Loading...
EKONOMI
Penulis: Bayu Probo 10:40 WIB | Senin, 07 April 2014

Mantan CEO Mozilla: Komunitas di Indonesia Dukung Saya

Brendan Eich, mantan CEO Mozilla Foundation. (Foto: Newsweek.com)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Brendan Eich pada Kamis pekan lalu (3/4) mengundurkan diri dari jabatan CEO Mozilla akibat tekanan kelompok pendukung pernikahan gay.

Dia ditekan karena pernah menyumbang uang untuk kampanye rancangan undang-undang menolak pernikahan sejenis.

Dia menyebut Indonesia dalam wawancara dengan Cnet, dua hari sebelum pengunduran dirinya. Eich hanya sempat 10 hari menjadi CEO Mozilla kemudian mengundurkan diri.

Eich—dalam wawancara itu masih menjabat CEO—mengatakan bahwa Mozilla sangat inklusif, tidak hanya bagi pendukung pernikahan sejenis tapi juga bagi orang seperti dirinya dan para penentang pernikahan gay di Indonesia, yang merupakan bagian dari keberadaan Mozilla.

“Kami punya komunitas (Mozilla) yang kuat di Indonesia. Kami mengembangkan Firefox OS ke pasar di Indonesia. Di sana, orang punya pendapat berseberangan atas hal ini (pernikahan sejenis).”

“Mereka (komunitas Mozilla di Indonesia) tidak membawa-bawa hal tersebut ketika bekerja dengan komunitas Mozilla. Saya bertemu dengan banyak dari mereka saat Mozcamp 2012 di Singapura.”

“Di belahan dunia sana, mereka  tidak punya pengeras suara (untuk menyuarakan antipernikahan sejenis). Misi Mozilla dan prinsip inklusivitas kami mengharuskan suara mereka juga masuk.”

Eich diwawancara Cnet perihal tekanan terhadap dirinya yang pada 2008 menyumbang 1.000 dolar untuk kampanye rancangan peraturan yang menentang pernikahan gay.

Sumbangan itu terungkap tahun 2012 dalam dokumen publik dan sejak itu dia jadi sasaran para pendukung pernikahan gay.

Cnet menulis lebih dari 70 ribu orang telah menandatangani petisi meminta Eich mundur dari CEO Mozilla jika masih tidak mendukung pernikahan sejenis.

Atas pertanyaan “apakah eksekutif boleh dinilai berdasarkan keyakinan politiknya?” Eich menjawab, “Bagi Mozilla, ini hal yang problematik karena prinsip kami adalah inklusivitas, komunitas di Indonesia mendukung saya namun mereka tidak punya pengeras suara.”

“Kami harus hati-hati dalam menerapkan prinsip-prinsip inklusivitas. Bagi Mozilla, hal itu selalu menjadi cara keberlangsungan kami. Itulah cara kami beroperasi di komunitas terbuka, dalam open source, dan di Mozilla.”

Di bagian lain, dia minta maaf kepada semua pihak, termasuk teman-temannya dari kalangan LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) yang tersakiti setelah tahu Eich pernah menyumbang untuk gerakan menentang pernikahan sejenis.

Namun, selanjutnya dia mengemukakan bahwa Mozilla dalam bahaya “jika tidak dapat meneruskan kegiatannya berdasarkan prinsip inklusivitas, tempat orang dapat bekerja sesuai misi Mozilla tanpa melihat latar belakang dan keyakinan. Saya kira kami akan kandas.”

Ketika ditanya apakah dia tidak sebaiknya mengumumkan kini dirinya mendukung pernikahan sejenis untuk menyelamatkan Mozilla dan Firefox, Eich antara lain menjawab :

“Saya pikir tidak baik bagi integritas saya atau integritas Mozilla jika berubah posisi karena tekanan. Kalau Mozilla jadi makin eksklusif, saya pikir hal itu keliru dan akan mengecilkan Mozilla, Mozilla jadi terfragmentasi.” (Ant)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home