Loading...
SAINS
Penulis: Francisca Christy Rosana 17:56 WIB | Jumat, 16 Januari 2015

Angka Gangguan Jiwa di DIY Tergolong Tinggi

Ilustrasi. Penderita ganguan jiwa dipasung. (Foto: Antara)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 2013 mencatat prevalensi gangguan mental Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebesar 2,7 per 1.000 penduduk. Prevalensi  gangguan mental di DIY ini menurut Universitas Negeri Yogyakarta (UGM) tergolong tinggi, terutama untuk gangguan mental berat. 

Angka  yang  lebih tinggi dari prevalensi gangguan mental nasional sebesar 1,7 per 1.000 penduduk. Bahkan, data profil kesehatan DIY 2012 menunjukkan gangguan mental termasuk dalam sepuluh besar kasus penyakit yang didiagnosis pada pasien rawat jalan Puskesmas.

“Kondisi ini memperlihatkan bahwa wilayah DIY memerlukan upaya penanganan pasien dengan gangguan mental secara komperehensif,” kata Azlizamani Zubir pada Jumat (16/1) saat ujian terbuka program doktor di Fakultas Psikologi UGM.

Dosen Kolej Sastera dan Sains Universiti Utara Malaysia ini menuturkan untuk mendukung pemulihan pasien gangguan mental diperlukan pengobatan medis  yang tepat. Hanya saja saat ini menurutnya belum seluruh penderita memperoleh layanan tersebut.

Sementara di sisi lain, jumlah fasilitas maupun tenaga medis untuk penanganan penderita gangguan mental masih terbatas.

“Masih ditambah dengan adanya stigma negatif masyarakat semakin membuat penderita tidak tertangani dengan baik,”jelasnya.

Menurutnya, niat keluarga untuk mencari pertolongan bagi anggota keluarga yang mengalami gangguan mental merupakan hal yang harusdiperhatikan. Peran keluarga sejak dini dalam mencari pertolongan untuk pengobatan medis diharapkan dapat menjadi langkah penanganan gangguan mental di DIY secara lebih komperehensif.

Hasil penelitian yang dilakukan Zubir pada 101 keluarga di DIY dengan anggota keluarga yang rentan mengalami gangguan mental menunjukkan keyakinan terhadap penyebab gangguan mental dapat memengaruhi niat pencarian pertolongan pada psikiater atau pada ahli pengobatan non-medis. Keyakinan yang berbeda pada penyebab gangguan mental akan memberikan dampak yang berbeda terhadap niat mencari pertolongan.

“Rata-rata niat pencarian pertolongan tertinggi ke psikiater, lalu diikuti kiai dan dukun,” jelasnya.

Kendati demikian,  terdapat perbedaan niat mencari pertolongan pada masyarakat desa dan kota. Pada masyarakat desa, niat mencari pertolongan lebih banyak mengarah pada kiai, sementara masyarakat kota cenderung kepada  psikiater. Hal tersebut terjadi karena masyarakat desa cenderung berkeyakinan gangguan mental berawal dari gangguan gaib. Sementara itu, tidak ada perbedaan niatan pencarian pertolongan pada dukun dan psikiater pada masyarakat kota dan masyarakat desa.

Hasil penelitian lainnya menunjukkan stigma di masyarakat turut memengaruhi niat mencari pertolongan apabila terdapat perilaku serupa.  Selain itu, ketersediaan layanan kesehatan dan biaya pengobatan ikut memengaruhi niat keluarga mencari pertolongan bagi penderita gangguan mental. (ugm.ac.id)

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home