Loading...
OLAHRAGA
Penulis: Prasasta Widiadi 14:33 WIB | Selasa, 06 September 2016

Rio de Janeiro Kurang Bersahabat bagi Disabilitas

Ilustrasi: Atlet disablitas Afrika Selatan, Oscar Pistorius. (Foto: businessinsider.com.au)

RIO DE JANEIRO, SATUHARAPAN.COM – Saat sejumlah kalangan bersuka cita karena Rio de Janeiro, Brasil, sukses menyelenggarakan ajang multievent olahraga empat tahunan dunia, olimpiade, beberapa orang memiliki pendapat berlawanan. Sejumlah penyandang disabilitas merasa kota tersebut bukan kota yang cocok untuk menyelenggarakan ajang multievent olahraga empat tahunan dunia bagi atlet disabilitas, Paralimpiade.

Feature yang ditulis The Telegraph, hari Selasa (6/9), menggambarkan beberapa penyandang disabilitas dan penggemar olahraga di Brasil merasa kota tersebut kurang cocok menyelenggarakan ajang yang berlangsung 7 sampai 18 September tersebut.

Heitor Luiz de Menezes, penggemar olahraga yang juga penyandang disabilitas asal Brasil, awalnya mengatakan pemilihan Rio de Janeiro sebagai tempat penyelenggaraan Paralimpiade 2016 merupakan mimpi yang jadi kenyataan. Dia sudah memiliki tiket untuk menyaksikan pembukaan Paralimpiade 2016 di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, Brasil. Tapi, betapa mengecewakan, tidak mudah bagi penyandang disabilitas seperti dia mendapatkan akses saat ingin menggapai tribun orang yang berkursi roda.  

Dia mendeskripsikan lintasan untuk pengguna kursi roda dari pintu masuk stadion hingga tribun khusus untuk kelompok disabilitas sangat curam. Selain itu menurut Luiz de Menezes, di stadion tersebut ruang parkir untuk kelompok disabilitas yang memiliki mobil kurang memadai.

“Saya sebenarnya ingin pergi ke acara pembukaan olimpiade, tetapi saya malah membatalkannya, karena beberapa saat lalu saya mengalami kesulitan mengakses stadion, sekarang saya malah ingin memberikan tiket tersebut ke orang lain saja,” kata Luiz de Menezes.

“Olimpiade, IOC (International Olympic Committee) dan Pemerintah Rio de Janeiro  tidak memikirkan kelompok disabilitas,” kata dia.

The Telegraph mencatat pada Olimpiade 2016, Wali Kota Rio de Janeiro, Eduardo Paes, menyatakan pihaknya telah menghabiskan anggaran dalam jumlah besar untuk memperbaiki transportasi dan pelayanan umum.

Namun, Paes dianggap masih kurang memperhatikan akses bagi kelompok disabilitas. The Telegraph mencatat hal tersebut merupakan sebuah hal yang harus diperbaiki menjelang pembukaan Paralimpade 2016 hari Rabu (7/9).

Anggota Brazilian Institute for Disabled Rights (lembaga yang mengadavokasi hak disabiltas di Brasil), Teresa Costa D’Amaral, mengatakan kelompok disabilitas di negara tersebut menghadapi permasalahan lain selain fasilitas publik, yakni tingginya harga obat-obatan serta terbatasnya pendidikan luar biasa di Rio de Janeiro 

“Untuk kaum disabilitas sangat sulit rasanya hidup di Rio,” kata D’Amaral.

Dia menyesalkan di Brasil masih ada anggapan kelompok disabilitas merupakan orang yang berbeda dan tidak sempurna. 

Dalam menyikapi masalah tersebut, Comite Paralimpico Brasileiro atau Komite Paralimpade Brasil beberapa waktu lalu telah mengunggah beberapa foto di situs resmi mereka tentang kepedulian terhadap kelompok disabilitas, yang ditunjukkan dengan gambar model dengan kondisi fisik normal yang membantu seorang atlet disabilitas dan di bawahnya terdapat tulisan: “We Are All Paralympics” (Kita Dukung Paralimpiade). 

D’Amaral mengatakan walau fasilitas tersebut kurang memadai dan saat ini terdapat kekurangan di Rio de Janeiro, dia merasa optimistis Paralimpiade akan diterima dengan baik oleh masyarakat Brasil.    

“Saya pikir Paralimpiade akan diterima dengan baik. Orang-orang Brasil adalah orang yang sangat baik dan akan menyambutnya,” kata D'Amaral.

Menurut D’Amaral, kegiatan seperti Paralimpiade seharusnya membuat kelompok disabilitas diterima dan lebih eksis di tengah-tengah masyarakat.

Harapan dan Optimisme

Mark Atkinson, Kepala Eksekutif dari Scope (organisasi yang mengurusi amal untuk kelompok disabilitas di Britania Raya) mengatakan kelompok disabilitas percaya Paralimpiade mengubah nasib kelompok disabilitas secara keseluruhan menjadi lebih baik.

“Bila saya melihat contoh London 2012 (Paralimpiade 2012), selama dua pekan  penyelenggaran (Paralimpiade 2012), saya melihat banyak kelompok disabilitas di Inggris yang mengalami kegembiraan, karena biasanya saya mendengar salah satu dari mereka yang mengalami perlakuan buruk di tempat kerja, di taman bermain,” kata Atkinson.    

Atkinson menyadari, kegembiraan bagi kelompok disabilitas tidak dialami kelompok disabilitas satu atau dua pekan saja. 

Sementara itu, atlet disabilitas putri Brasil nomor lempar lembing, Shirlene Santos de Souza Coelho, mengharapkan kontingen Paralimpiade Brasil akan mencapai raihan medali yang lebih banyak daripada yang didapat atlet Olimpiade. 

“Kekurangan saya tidak membatasi saya. Saya tidak pernah merasa berkekurangan,” kata atlet putri yang menderita cerebral palsy tersebut.

Menurut dia saat ini yang terpenting bagi olahraga bagi kelompok disabilitas di Brasil yakni dukungan keuangan. “Saya pikir dalam  keuangan, kami terbatas dalam sektor investasi,” kata dia.

Menurut dia saat ini terjadi ketidakadilan dalam pendanaan karena kontingen atlet Olimpiade Brasil mendapat sponsor, sedangkan paralimpian (atlet disabilitas) Brasil kurang mendapat pendanaan.

“Jika seorang atlet Paralimpiade menang medali, itu tepukan di punggung, dan ada jabat tangan dari pejabat olahraga,” kata Souza Coelho.

Menurut Souza Coelho olahraga bagi atlet disabilitas adalah sebuah hal yang menunjukkan bahwa walau seseorang menghadapi keterbatasan fisik, dia mampu melakukan banyak hal.  

“Olahraga adalah kehidupan kami. Ketika kami ingin melakukan sesuatu, kami mendedikasikan diri untuk itu, bahkan dalam keadaan yang paling sulit sekalipun,” kata Souza Coelho. (telegraph.co.uk)  

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home