Loading...
BUDAYA
Penulis: Francisca Christy Rosana 11:52 WIB | Rabu, 03 Desember 2014

Francis Sujaseputra Angkat Budaya Lokal jadi Desain Unik

"Saya tidak ingin bangsa kita lebih tinggi atau lebih superior, tapi saya tidak mau bangsa kita direndahkan. Jadi saya selalu berharap kesetaraan di dunia ini."
Francis Sujaseputra Angkat Budaya Lokal jadi Desain Unik
Francis Surjaseputra menggelar ekshibisi bertajuk ‘Hibrida’ yang digelar selama dua pekan mulai Selasa (2/12) hingga Senin (15/12) di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. (Foto: Francisca Christy Rosana)
Francis Sujaseputra Angkat Budaya Lokal jadi Desain Unik
Francis sedang menjelaskan karyanya, tikar makan yang dibuat dari sintetis eceng gondok kepada pengunjung.
Francis Sujaseputra Angkat Budaya Lokal jadi Desain Unik
Irawan Karseno, ketua DKJ sedang mencoba ranjang goyang.
Francis Sujaseputra Angkat Budaya Lokal jadi Desain Unik
Seorang presenter sedang mencoba duduk di atas instalasi kamar tidur 'Shell'.
Francis Sujaseputra Angkat Budaya Lokal jadi Desain Unik
Radio kayu yang dibuat oleh Francis.
Francis Sujaseputra Angkat Budaya Lokal jadi Desain Unik
Sendok yang diadaptasi dari sendok pisang, budaya makan masyarakat Jawa tempo dulu.
Francis Sujaseputra Angkat Budaya Lokal jadi Desain Unik
Java Chair, kursi kerja yang dibuat dari gabungan rotan dengan busa.

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM –  Francis Serjaseputra, desainer interior sekaligus Presiden HDII (The Indonesian Society of Interior Designer) periode 2013 – 2015 mengangkat nilai-nilai budaya lokal dalam sebuah desain yang unik dan apik.

Desain yang secara implisit menyuarakan nilai-nilai lokal ini dipamerkan dalam ekshibisi bertajuk ‘Hibrida’, yang digelar selama dua pekan mulai Selasa (2/12) hingga Senin (15/12) di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Dalam ekshibisi ini, Francis memamerkan beberapa buah karya, seperti FurniLove (ranjang goyang), Shell (instalasi kamar tidur yang sudah berubah menjadi sebuah furnitur karena keterbatasan ruang dan berbentuk seperti kerang), 7 (hiasan dindig berupa gambar kaki-kaki perempuan, interpretasi cerita rakyat Jaka Tarub), Playbath (bathub dengan kedalaman yang pas), Java Chair (kursi kantor yang didesain menggunakan bahan tenun), Suru (sendok yang diadaptasi dari sendok daun pisang), dan radio kayu.

Melalui karya-karyanya, Francis ingin bangsa Indonesia yang kaya dengan keberagaman budaya ini  disetarakan dengan bangsa lain.

“Saya tidak ingin bangsa kita lebih tinggi atau lebih superior, tapi saya tidak mau bangsa kita direndahkan. Jadi saya selalu berharap kesetaraan di dunia ini,” kata Francis kepada satuharapan.com saat ditemui seusai membuka ekshibisi pada Selasa (2/12) malam di Taman Ismail Marzuki.

Karena alasan itulah Francis kemudian membuat desain, seperti sendok makan, radio, dan tikar yang diangkat dari nilai-nilai budaya lokal agar menjadi benda yang patut diperhitungkan di pasar internasional.

Salah satu karya Francis, berupa tikar sebagai alternatif pengganti meja dan kursi makan diadaptasi dari budaya Jawa yang kental dengan lesehan. Francis ingin menunjukkan bahwa makan di tikar bukanlah budaya yang dianggap rendah.

“Kalau saya makan di lantai itu budaya saya dan itu bukan suatu budaya yang lebih rendah dibandingkan budaya kalian yang duduk di atas meja. Kalau di kursi makan, saya malah merasa jauh dengan makanan, jauh dengan teman makan saya,” kata Francis.  

Karya unik lain yang dipamerkan adalah radio kayu. Radio ini berbentuk persegi panjang (mirip dengan pilar rumah Joglo), dan mempunyai alat pemutar di sisi kanan dan kirinya  yang berfungsi sebagai pengatur volume suara dan frekuensi gelombang. Sama dengan radio pada umumnya, radio kayu karya Francis ini dapat berfungsi dengan baik, bahkan terlihat klasik dan unik.

“Kalau radio kayu, saya melihat adanya suatu pemaksaan image dari sebuah brand bahwa radio itu harus stereotipe dan masyarakat Indonesia selalu jadi sasaran pasar atau konsumen,” kata Francis.

“Mengapa berbentuk kayu ya menurut saya kalau bisa kayu mengapa harus dari plastik. Ini dari kayu bekas dan berfungsi dengan baik, saya sudah pakai sekitar empat tahun lebih. Pembuatannya dari sisi teknis kurang lebih satu bulan,” Francis menambahkan.

Meski telah berfungsi selamam beberapa tahun, Francis masih belum berniat untuk memasarkannya ke dalam maupun ke luar negeri.

“Radio ini belum saya pasarkan karena saya bingung bagaimana memasarkannya karena ini hibrida. Kalau saya menjual berarti saya harus bisa men-servicenya, sama seperti merk lain yang harus ada service centre-nya,” ujar dia.

Melalui benda-benda karyanya yang dibuat dengan kajian historis ini, Francis berharap masyarakat lokal maupun internasional dapat belajar memulai mengangkat budaya-budaya lama yang hampir lekang kembali terangkat dengan berbagai inovasi dan relevansi.

“Jadi budaya kita itu kaya. Mereka seharusnya belajar dari kita. Kalau kita tidak memulai ini, sampai nanti juga tidak akan ada yang memulai. Artinya kita harus jadi tuan rumah di negara sendiri, mengangkat budaya sendiri sebagai produk yang dipakai sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, Francis berharap mudah-mudahan karya-karya hibrda perkawinan desain, seni, budaya ini bisa dijual dan menjadi produk yang bisa dinikmati serta dipakai oleh masyarakat Indonesia.

Turut hadir dalam pembukaan ekshibisi tersebut, Irawan Karseno Ketua Umum Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta dan kurator Chandra Johan. 

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home