Loading...
INSPIRASI
Penulis: Sabar Subekti 01:00 WIB | Rabu, 02 November 2016

Kucing Jahat Bawa Lonceng

Seseorang yang berusaha menipu akan tertipu oleh cara dan niat jahatnya sendiri.
Relief di candi Mendut yang menggambarkan kisah tentang kucing yang berpura-pura religius agar bisa menangkap tikus dengan mudah. Sebuah dongeng yang mengandung pesan moral yang dalam. (Foto: Sabar Subekti)

SATUHARAPAN.COM - Candi Mendut, tidak jauh dari Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, memiliki sejumlah relief yang menarik diperhatikan guna mendapatkan pelajaran moral. Candi ini juga terkenal karena patung Buddha-nya, yang menurut sastrawan Armijn Pane, sebagai yang terindah.

Relief itu berdasarkan dongeng dunia binatang (fabel) yang menawarkan pelajaran moral bagi masyarakat. Salah satu relief itu menggambarkan kisah sekelompok tikus dalam menghadapi seekor kucing yang suka memangsa mereka.  Dan fabel ini, dengan berbagai variasinya, juga ditemukan di berbagai negara di Asia.

Namun, yang menarik sebagaimana dikisahkan di Candi Mendut  adalah tentang ‘’pemangsa’’ yang berpura-pura sebagai figur pemimpin yang religius. Alksah Si Kucing berpura-pura menjadi seorang pemimpin agama dan tampil dengan jubah, bertongkat dan memegang gelang tahbis. Tujuannya agar bisa mendekati para tikus tanpa dicurigai.

Namun, para tikus telah lebih dahulu mengetahui niat jahat Si Kucing. Ketika Si Kucing mendekati mereka dengan gaya "orang suci", para tikus menyapa dengan hormat, tetapi tetap mengambil jarak dan kemudian lari. Si Kucing, untuk meyakinkan tikus, juga mengatakan bahwa sebagai  ‘’orang suci’’ tidak mungkin dia akan memangsa tikus.

Namun, satu ekor tikus yang cerdas memberanikan diri dan berkata kepada Si Kucing bahwa seorang suci sebaiknya juga membawa sebuah lonceng, selain tongkat dan tahbis. Untuk meyakinkan para tikus, maka Si Kucing pun mulai juga membawa loceng yang selalu berbunyi ketika dia berjalan. Dan para tikus, akan segera lari bersembunyi setiap kali mendengar bunyi lonceng.

Pesan moral yang disampaikan dalam relief itu adalah akal licik pemimpin yang berpura-pura sebagai seorang religius dan suci pada akhirnya akan terbongkar. Bahkan seperti Si Kucing yang berusaha untuk menipu, dia akan tertipu oleh cara dan niat jahatnya sendiri.

Dalam pemilihan kepala daerah yang akan berlangsung di tujuh provinsi, 18 kota, dan 76 kabupaten, kita berharap bisa belajar dari pesan yang dipahat pada batu candi yang dibangun pada awal abad IX itu.  Kiranya tidak ada calon atau pendukungnya yang berniat jahat dengan berpura-pura sebagai pemimpin yang religius.

Jikapun ada calon kepala daerah atau pendukung yang demikian, kita sebagai rakyat perlu ‘’seekor tikus’’ yang memiliki gagasan cerdas dan berani mengarahkan Si Jahat untuk mengenakan ‘’lonceng peringatan".’ Dengan begitu, pada hari pemungutan rakyat tahu mana pemimpin sejati yang harus dipilih.

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor: Yoel M Indrasmoro


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home