Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Kuntadi Sumadikarya 08:24 WIB | Kamis, 16 Februari 2017

Khotbah Orang Palestina dalam Konferensi 500 Tahun Luther (II-selesai)

Percikan Konferensi Internasional Ketiga (7-10 Januari 2017). Radikalisasi Reformasi di Wittenberg dalam rangka memperingati “500 Tahun Reformasi Martin Luther 1517-2017”.
Presiden Lutheran World Federation (LWF), Munib Younan (kiri), bersama Paus Fransiskus. (Foto: Istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Konferensi Radikalisasi Reformasi di Wittenberg dihadiri pelbagai bangsa, dari Afrika Selatan, Amerika, Argentina, Bostwana, Brasil, India, Indonesia, Italia, Jerman, Kolumbia, Kosta Rika, Kuba, dan juga Palestina. Sebagian dari peserta malahan teman-teman Muslim. Bahkan salah satu refleksi pagi dibawakan berdasarkan Alquran oleh pakar Muslim, Dr Ahmad Junaid, dari Pakistan, dan refleksi malam dibawakan berdasarkan Torah oleh Dr Mark Braverman, seorang Yahudi.

Khotbah pembukaan dilayani oleh Munib Younan, seorang Palestina dari Yerusalem. Bukan kebetulan Munib Younan adalah Presiden Lutheran World Federation (LWF), dan menarik juga menyimak khotbahnya yang didasarkan Yoh.1:4-17.

Khotbah Munib Younan disajikan dalam dua bagian. Berikut bagian kedua dari khotbah tersebut. Khotbah pertama disajikan Senin (13/2) lalu:

Jangan Mempertentangkan Taurat dan Injil

Kedua, ketika kita mengkhotbahkan teks ini dalam konteks konferensi kita, ayat 17 (dari Yohanes bab 1), menjadi perhatian kita, yang mengatakan “karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; sebab Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus”. Ini adalah tema lain Reformasi: keseimbangan antara Taurat dan Injil.

Selaku Lutheran, saya membaca ini dan bertanya sendiri, jika Yohanes mengatakan “kasih karunia demi kasih karunia”, apakah karena Taurat adalah kasih karunia ketika ia diberikan dan Yesus sudah menggenapinya? Atau apakah ia mengatakan apa yang diberikan kepada Musa hanyalah Taurat dan hanya Yesus yang kasih karunia? Seperti Luther mengatakan “Was bedeutet dass?” Apa artinya ini?

Tentu saja polarisasi Taurat dan Injil, Musa dan Yesus, bukanlah roh Reformasi. Pasti, Taurat dulunya dan masih terus merupakan kasih karunia bagi manusia berdosa. Sama pastinya kita tahu Yesus membawakan kepada kita kasih karunia yang tak ada sebelumnya. Dari palungan sampai salib dan kepada kubur kosong, kemanusiaan mengenal kasih karunia demi kasih karunia melalui Yesus Kristus Tuhan kita.

Jika Taurat tidak mendorong kita mencintai Allah dan sesama, maka kita gagal paham. Jika Injil tidak mendorong saya mengikuti Taurat bagi Allah dan sesama, kita juga gagal paham. Tanpa keseimbangan Taurat dan Injil, kita kehilangan kepenuhan pesan Yesus.

Lalu apa maknanya ini bagi gerakan Reformasi di masa depan? Saya melihat kecenderungan kuat Kristianitas dewasa ini semakin legalistik. Sebagian menggunakan moto Reformasi “sola scriptura” seakan-akan hal itu Taurat baru yang membelenggu kita, bukan sebagai Injil yang membebaskan kita. Sewaktu kita mendengar Kristiani berkata “Alkitab mengatakan ini …” atau “Alkitab menyalahkan itu …” sebagai sarana menindas semua kelompok orang, maka Alkitab menjadi ideologi etis alih-alih Firman hidup dari Allah dan palungan di mana Yesus diletakkan.

Keadilan Gender

Mari kita ambil contoh tentang keadilan gender dalam gereja. Dewasa ini gereja membagi dirinya sendiri. Sebagian memakai Alkitab sebagai alatnya. Benar, Alkitab ditulis dalam masyarakat patriarki dan dalam zaman patriarki, tetapi Allah bukan patriarki. Allah juga bukan matriarki! Lelaki dan perempuan.  Allah menjadikan kita setara. Lelaki dan perempuan. Kristus menyelamatkan kita setara. Dan Roh Kudus telah memanggil dan memperlengkapi murid-murid lelaki dan perempuan untuk menjadi saksi Injil.

Teolog Elisabeth Schüssler-Fiorenza bicara dengan jelas tentang “Pemuridan yang Setara”. Dia menekankan bahwa murid-murid memiliki “kesetaraan dalam keberagaman”. Semuanya memiliki kelayakan, martabat dan akses yang setara kepada karunia (Roh Kudus), meskipun mereka membawakan suara, pengalaman, pekerjaan dan talenta yang berbeda bagi komunitas kemuridan”.

Sebagaimana Rini Raite teolog Gereja Presbyterian Mizoram, India mengatakan, “Andaikata lelaki mengatakan perempuan bukan murid, Yesus tidak membatasi kemuridan kepada … lelaki saja”. Kriteria kemuridan pertama-tama adalah dipanggil oleh Yesus. Panggilan ini inklusif, tak membedakan gender, ras dan kelas”.

Misi Pembebasan

Misi Reformasi radikal dewasa ini adalah memproklamasikan kepada dunia bahwa Alkitab membawa pesan pembebasan kepada dunia, bukan menimpangkannya. Ia bukan membelenggu, tetapi membebaskan kemanusiaan. Di mana kita kehilangan pesan pembebasan ini, kita kehilangan pesan gerakan Reformasi.

Manakala misi kita gagal mengajarkan orang cara membaca Alkitab dan gagal menyeimbangkan Taurat dan Injil, maka kita tidak membagikan kepenuhan kasih karunia Allah.

Kehilangan Bukanlah Hitungan

Akhirnya, dalam perayaan penyebaran pesan Natal ke tanah-tanah dan bangsa-bangsa yang jauh, saya ingin bicara tentang apa yang terjadi pada saudara-saudara kita dalam Kristus di banyak negara di dunia. Hati saya hancur ketika melihat orang beriman dibunuh ketika sedang berdoa di Mesir, Nigeria, dan banyak tempat lain. Cerita-cerita ini menjadi makin sering, sehingga ketika kita mendengar tentang mereka kita mungkin mencari penghiburan sendiri: “Setidaknya kali ini, hanya lima yang tewas, bukan sepuluh atau dua puluh”.

Namun, tentu saja ini bukan persoalannya. Saudara-saudara kita ini dibaptis dalam nama Allah Tritunggal, dianyam dalam Tubuh Kristus yang sama. Bagaimana kita melupakan mereka? Jika kita mempunyai dua belas saudara, satu mati, lalu apakah kita berkata, “Yah, kita masih punya sebelas lagi”.

Ketika satu anggota menderita, semua menderita. Inilah maknanya dewasa ini gereja adalah gereja yang menderita. Namun, gereja yang menderita juga adalah gereja yang dibaharui.

Para martir membaharui gereja global dewasa ini. Kematian mereka bukan sesuatu yang hanya untuk dihitung. Kita bukan hanya perlu berdoa bagi mereka yang jauh, melainkan juga melihat mereka sebagai orang kudus, teladan dan tantangan bagi kita dalam 500 tahun ke depan. Mereka bukan mati atas kesalahan kecuali beriman kepada Kristus.

Di Suriah, Irak, Mesir dan banyak tempat di dunia dewasa ini orang-orang beriman ini sedang memikul salib. Apa yang dapat kita pelajari dari kesaksian mereka? Mengenai kemuridan? Mengenai misi?

Martir Putih dan Martir Merah

Belum lama ini, saya jumpa Paus Fransiskus di Vatikan, sebagai bagian dari delegasi LWF yang mencakup saya selaku presiden dan Pendeta Martin Junge selaku sekretaris jenderal.

Kami membawa sebuah hadiah bagi Sri Paus – sebuah teko tua karatan, yang dipergunakan oleh para pengungsi Somalia di Kamp Dadaab – Kenya. Kamp pengungsi ini adalah salah satu misi LWF. Ketika melihat teko karatan itu, Sri Paus meloncat dari takhtanya dan menyambutnya dengan senyuman.

Dia mengatakan akan menjadikannya harta dan memberi tempat khusus di kantornya. Lalu katanya, “Ini yang dunia butuhkan dewasa ini – martir ekumenis”. Saya mengklarifikasi, “Apakah Anda maksudkan martir putih yang bersaksi melalui Firman, atau Anda maksudkan martir merah yang memberikan hidup kita? Sri Paus menjawab saya, “Tentu saja kita lebih memilih putih dan kita tidak mencari yang merah, Namun jika perlu, kita harus siap”.

Karya Ekumenis

Saya jumpa Paus Fransiskus lagi ketika kami bersama di Lund dan Malmö, Swedia. Kami bicara tentang isu kesaksian ekumenis. Dalam doa bersama, Sri Paus dan saya menandatangani penyataan bersama, serta LWF World Service dan Caritas menandatangani dokumen komitmen bekerja sama, ini adalah tanda yang kuat bahwa Tuhan Yesus secara radikal sedang membaharui gereja sekarang ini.

Ini bukan karya kita saja. Ini adalah karya Yesus dan Injil kasih-Nya. Reformator paling radikal, Yesus Kristus, sedang menyatukan gereja dalam misi dewasa ini demi dunia. Bahkan sementara kita merayakan peringatan 500 tahun, kita ingat bahwa kita belum pernah memproklamasikan Yesus Lutheran atau Yesus Katolik atau Yesus Ortodoks. Kita memproklamasikan Kristus yang disalibkan. Dia bukan dimiliki oleh satu tradisi, satu benua, satu gender, satu etnis, atau satu konteks. Yesus adalah Tuhan bagi semua.

Pada Epifani, kita merayakan bagaimana kabar kelahiran Yesus membawa pengunjung dari jauh yang mendatangi-Nya. Kabar Baik memiliki kekuatan yang sama dewasa ini. Dunia ini lapar dan haus akan pesan pembebasan Injil. Pesannya malah lebih kuat ketika kita bersama menjadi misionaris kasih, perdamaian, keadilan dan kesetaraan bagi semua.

Dalam zaman di mana kita menghadapi kekerasan ekstrem, politik ekstrem, kemiskinan ekstrem dan terbelahan dunia yang ekstrem, maka hal paling radikal yang dapat kita lakukan adalah berbicara dan bertindak sebagai gereja yang satu. Gereja yang terpecah membawakan pesan yang terpecah juga.

Namun, gereja yang disatukan oleh kasih, meskipun berbeda teologi dan tradisi, dapat menjadi bintang bersinar yang menuntun dunia kepada palungan. Dalam semua ini, mencari Kristus dan Dia yang disalibkan. Baca dan beritakan Alkitab sebagaimana Allah membebaskan, yakni Firman hidup. Di mana mungkin berbicaralah dan bertindaklah dan bersaksilah sebagai satu gereja dan satu Tubuh.

Saudara-saudara dalam Kristus, jika kita menjalankan ketiga prinsip ini (kerendahan hati, keseimbangan dan kesatuan) dalam 500 tahun ke depan, sesungguhnya kita akan melihat reformasi radikal atas gereja, atas masyarakat dan dunia.

Kiranya Allah memberi kita kemauan untuk melakukan hal-hal itu, memberikan kita kekuatan dan kearifan untuk menyelesaikannya. Seperti Paulus tuliskan, “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.” (1 Kor.1:31).

Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Amin.

Wittenberg, 8 Januari 2017

 

*Khotbah ini diterjemahkan Kuntadi Sumadikarya, pendeta emeritus GKI.

Editor : Sotyati

Back to Home