Loading...
RELIGI
Penulis: Reporter Satuharapan 08:54 WIB | Kamis, 13 Oktober 2016

Desmond Tutu Ajak Pemimpin Kristen Dukung Euthanasia

Mantan Uskup Agung Cape Town, Afrika Selatan, dan pemenang Nobel Perdamaian, Desmond Tutu. (Foto: world.time.com)

SATUHARAPAN.COM - Setelah sepanjang hidupnya menolak euthanasia, dua tahun lalu mantan Uskup Agung Cape Town, Afrika Selatan, dan pemenang Nobel Perdamaian, Desmond Tutu, justru mendesak para pemimpin Kristen untuk mendukung pilihan euthanasia. Ajakan itu ia tujukan khususnya bagi mereka yang berada dalam kondisi terburuk. Sekarat.

Tutu menuliskan ajakannya itu ketika merayakan ulang tahun yang ke-85 tahun, melalui The Washington Post. Ia menyadari, dia juga tidak lama lagi akan meninggal, sehingga  semakin menyadari bahwa setiap orang berhak untuk meninggal dalam kehormatan seperti yang mereka harapkan dalam hidup.

“Seperti saya memperjuangkan belas kasih dan keadilan dalam hidup, saya yakin bahwa mereka yang sekarat harus diperlakukan dengan penuh belas kasih serta adil ketika mereka mendekati kematian. Orang-orang yang sekarat harus diberi hak untuk memilih bagaimana mereka meninggalkan dunia ini. Saya yakin dengan pendampingan yang baik, pilihan yang diberikan tentunya kematian yang terhormat,” tulis Tutu.

“Hari ini saya  semakin dekat dengan kematian. Pikiran saya saat ini adalah bila nanti saya mati, saya ingin diperlakukan dengan baik juga. Untuk itu saya akan mengerahkan segenap tenaga untuk menyuarakan hal ini bagi mereka yang sekarat,” Tutu melanjutkan.

Tutu berpendapat, mereka yang sekarat dipaksa untuk bertahan dalam sakit yang luar biasa dan mereka selalu diberitahu bahwa hal itu bukanlah hal yang mereka inginkan.

“Saya percaya akan kesucian hidup. Saya tahu kita semua akan mati dan kematian merupakan bagian dari kehidupan. Orang yang sekarat pun memiliki kontrol untuk hidup mereka sendiri, lalu mengapa dilarang untuk memilih kematian mereka sendiri? Kenapa banyak orang memaksa untuk bertahan dalam sakit yang luar biasa itu?” tanya Tutu.

“Saya sudah mempersiapkan kematian saya, dan saya sudah menjelaskan bahwa saya tidak ingin dipertahankan untuk hidup dengan alasan apa pun. Saya berharap saya diperlakukan dengan belas kasih dan diizinkan untuk melanjutkan fase kehidupan selanjutnya atas pilihan sendiri,” Tutu menambahkan.

Selama ini hanya Amerika Serikat, khususnya wilayah Oregon dan California yang mengizinkan euthanasia. Tutu beragumen bahwa ribuan orang di seluruh dunia telah dilanggar haknya untuk meninggalkan dengan kehormatan, dan itu melanggar hak seseorang.

“Dengan menolak hak mereka yang sekarat untuk meninggal dengan hormat, kita sedang gagal mempraktikkan nilai kekristenan. Saya berdoa agar para politisi, praktisi hukum, dan pemimpin agama untuk mendukung agar mereka yang sekarat dapat memilih bagaimana mereka mati,” ujar Tutu. (christianpost.com/spw)

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home