Loading...
EKONOMI
Penulis: Eben Ezer Siadari 11:49 WIB | Selasa, 04 November 2014

Mantan Eksekutif Blackberry Ungkap Sebab Mereka Gagal di RI

Pangsa pasar Blackberry terus merosot karena salah urus.
Peluncuran Blackberry yang berakhir ricuh di Jakarta, 2011. (VoaIndonesia)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Tanda-tanda kemunduran dan kegagalan Blackberry menggarap pasar Indonesia semakin terungkap. Tahun 2011, menurut data IDC, 43 persen ponsel cerdas Blackberry yang diproduksi perusahaan itu diserap oleh pasar Indonesia. Kini, melorot drastis. Di triwulan pertama tahun 2014 saja, angka itu telah susut menjadi hanya tiga persen.

Jika dulu sembilan dari 10 pemakai smartphone menggunakan Blackberry, kini tinggal satu dari 10. Pangsa pasar Blackberry bahkan kini sudah berada dibawah Samsung, Advan, Evercross dan Smatfren. “Blackberry begitu-begitu saja. Kalah inovatif dengan ponsel lain,” kata Tiarma, seorang eksekutif PR di sebuah perusahaan multinasional di Kuningan, yang dalam setahun terakhir meninggalkan Blackberry dan beralih ke IPhone.

Mengapa ini bisa terjadi? Ternyata ada berbagai sebabnya. Dalam sebuah wawancara rinci dengan The Globe and Mail di Jakarta, mantan Country Head Blackberry untuk Indonesia, Andrew Cobham, mengatakan kegagalan Blackberry dikarenakan berbagai salah langkah yang diambil manajemen kantor pusat perusahaan itu selama ini.

“Blackberry adalah produk kelas dunia, (ia gagal) hanya karena Waterloo salah urus,” kata dia, dalam wawancara yang dikutip hari ini (4/11). Waterloo adalah kota tempat kantor pusat Research in Motion (RIM), produsen Blackberry.

Salah satu contoh penyebab kegagalan tersebut, kata Cobham, yang memiliki pengalaman luas di industri telekomunikasi Indonesia ini, ialah pengambilan keputusan yang terpusat. Semua keputusan Blackberry di Indonesia saat itu, tutur dia, harus mendapat persetujuan kantor pusat.

Ia memberi contoh, peluncuran Bellagio dan Bold pada tahun 2011, dengan promosi diskon 50 persen untuk 1000 pelanggan pertama, yang merupakan inisiatif kantor pusat. Acara peluncuran itu berakhir ricuh.

Menurut Cobham, yang ketika peristiwa itu terjadi menjadi sasaran tudingan, kantor pusat Blackberry kala itu tetap berkeras menyelenggarakan acara tersebut, padahal pemerintah Indonesia menyarankan untuk tidak melanjutkan dengan alasan keamanan. Dan, benar, peluncuran itu berlangsung kacau.

Blunder lain yang dilakukan petinggi kantor pusat Blackberry, menurut Cobham, ialah komentar CEO-nya, Thorsten Heins, yang mengatakan akan keluar dari pasar konsumen dan fokus pada pelanggan perusahaan. Di Indonesia, komentar ini dirasakan sebagai ‘bom’ yang tidak disangka-sangka. Komentar ini membuat perusahaan operator selular cemas demikian pula dengan karyawan Blackberry sendiri.

Dengan komentar ini, tutur Cobham, petinggi Blackberry telah meremehkan perusahaan-perusahaan operator domestik yang terbukti sukses. Lebih jauh, tutur Cobham, petinggi Blackberry terkesan menggurui pelaku bisnis selular di Indonesia. Padahal, mereka memiliki lebih dari 130 juta pelanggan di Indonesia.

Derita Blackberry makin terasa parah, karena Pemerintah Indonesia juga terkesan membidik perusahaan Kanada ini. Demi alasan memberantas pornografi, Menkominfo meminta Blackberry menyaring 400 ribu alamat situs mereka yang dianggap menyediakan konten pornografi. Ini ditengarai menyebabkan pengguna Blackberry banyak yang berhenti dan beralih ke ponsel lain.

Pemerintah RI juga menuntut akses ke data Blackberry, seperti juga negara-negara lain. Dan, menanggapi ini, Blackberry tampaknya lebih suka mengambil strategi perang terbuka di depan publik.

Sementara itu, keinginan Pemerintah agar Blackberry membangun pabrik di Indonesia ditanggapi dengan dingin. Sebaliknya, perakitan Blackberry malahan dibangun di Malaysia, yang notabene saingan Indonesia. Ini membuat hubungan Pemerintah Indonesia dan Blackberry semakin tidak mulus.

Menanggapi merosotnya pangsa pasarnya di Indonesia, jurubicara Blackberry, Matt Stewart, mengatakan bahwa negara ini tetap merupakan pasar potensial yang sangat besar. Pengguna aktif bulanan BBM, tutur dia, naik 150 persen tahun lalu.

Ia menambahkan, Blackberry juga sudah meluncurkan jasa dompet mobile (mobile wallet service) yang disebut BBM Money. Mei lalu, sudah pula diluncurkan Blackberry Z3 edisi Jakarta.

“Indonesia telah menjadi salah satu pasar konsumen paling kuat Blackberry, tetapi kami sangat yakin konsumen saat ini akan menjadi pelanggan profesional kami di masa depan,” tutur dia. “Blackberry akan terus menjadi pemain nomor satu untuk konsumen-konsumen seperti ini.”


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home