Loading...
DUNIA
Penulis: Eben E. Siadari 18:51 WIB | Minggu, 31 Juli 2016

Rakyat Skotlandia Unjuk Rasa Tuntut Referendum Merdeka

Sebuah foto yang diunggah oleh akun twitter Ross Edward @rssdwrds menggambarkan ribuan rakyat Skotlandia berunjuk rasa menuntut referendum merdeka (Foto: akun twitter @rssdwrds)

GLASGOW, SATUHARAPAN.COM - Dengan mengibarkan bendera  dan memainkan alat musik tiup tradisional khas milik mereka, ribuan rakyat Skotlandia turun ke jalan di kota Glasgow, kota terbesar di salah satu negara bagian Britania Raya itu, pada hari Sabtu (30/07).

Unjuk rasa kali ini meminta diadakannya referendum kedua kalinya bagi kemerdekaan Skotlandia dari Britania Raya, pasca referendum terdahulu yang hasilnya menetapkan Inggris keluar dari Uni Eropa.

The Telegraph melaporkan panitia yang mengorganisasikan unjuk rasa ini menyebut lebih dari 5.000 rakyat Skotlandia ambil bagian. Sementara polisi memperkirakan jumlahnya berkisar 2.500 hingga 3.000. Mereka berkumpul di lapangan George, Glasgow.

Unjuk rasa di Glasgow menuntut referendum merdeka (Foto: Anthony Carrol @the-tweed)

Unjuk rasa ini menjadi topik perbincangan yang ramai di media sosial dengan hastag #MarchforIndy.

Salah satu tweet berkata, "ini merupakan unjuk rasa pertama yang akan terjadi di seluruh negara. Satu-satunya kesempatan untuk masa depan yang lebih adil adalah merdeka."

Referendum bagi kemerdekaan Skotlandia dari Inggris sudah pernah diadakan pada September 2014. Ketika itu 52 persen rakyat Skotlandia memilih tetap berada di dalam Kerajaan Inggris sedangkan sisanya memilih menjadi negara tersendiri.

Sementara itu, pada referendum Brexit 23 Juni lalu, yaitu menentukan apakah Inggris berada di dalam Uni Eropa atau keluar, 62 persen rakyat Skotlandia memilih bertahan di Uni Eropa. Sedangkan 38 persen memilih keluar dari UE.

Ini berbeda dengan hasil nasional, dimana 52 persen rakyat Inggris memilih keluar dari UE dan sisanya memilih bertahan.

Segera setelah diumumkannya hasil referendum Brexit, Menteri Pertama Skotlandia, Nicola Sturgeon, pemimpin sayap kiri Partai Nasional Skotlandia yang menjalankan pemerintahan minoritas di Parlemen Skotlandia di Edinburgh, mengatakan referendum kemerdekaan kedua kalinya saat ini menjadi salah satu pilihan.

Sebuah kalimat dalam manifesto Partai Nasional Skotlandia, mengatakan, bahwa referendum merdeka kedua kalinya dapat terjadi "jika ada perubahan yang signifikan dan material dari keadaan yang berlaku pada tahun 2014, seperti apabila Skotlandia keluar dari Uni Eropa yang bertentangan dengan kehendak kita".

Namun,  jajak pendapat terbaru yang diselenggarakan oleh YouGov menemukan bahwa 53 persen dari rakyat Skotlandia akan memilih untuk tetap berada di dalam Britania Raya jika referendum kemerdekaan dilakukan saat ini, sedangkan 47 persen memilih berpisah.

Survei itu juga mendapati bahwa 46 persen rakyat Skotlandia lebih memilih tetap berada di dalam negara Inggris pasca Brexit, dibanding 36 persen yang lebih memilih jadi negara merdeka di dalam UE.

YouGov melakukan survei terhadap 1.006 orang dewasa Skotlandia antara 20 Juli dan 25 Juli.

"Satu bulan setelah keputusan mengejutkan Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa, penelitian YouGov terbaru di Skotlandia menunjukkan tidak ada pergeseran nyata tentang aspirasi  kemerdekaan," kata Matthew Smith dari YouGov dalam laman resmi mereka.

"Namun, masih banyak yang bisa berubah di tahun-tahun mendatang," tambahnya.

"Setelah rincian kesepakatan Brexit ditetapkan, itu mungkin akan mengubah konteks perdebatan kemerdekaan," kata dia.

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home