Loading...
INDONESIA
Penulis: Reporter Satuharapan 11:24 WIB | Rabu, 10 Agustus 2016

Tidak Adil Bebankan Penanganan Sandera pada Pemerintah

Buruh dari berbagai elemen melakukan aksi menuntut pembebasan ABK asal Indonesia yang menjadi sandera kelompok bersenjata Abu Sayyaf di depan Kedubes Filipina, Jakarta, Kamis (14/7). Aksi itu selain menuntut pembebasan 10 ABK yang disandera Abu Sayyaf, juga mendesak Pemerintah Filipina untuk bekerja sama dengan Indonesia dalam upaya pembebasan sandera. (Foto: Antara)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Pakar hukum internasional Hikmahanto Juwana menilai publik tidak adil jika hanya membebankan kepada pemerintah urusan pembebasan 11 WNI yang disandera kelompok separatis Filipina, Abu Sayyaf.

Menurut dia, pemerintah Indonesia sudah melakukan langkah tepat dengan moratorium pengiriman batu bara ke Filipina, juga peringatan agar para anak buah kapal (ABK) tidak melalui jalur pelayaran berbahaya. Namun, peringatan ini seringkali tidak diindahkan oleh ABK atau para perusahaan pemilik kapal.

"Misalnya, kapal berbendera Malaysia (yang dibajak), adil tidak kalau mereka disandera tetapi pemerintah kita yang turun tangan? Penculik minta tebusan, pemerintah Indonesia tidak bisa mendesak perusahaan untuk membayar, sedangkan pemerintah Malaysia angkat tangan," ujar Hikmahanto di Jakarta, hari Rabu (10/8).

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia itu berpendapat pemerintah Indonesia harus lebih tegas menegakkan peringatan akan jalur-jalur maritim yang berbahaya di sekitar perairan Malaysia dan Filipina.

Di sisi lain, masyarakat terutama para WNI yang bekerja di kapal-kapal asing, harus memahami bahwa saat ini WNI memiliki "harga" tersendiri di mata kelompok penyandera, terbukti dengan kasus yang terjadi selama dua bulan terakhir di mana para penculik terkesan hanya mengutamakan WNI sebagai sasaran.

Motif penculikan WNI oleh Abu Sayyaf disebut-sebut karena dalam pembebasan 10 WNI pada Mei lalu, kelompok militan bersenjata itu berhasil memperoleh uang tebusan sebesar 50 juta peso atau sekitar Rp 14 miliar, meskipun pemerintah Indonesia menyangkal isu tersebut.

Pembayaran tebusan, menurut Hikmahanto, selain tidak menunjukkan sikap tegas pemerintah juga bermakna negatif karena Indonesia seolah-olah membantu Abu Sayyaf melakukan pemberontakan terhadap pemerintah sah Filipina.

"Sementara kalau kita melihat Kanada dan Norwegia, mereka tidak membayar tebusan meskipun warganya sampai dieksekusi. Empat warga Malaysia (yang disandera) juga belum dibebaskan sampai sekarang karena mereka tegas tidak mau membayar," ucapnya.

Hingga saat ini, WNI yang disandera oleh kelompok Abu Sayyaf berjumlah 11 orang dan belum dibebaskan. Kasus terakhir adalah penyanderaan Herman Bin Manggak, warga asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, yang merupakan kapten kapal penangkap udang berbendera Malaysia.

Herman diculik di wilayah Kinabatangan, Sabah, Malaysia pada 3 Agustus lalu, sementara dua ABK kapal masing-masing berkewarganegaraan Indonesia dan Malaysia, telah dilepaskan. (Ant)

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home