Loading...
INDONESIA
Penulis: Martahan Lumban Gaol 15:00 WIB | Minggu, 24 Januari 2016

Menghidupkan Kembali Pemikiran Gus Dur Lewat Griya Gus Dur

Ilustrasi. Dua orang warga saat melintas di depan lukisan bergambar wajah KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur disalah satu sudut ruang Rumah Pergerakan Griya Gus Dur Jalan Taman Amir Hamzah, Menteng, Jakarta Pusat. (Foto: Dok. satuharapan.com/Dedy Istanto)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Presiden keempat Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), memang telah tutup usia pada tanggal 30 Desember 2009. Namun pemikirannya, dianggap masih relevan untuk diperjuangkan dan dihidupkan kembali dalam menghadapi berbagai tantangan yang menghadang perjalanan bangsa Indonesia.

Putri Gus Dur, Alissa Wahid, mengatakan nilai-nilai ajaran ayahnya masih relevan dengan berbagai tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Oleh karena itu, menurutnya, pihak keluarga menjadikan sebuah rumah yang juga pernah digunakan Kiai Haji Wahid Hasyim–ayah Gus Dur, sebagai Rumah Pergerakan Griya Gus Dur.

Rumah yang berlokasi di Jalan Taman Amir Hamzah Nomor 8, Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, nantinya akan menjadi tempat konsolidasi dan diskusi bersama berbagai elemen masyarakat untuk menghidupkan kembali ajaran Gus Dur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kita mau konsolidasi seluruhnya bersama di rumah ini agar nilai-nilai ajaran Gus Dur bisa kembali hidup di luar sana. Rumah ini terbuka untuk siapapun,” ucap Alissa saat memberikan kata sambutan dalam acara Peresmian Rumah Pergerakan ‘Griya Gus Dur Jakarta, di Jalan Taman Amir Hamzah Nomor 8, Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, hari Minggu (24/1).

Alissa pun menceritakan kisah-kisah saat ayahnya menerima kehadiran sejumlah tamu di rumah tersebut. Gus Dur sering menggunakan rumah tersebut untuk menerima orang dari berbagai macam suku, agama, aliran, dan golongan, untuk berdiskusi dan memikirkan masalah bangsa.

"Rumah ini menyimpan sejarah penting dalam dinamika perjuangan Indonesia. Sejak rumah itu diduduki Bapak yang dulu menteri agama pertama Republik Indonesia, rumah itu sudah menjadi rumah perjuangan dan pergerakan. Rumah ini menjadi saksi bisu berbagai macam gagasan dan peristiwa penting dalam sejarah bangsa,” ujar Alissa.

“Kita harus melanjutkannya dengan menjadikan rumah ini seperti dahulu," dia menambahkan.

Markas Perjuangan Gus Dur

Putri Gus Dur lainnya, Inayah Wahid, menjelaskan Griya Gus Dur nantinya akan menjadi markas sejumlah lembaga yang melanjutkan perjuangan Gus Dur. Adapun lembaga itu antara lain the Wahid Foundation, Bani KH Abdurrahman Wahid, Abdurrahman Wahid Center for Interfaith Dialogue and Peace at University of Indonesia, Yayasan Teman Bangkit dan lain sebagainya.

Menurutnya, kehadiran Griya Gus Dur merupakan wujud komitmen dan dedikasi keluarga inti bersama aktivis kemanusiaan untuk mewujudkan kemaslahatan umat. “Diharapkan, Griya Gus Dur menjadi tempat berkumpulnya orang-orang pergerakan untuk berdiskusi demi kebaikan bangsa,” kata Inayah.

Peresmian Griya Gus Dur juga ditandai dengan peluncuran gusdur.net dan Lumbung Amal Gusdurian.

Gusdur.net adalah situs yang akan memuat teks, video dan foto Gus Dur. Situs itu akan menjadi semacam 'museum' Gus Dur. Sementara, Lumbung Amal Gusdurian adalah wadah bagi siapa saja yang hendak bersedekah untuk sesama yang membutuhkan.

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home