan alamiah: kelemahan atau kekurangan yang “diberikan alam” kepada kita. Contohnya, faktor kelahiran; kita ‘kan tidak bisa memilih lahir dari keluarga apa, di negara mana, disable atau tidak. Ketidakberuntungan non-alamiah, yaitu kelemahan atau kekurangan yang ada pada kita karena pilihan kita; disengaja atau pun tidak sengaja.

 

Apakah ketidakberuntungan alamiah itu bisa disebut kesialan? Dari kacamata iman tidak ada yang namanya kesialan. “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11)

 

Contoh Angelique Widjaja, petenis Indonesia juara turnamen bergengsi Grand Slam Wimbledon Junior 2001. Banyak orang mengatakan, seandainya Angie tinggal di negara yang culture tennisnya mumpuni, seperti Amerika atau Swiss, bisa jadi prestasinya tidak akan berhenti hanya sampai di situ.

Secara rasional oke-lah begitu. Tetapi dari kacamata iman, memang itulah yang terbaik buat Angie. Seandainya Angie orang Amerika atau seperti Maria Sharapova, petenis asal Rusia – pindah ke Amerika, lalu katakanlah prestasi tennisnya melesat tinggi, belum tentu itu yang terbaik buat Angie. Siapa yang tahu masa depan ‘kan?!

 

Contoh lain, Nicholas James "Nick" Vujicic. Ia lahir tanpa kedua lengan dan kaki. Menurut perhitungan rasional, ia tidak beruntung. Tetapi kemudian kita tahu, dengan kondisinya itu ia telah menjadi inspirasi yang luar biasa bagi jutaan orang. Seandainya Nick waktu itu lahir “normal-normal”, mungkin ia tidak akan “sebesar” sekarang pengaruhnya bagi dunia ini.

 

Di sinilah pentingnya kita berjalan dengan iman; hadapi dan terima apa yang tidak bisa diubah dengan iman – dalam keyakinan, bahwa ada rencana Tuhan di baliknya. Lalu jalani dengan rela. Maka, suatu saat kita menoleh kita tidak akan kecewa.

 

 

Editor: Tjhia Yen Nie

 

Rubrik ini didukung oleh PT Petrafon (www.petrafon.com )

Back to Home