Loading...
INSPIRASI
Penulis: Gregorius Silimbulang 05:31 WIB | Selasa, 14 Juni 2016

Menjadi Mahasiswa: Gumulan Jiwa

Mengenal kemampuan diri, kebutuhan dunia, dan prioritas Ilahi butuh digumuli serius.
Menjadi mahasiswa (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Sebentar lagi kehidupan kampus akan kembali marak. Mereka yang mampu, punya kualifikasi tertentu dan lolos tes akan beralih status menjadi mahasiswa. Pasti amat menyenangkan. Tetapi, saya pun tahu ada lebih banyak lagi yang tidak atau belum mampu meraihnya pada tahun ini disebabkan berbagai faktor, salah satunya biaya. Masih segar di ingatan, beberapa tahun silam, saya sampai menangis karenanya.

Kepada yang berhasil lolos ke perguruan tinggi idaman, seperti yang juga banyak disarankan konsultan karir, hendaklah diingat bahwa ijazah yang akan diraih hanya sanggup mengantar ke ruang wawancara kerja. Mengenal kemampuan diri, kebutuhan dunia, dan prioritas Ilahi butuh digumuli serius karena titik persinggungan ketiganya, yang bisa kita sebut panggilan jiwa, memengaruhi penentuan jurusan dan tempat berkarir kelak.

Sebab apalah gunanya kita belajar tinggi-tinggi dengan penelitian yang rumit-rumit jika tak dapat mendaratkannya dalam menjawab permasalahan bangsa? Apa kebanggaannya jika kita membaktikan kepakaran kita hanya untuk mengejar ambisi dan nafsu diri? Tidak salah mengejar pencapaian. Namun, jika tak berdasarkan panggilan, itu tak menarik dihadapan Pencipta, seberapa pun menariknya di mata manusia.

Panggilan, bagi Santo Agustinus, bisa dikonfirmasi dari ”tanda” kegelisahan jiwa. Apa yang membuat kita bersemangat, atau selalu ingin melakukan yang disukai bisa jadi pertanda panggilan kita. Tentu masih perlu diuji dalam Terang Sabda Tuhan, doa, dan konsultasi dengan orang terdekat. Nah, bagian terakhir ini biasanya krusial. Pertimbangan ”ini yang terbaik” atau ”yang ini lebih menjamin masa depanmu” bila tidak memperhitungkan panggilan jiwa, bisa mengakibatkan salah jurusan dan tidak maksimal dalam pekerjaan nanti.

Keberhasilan masuk perguruan tinggi pada akhirnya haruslah dibayar dengan perjuangan bila tak ingin masa studi menjadi sia-sia. Status ”maha” yang nanti melekat pada diri para mantan siswa hendaklah dilihat sebagai titipan Yang Mahakuasa sehingga konsekuensinya  mesti dibaktikan bagi kebaikan kemanusiaan dan untuk kemuliaan Tuhan alih-alih untuk dibuktikan kepada orang-orang di kampung halaman bahwa kini sudah mahasiswa dan nanti punya jabatan mentereng. Padahal proses masih panjang.

Kalau menemukan panggilan jiwa adalah titik yang untuknya kita beroleh keutuhan jiwa, dan membuat kita penuh renjana (passion) berkarya mengapa kita lekas puas dengan status privilese mahasiswa beserta prospek masa depannya?

Selamat bergumul. Hidup mahasiswa!

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home