Loading...
BUDAYA
Penulis: Bayu Probo 16:35 WIB | Senin, 01 Desember 2014

Van Gogh Dibunuh, Bukan Bunuh Diri

Artikel delapan fakta tentang Vincent van Gogh yang tidak banyak diketahui
Van Gogh Dibunuh, Bukan Bunuh Diri
Lukisan diri Vincent van Gogh (1887). (Sumber: wikipedia.org)
Van Gogh Dibunuh, Bukan Bunuh Diri
The Starry Night, salah satu lukisan terbaik van Gogh.

SATUHARAPAN.COM – Pelukis Vincent van Gogh kemungkinan besar dibunuh, bukan bunuh diri. Ini adalah salah satu fakta dari delapan fakta terbaru tentang pelukis Belanda tersebut.

Karya pelukis post-impressionist Vincent van Gogh telah sering dirayakan setelah kematiannya pada usia 37 pada 1890. Beberapa tahun terakhir, dua pemenang Academy Award film menampilkan karyanya, Lust for Life dan Midnight in Paris, meski seniman Belanda itu meninggal dengan mempercayai bahwa karyanya semasa hidupnya adalah sebuah kegagalan.

Legenda mengatakan bahwa artis itu hanya mampu menjual satu lukisan tunggal dalam hidupnya. Dia menjalani kehidupan diganggu oleh keraguan diri, dilumpuhkan oleh berbagai perilakunya.

Ketika Van Gogh menyelesaikan The Starry Night, yang bisa disebut karyanya terbaiknya, ia bahkan tidak berpikir itu ada gunanya. Namun, pada 1941, lukisan itu menjadi bagian dari koleksi permanen Museum of Modern Art di New York City. Pada 1973, sebuah museum di Amsterdam dibuka dengan komitmen utama sebagai rumah karya Van Gogh.

Huffington Post pekan lalu mengeluarkan artikel tentang delapan fakta yang jarang diketahui orang tentang pelukis yang karyanya dikategorikan termahal di dunia ini. Fakta-fakta tersebut adalah:

 Pertama, Vincent van Gogh menempatkan lilin menyala di topinya sehingga ia bisa melukis di malam hari.

Memang tidak pernah dipastikan Van Gogh melukis dengan lilin menyala di pinggiran topi jerami. Dalam satu surat kepada saudaranya, Theo van Gogh, ia menyebut lukisan Starry Night over the Rhone dicat di bawah terang lampu minyak tanah. Namun, cerita itu telanjur menyebar.

Dalam surat lain kepada saudaranya, Van Gogh menulis, “Sering, tampak bagi saya bahwa malam jauh lebih hidup dan kaya warna dibandingkan siang.” Jika cerita itu benar, Van Gogh akan mencari kafe di malam hari untuk melukis, mengenakan topi jerami lilinnya di samping pelanggan lain. Dalam sebuah surat kepada teman dan sesama artis Anthon van Rappard, Van Gogh menulis tentang dongeng di mana lilin melambangkan wanita dan ngengat melambangkan pria.

“Berdasarkan pandangan saya, pria tidak memainkan peran yang sangat mulia—tapi itulah yang sebenarnya terjadi. Ini tidak berlaku secara umum ... sebab apakah lilin terbakar demi ngengat? Jika seseorang tahu itu ... lalu mungkin juga ada baiknya jika melakukan bunuh diri dengan cara itu.

Kedua, meski dipercayai Vincent van Gogh bunuh diri, dia mungkin dibunuh.

Para penulis biografi pemenang hadiah Pulitzer Steven Naifeh dan Gregory White Smith merilis sebuah buku pada 2011, Van Gogh: The Life, yang menyatakan bahwa Van Gogh tidak bunuh diri melainkan remaja lokal membunuhnya. Sejarawan seni masih belum sepenuhnya mempercayai teori itu—Van Gogh Museum di Amsterdam masih menuliskan kematiannya sebagai bunuh diri— tapi Vanity Fair menerbitkan artikel di November 2014 yang menampilkan seorang ilmuwan forensik yang skeptis melihat kemungkinan van Gogh menembak diri sendiri. Sebab, sang artis tidak mampu memegang pistol begitu dekat dengan tubuhnya dan tidak adanya tanda luka bakar di tangannya.

Seperti yang ditunjukkan dalam buku Naifeh dan Smith, pistol tidak pernah ditemukan, kuda-kuda tempat meletakkan kanvas Van Gogh tidak pernah kembali. Dan, perjalanan Van Gogh yang diklaim ia lakukan dari ladang gandum ke penginapan, luar biasa panjang untuk seseorang dengan luka yang fatal—sekitar dua kilometer. Meskipun spekulatif, penulis juga membahas lukisan Van Gogh sekitar waktu kematiannya sebagai terlalu cerah secara emosional. Dan, Van Gogh menegaskan ia menentang bunuh diri di berbagai surat yang ia kirim.

Namun, ide bahwa Van Gogh bunuh diri memang datang langsung darinya sendiri, seperti di penginapan ia mengklaim bahwa ia ingin mati dan menolak bantuan medis. Ia berkata kepada saudaranya, “kesedihan akan berlangsung selamanya.”

 Ketiga, orang lain mungkin telah memotong telinga Vincent van Gogh.

Pertama, tidak seluruh telinga Van Gogh diputus. Hanya sebagian dari daun telinga kirinya terputus. Menurut sebuah laporan oleh Le Petit Journal, tiga hari setelah kejadian, Van Gogh sebenarnya memberikan bagian dari daun telinga untuk pelacur, tapi apakah dia memotong sendiri daun telinganya sangat dipertanyakan.

Van Gogh telah hidup dengan teman dan sesama artis Paul Gauguin pada saat kejadian. Gauguin adalah seorang pemain anggar yang mahir. Keduanya sering bertarung keras, dan malam daun telinga Van Gogh terpotong tidak terkecuali. Meskipun keduanya mengklaim bahwa Van Gogh telah memotong daun telinga sendiri, ini mungkin untuk menutupi rasa malu sang artis Belanda itu. Juga, Van Gogh mungkin memiliki kecenderungan untuk berbohong.

Untuk beberapa alasan, Van Gogh mengaku ia tidak ingat malam kejadian itu. Namun, ia menulis ke Theo, “Untungnya Gauguin ... belum dipersenjatai dengan senapan mesin dan senjata perang berbahaya lainnya.”

Keempat, Vincent van Gogh melukis The Starry Night sambil mengintip keluar jendela—sebagai pasien—Rumah Sakit Jiwa Saint-Paul di Saint-Rémy.

Pada Januari 1889, Van Gogh keluar dari rumah sakit di Arles menyusul insiden yang melukai telinga kirinya. Namun, ia merasa seolah-olah kesehatan mentalnya belum pulih dan beberapa bulan kemudian, pada  Mei, Van Gogh memeriksakan diri ke rumah sakit jiwa Saint-Paul. Seperti ditunjukkan Museum Van Gogh, Theo van Gogh menulis kepada saudaranya tak lama setelah itu:

“Sungguh menyakitkan untuk mengetahui bahwa kamu masih dalam keadaan kurang sehat. Meskipun suratmu tidak memperlihatkan kelemahan pikiran, sebaliknya, kenyataan bahwa kamu menilai perlu untuk masuk RSJ adalah hal yang cukup mengkhawatirkan. Kita berharap bahwa ini hanya tindakan pencegahan. Yang saya tahu, saya percaya kamu cukup mampu untuk menanggung semua pengorbanan. Saya berpikir, ada kemungkinan kamu mungkin telah memikirkan bahwa solusi ini justru membebani orang-orang yang kurang mengenalmu.”

Saat di rumah sakit jiwa, Van Gogh melukis banyak karya klasiknya, termasuk Irises, The Olive Tree, dan The Starry Night.

Van Gogh menyebut The Starry Night sebagai karya gagal. Dia menulis kepada saudaranya tentang lukisan-lukisan itu. Ia menulis akan mengirimkan beberapa. Theo berusaha menjual lukisan itu, tapi tidak laku. Van Gogh mencatat bahwa lukisan itu “tidak mengatakan apa-apa kepada saya”. Bahkan tidak ada “sekecil apa pun kebaikan di dalamnya,” tulisnya, seperti lukisan lain yang disebutkan dalam surat itu. Karena tidak cukup ongkos kirim untuk mengirim semua lukisan yang ia dimaksudkan, The Starry Night tertinggal di rumah sakit. (bersambung

Baca juga:


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home