Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 09:58 WIB | Jumat, 09 Desember 2016

Le Pen: Imigran Ilegal Dilarang Masuk Sekolah Publik Prancis

Pemimpin Front Nasional Prancis, Mariane Le Pen. (Foto: Ist)

PARIS, SATUHARAPAN.COM - Pemimpin partai sayap kanan Prancis, Marine Le Pen, mengusulkan agar anak-anak imigran ilegal ditolak di sekolah umum sebagai bagian dari proposal yang sulit untuk membatasi pelayanan negara pada imigran ilegal.

"Saya punya sesuatu bagi orang asing, tetapi saya mengatakan kepada mereka: jika Anda datang ke negara kami, jangan berharap bahwa Anda akan diurus, dirawat (oleh sistem kesehatan) dan bahwa anak-anak Anda akan dididik secara gratis," kata Le Pen.

"Itu selesai sekarang, ini adalah akhir dari permainan," katanya kepada massa di sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh kelompok pemungutan suara di Paris.

Pemimpin Front Nasional (FN) ini diperkirakan akan maju sebagai calon presiden Prancis yang pemilihannya dilakukan tahun depan.  Dia berharap bisa memanfaatkan momentum baru setelah kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden di Amerika Serikat.

Berbicara kepada AFP setelah acara tersebut, Le Pen menjelaskan bahwa dia hanya ingin memblokir pendidikan bagi imigran yang berada di negara itu secara ilegal, bukan bagi semua orang asing.

Tapi dia mengatakan bahwa setiap orang asing  yang memanfaatkan sistem pendidikan publik tanpa membayar pajak pada Perancis, harus berkontribusi.

"Kita akan memita upaya  untuk solidaritas nasional kita bagi yang paling rendah hati, yang paling sederhana dan paling miskin di antara kita," kata Le Pen pada konferensi itu.

Front Nasional melihat Le Pen sebagai bagian dari pemberontakan global melawan imigrasi. Partai politik  yangdidirikan dan situasi globalisasi telah dicontohkan oleh kemenangan Trump bulan lalu.

Secara teratur  Le Pen mengkritik penggunaan anggaran berlebihan untuk sistem jaminan sosial Prancis bagi orang asing, dengan alasan bahwa orang-orang Prancis harus diprioritaskan.

Le Pen mengklaim sebagai hal palsu bahwa siapa pun yang berusia di atas 65 bisa tiba di Prancis dan mulai pembayaran jaminan sosial hari tua.

Jajak pendapat saat ini menunjukkan kualifikasinya untuk putaran kedua pada pemilu Mei mendatang. Dia diperkirakan akan menghadapi  calon lain dari Partai Republik, Francois Fillon.

Beberapa analis melihat dia berkemungkinan mengambil kekuasaan, tetapi 12 bulan terakhir telah menjadi tahun yang tak terduga dalam politik dan ekonomi Prancis yang menurun dan masalah imigrasi adalah isu utama bagi pemilih.

Le Pen ingin menarik Prancis dari zona euro dan telah menyerukan referendum tentang keanggotaan Prancis dari Uni Eropa.

Sementara itu, Fillon juga memilih mengambil garis keras terhadap imigrasi dalam programnya, menjanjikan untuk mengurangi ke tingkat "minimum" dan menyerukan pendatang baru untuk beradaptasi dengan budaya Prancis.

Dia telah menolak gagasan "multikulturalisme" dan menegaskan bahwa Prancis harus mempertahankan tradisi, bahasa dan identitas.

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home