Google+
Loading...
FOTO
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 14:44 WIB | Minggu, 19 November 2017

Ngayogjazz 2017, Mari Berbagi


Ngayogjazz 2017, Mari Berbagi

Pembukaan Ngayogjazz 2017 dengan kirab mengelilingi Dukuh Kledokan Desa Selomartani, Kalasan-Sleman, Sabtu (18/11) sore. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Ngayogjazz 2017, Mari Berbagi

Selain hiasan berbahan bambu, gang-gang di Dukuh Kledokan dihias dengan dokumentasi perjalanan Ngayogjazz dari waktu ke waktu.
Ngayogjazz 2017, Mari Berbagi

Lumbung buku, sebuah program pengumpulan buku (gambar/tulis.bacaan) pada Ngayogjazz 2017.
Ngayogjazz 2017, Mari Berbagi

Penampilan NonaRia feat Bonita di panggung Gerilya.
Ngayogjazz 2017, Mari Berbagi

Penampilan grup ethnic jazz-fusion JatiRaga.
Ngayogjazz 2017, Mari Berbagi

Penampilan grup Remi Panossian Trio (Prancis) di panggung Markas.
Ngayogjazz 2017, Mari Berbagi

Panggung utama Merdeka yang terletak di lapangan Dukuh Kledokan Desa Selomartani, Kalasan-Sleman.
Ngayogjazz 2017, Mari Berbagi

Ciri khas atap panggung Ngayogjazz 2017: daun kelapa (blarak) kering.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Sudah sebulan Dukuh Kledokan Desa Selomartani, Kalasan-Sleman sibuk berbenah mempersiapkan kawasan pedukuhan untuk digunakan dalam ajang Ngayogjazz 2017. Untuk menghias pedukuhan serta mempersiapkan akomodasi makanan bagi pengunjung, pada Minggu (5-12/11) Froghouse studio dan FSI Univ. Negeri Yogyakarta memberikan workshop artistik kepada warga Kledokan. Dengan bekal tersebut warga menghias pedukuhan dengan bahan bambu dan bahan yang ada di sekitar dukuh, serta pengolahan makanan untuk dijual kepada puluhan ribu pengunjung yang akan mendatangi acara Ngayogjazz 2017.

Selalu ada hal menarik dengan keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan Ngayogjazz dimana masyarakat tidak semata-mata menjadi tuan rumah yang hanya menonton, namun sekaligus tuan rumah yang menyambut tamunya dengan sajian a'la desa: masakan setempat yang beragam, akomodasi, dan tentu saja keramahan.

Sabtu (18/11) siang serentak lima panggung Doorstoot, Gerilya, Markas, Serbu, dan  Merdeka diaktivasi dengan penampilan grup-grup pembuka. Setelah break sholat Ashar dan penampilan beberapa grup di masing-masing panggung, sekitar pukul 16.00 WIB Ngayogjazz 2017 dibuka dengan kirab keliling dukuh melibatkan Drummer Guyub YK, dan beberapa kesenian tradisional seperti kirab Bregada Gotri Seloaji, gejog lesung Tjipto Suoro persembahan warga dusun Kledokan, sepeda onthel dari Paguyuban Onthel Djogja, serta Huaton Dixie yang digawangi oleh Agung Prasetyo, Panjoel, dan kawan-kawan.

Semangat berbagi, inilah yang menjadi warna dalam setiap penyelenggaraan Ngayogjazz. Dalam kehidupan pedesaan guyub, greget, gayeng, adalah alam bawah sadar kehidupan masyarakat desa. Ana rembug dirembug, membangun ruang dialog dengan menghargai pendapat yang ada dalam suasana guyub yang menjadi napas semangat berbagi itu sendiri. Semangat itu pula yang coba ditangkap dan ditularkan Ngayogjazz bekerjasama dengan Komunitas Jendela membuat sebuah gerakan sosial dengan mengumpulkan buku tulis kosong pada pelaksanaan Ngayogjazz tahun 2017 yang akan disumbangkan kepada anak-anak yang tidak mampu di seluruh pelosok negeri. Dengan membawa buku tulis kosong ataupun buku bacaan, menjadi ajakan kepada pengunjung Ngayogjazz  untuk sedikit berbagi untuk sesama.

Di atas panggung muncul juga empati-kepedulian atas nasib sesama. Grup musik JatiRaga  yang mengusung semangat tradisi dalam musik jazz-fusion membawakan satu lagu diantara empat repertoar yang berjudul Lampor Kendheng. Komposisi tersebut terinspirasi oleh perjuangan ibu-ibu di Tegaldowo Kecamatan Gunem - Rembang yang mempertahankan lahan pertanian serta sumber mata airnya dari ekspansi penambangan bahan semen dan pembangunan pabrik semen.

"Lagu ini kami dedikasikan untuk perjuangan ibu-ibu di Tegaldowo Kecamatan Gunem - Rembang yang mempertahankan lahan pertanian dan sumber penghidupannya." kata gitaris JatiRaga Raghipta Utama kepada satuharapan.com.

Tashoora yang diawaki Dita Permatas (vokal, akordion, keyboard) dan Danu Wardhana (biola), Danang (vokal, gitar akustik), Sasi (gitar elektrik), Gusti Arirang (vokal, bass) dan Mahesa Santoso (drum) banyak menyuarakan kritik sosial atas berbagai problem yang menimpa negeri ini terutama dalam hal penegakan hukum.

Musik beraliran blues serta eksperimentasi musik tradisi-kontemporer mendapat tempat dalam Ngayogjazz 2017 dengan hadirnya Brightsize trio, Jeron Beteng Blues, 3/4 Keriting, MantraDisi, serta Gugun Blues Shelter.

Totalitas selalu menjadi sajian setiap grup musik dalam penampilannya. Vokalis Bonita misalnya yang tahun ini menjadi featuring grup NonaRia. Dengan kaki kiri yang terkilir beberapa minggu yang lalu dan saat ini sudah mulai membaik tidak menghalangi dirinya untuk tampil di atas panggung Ngayogjazz 2017 bersama grup musik NonaRia. Satu tangan memegang mikrofon dan satu tangan memegang tongkat tiga lagu tuntas dinyanyikan: "Santai", "Gang Kelinci", "Bimbi". Ada sedikit yang "hilang" saat tamborin ataupun ukulele tidak menyertainya tampil. Namun itu tidak mengurangi energinya di atas panggung.

Hal yang sama bisa ditampilkan grup musik Jess Kidding, sebuah grup jazz asal Purwokerto dalam permainan jazz yang ringan dan riang. Tiga lagu berjudul "Khatulistiwa", "Expression", serta "Confussion" dimainkan tidak sekedar just kidding.

Meskipun dalam waktu bersamaan banyak event besar musik di Yogyakarta semisal pentas Payung Teduh, panggung Jogja VW Festival, Ngayogjazz 2017 dihadiri tidak kurang tiga puluh ribu pengunjung.

Donasi buku tulis/gambar kosong ataupun buku bacaan menjadi oase tersendiri bagi penyelenggaraan Ngayogjazz kali ini. Di tengah menurunnya budaya literasi di kalangan kaum muda serta masyarakat umum yang begitu gampangnya "mengkonsumsi" tulisan instan dalam berbagai media sosial yang tidak jarang bermuatan hoax, donasi buku tulis/gambar kosong ataupun buku bacaan adalah sebuah ajakan: mari membaca, mari menulis, mari menggambar kehidupan kita bersama dalam semangat berbagi dan bertanggungjawab. 

Selain wani ngejazzwani nyumbang (juga) luhur wekasane.

 

Back to Home